alexametrics
27.8 C
Mojokerto
Wednesday, May 25, 2022

Dibangun di Daerah dengan Perekonomian Strategis

Keberadaan Pegadaian di Mojokerto

PER 1 April 2022, Pegadaian menapaki usia ke-121. Usia tersebut menandakan bahwa lembaga yang menawarkan jasa peminjaman uang dengan jaminan benda milik masyarakat itu, telah ada sejak era pemerintahan Hindia-Belanda. Di Mojokerto, keberadaan Pegadaian masih tetap eksis hingga saat ini. Bahkan, beberapa di antaranya masih tetap berkantor di gedung sejak awal pendirian.

Sejarawan Mojokerto Ayuhanafiq menceritakan, di masa kolonial, Pegadaian didirikan di daerah yang dinilai strategis. Khususnya dari sisi tingkat perekonomian. Sehingga, di Mojokerto hanya ada beberapa gedung Pegadaian yang dibangun. ”Tujuan Belanda mendirikan Pegadaian untuk memberi pinjaman uang tunai dengan menitipkan barang berharga sebagai jaminan,” terangnya.

Lembaga yang dulu dikenal dengan Pandhuizen itu ditempatkan di Kecamatan Mojosari, Kabupaten Mojokerto. Tepatnya berada di Jalan Masjid, Kelurahan Sarirejo. Di era Pemerintahan Belanda, Mojosari telah menjadi salah satu kawasan perniagaan yang tergolong pesat.
Itu tak lepas dari penunjukan Mojosari yang dijadikan sebagai titik Kampung Pecinan. Di mana, mayoritas penduduk dari keturunan Tionghoa bermata pencaharian sebagai pedagang. ”Sebagian besar berprofesi sebagai pedagang perantara dan juga tenaga kerja di pabrik gula,” tandasnya.

Baca Juga :  Kampung Kauman di Mojokerto, Pusat Keagamaan dan Rujukan Ramadan

Pasalnya, di awal abad ke-20, di Mojosari juga terdapat pabrik gula (PG) bernama Suikerfabriek Koning Willem II yang berdiri di Jalan Airlangga. Dengan adanya Pegadaian Mojosari, maka sirkulasi perekonomian semakin berkembang. ”Sebelum ada Pegadaian, masyarakat meminjam uang lewat perorangan dengan bunga yang tinggi,” terang pria yang akrab disapa Yuhan ini.

Belum diketahui pasti kapan rumah gadai Mojosari dibangun. Namun keberadaannya diperkirakan beriringan dengan Pegadaian Dlanggu yang dibangun 1912.

Dikatakan Yuhan, Dlanggu juga menjadi kawasan yang strategis di era pemerintahan kolonial. Karena lokasinya menjadi titik persimpangan perdagangan dari perusahaan besar di sekitarnya. Antara lain PG Ketanen di Kutorejo, PG Pohdjedjer, industri tekstil Kesono NV, serta onderneming atau perkebunan karet di Gondang.

Baca Juga :  Kobarkan Semangat Pejuang Pertahankan Kemerdekaan

Menurutnya, semua perusahaan tersebut terhubung dengan moda transportasi kereta api. Bahkan, terdapat halte lokomotif yang tepat di depan Pegadaian Dlanggu. ”Dengan posisi strategis itu, Pegadaian didirikan untuk melayani kebutuhan finansial,” imbuhnya.
Selain itu, Pegadaian juga didirikan di Jalan WR Supratman, Kota Mojokerto. Selain memberikan jasa peminjaman uang dengan sistem gadai, tujuan awal didirikannya Pandhuizen di Mojokerto juga untuk menghindari praktik sistem utang perorangan yang bunganya mencekik masyarakat. ”Karena banyak yang tidak mampu melunasi barang, sehingga barang berharga yang digadaikan beralih tangan ke pemberi pinjaman,” tandasnya. (ram/ron)

Keberadaan Pegadaian di Mojokerto

PER 1 April 2022, Pegadaian menapaki usia ke-121. Usia tersebut menandakan bahwa lembaga yang menawarkan jasa peminjaman uang dengan jaminan benda milik masyarakat itu, telah ada sejak era pemerintahan Hindia-Belanda. Di Mojokerto, keberadaan Pegadaian masih tetap eksis hingga saat ini. Bahkan, beberapa di antaranya masih tetap berkantor di gedung sejak awal pendirian.

Sejarawan Mojokerto Ayuhanafiq menceritakan, di masa kolonial, Pegadaian didirikan di daerah yang dinilai strategis. Khususnya dari sisi tingkat perekonomian. Sehingga, di Mojokerto hanya ada beberapa gedung Pegadaian yang dibangun. ”Tujuan Belanda mendirikan Pegadaian untuk memberi pinjaman uang tunai dengan menitipkan barang berharga sebagai jaminan,” terangnya.

Lembaga yang dulu dikenal dengan Pandhuizen itu ditempatkan di Kecamatan Mojosari, Kabupaten Mojokerto. Tepatnya berada di Jalan Masjid, Kelurahan Sarirejo. Di era Pemerintahan Belanda, Mojosari telah menjadi salah satu kawasan perniagaan yang tergolong pesat.
Itu tak lepas dari penunjukan Mojosari yang dijadikan sebagai titik Kampung Pecinan. Di mana, mayoritas penduduk dari keturunan Tionghoa bermata pencaharian sebagai pedagang. ”Sebagian besar berprofesi sebagai pedagang perantara dan juga tenaga kerja di pabrik gula,” tandasnya.

Baca Juga :  Layar Tancap Diputar di Desa-Desa

Pasalnya, di awal abad ke-20, di Mojosari juga terdapat pabrik gula (PG) bernama Suikerfabriek Koning Willem II yang berdiri di Jalan Airlangga. Dengan adanya Pegadaian Mojosari, maka sirkulasi perekonomian semakin berkembang. ”Sebelum ada Pegadaian, masyarakat meminjam uang lewat perorangan dengan bunga yang tinggi,” terang pria yang akrab disapa Yuhan ini.

Belum diketahui pasti kapan rumah gadai Mojosari dibangun. Namun keberadaannya diperkirakan beriringan dengan Pegadaian Dlanggu yang dibangun 1912.

- Advertisement -

Dikatakan Yuhan, Dlanggu juga menjadi kawasan yang strategis di era pemerintahan kolonial. Karena lokasinya menjadi titik persimpangan perdagangan dari perusahaan besar di sekitarnya. Antara lain PG Ketanen di Kutorejo, PG Pohdjedjer, industri tekstil Kesono NV, serta onderneming atau perkebunan karet di Gondang.

Baca Juga :  Alami Krisis Kepercayaan Masyarakat

Menurutnya, semua perusahaan tersebut terhubung dengan moda transportasi kereta api. Bahkan, terdapat halte lokomotif yang tepat di depan Pegadaian Dlanggu. ”Dengan posisi strategis itu, Pegadaian didirikan untuk melayani kebutuhan finansial,” imbuhnya.
Selain itu, Pegadaian juga didirikan di Jalan WR Supratman, Kota Mojokerto. Selain memberikan jasa peminjaman uang dengan sistem gadai, tujuan awal didirikannya Pandhuizen di Mojokerto juga untuk menghindari praktik sistem utang perorangan yang bunganya mencekik masyarakat. ”Karena banyak yang tidak mampu melunasi barang, sehingga barang berharga yang digadaikan beralih tangan ke pemberi pinjaman,” tandasnya. (ram/ron)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/