- Entrepreneur Muda Harus Tangguh dan Adaptif
- Mampu Mengubah Tantangan Menjadi Peluang
MOJOKERTO RAYA - Di tengah kebijakan efisiensi anggaran tahun 2026, sekor ekonomi kreatif (ekraf) diprediksi masih memiliki asa untuk tetap tumbuh dan berkembang. Bahkan, bidang usaha yang digeluti para pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) hingga entrepreneur muda ini berpotensi dalam memberi kontribusi bagi perekonomian daerah.
Ketua Umum Badan Pengurus Cabang Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (BPC HIPMI) Kota Mojokerto Megawati Citra Alam berpandangan, ekonomi kreatif merupakan sektor yang relatif tangguh dan adaptif. Jika dikelola secara tepat, maka geliat dunia wirausaha mampu tumbuh dan memberikan kontribusi nyata bagi perekonomian daerah. ”Efisiensi bukan berarti mempersempit ruang gerak, tetapi menjadi momentum untuk memperkuat daya saing pelaku usaha,” tegasnya, kemarin (20/1).
Di Kota Mojokerto, papar dia, ekonomi kreatif memiliki keunggulan lokal dan nilai budaya yang kuat. Sehingga sektor ini dinilai akan tetap mendapatkan ruang di pasar regional maupun global. Sebagai upaya mewujudkan itu, HIPMI fokus untuk memperkuat fondasi usaha agar pelaku ekonomi kreatif dapat tumbuh secara berkelanjutan.
Perempuan yang akrab disapa Mega ini menyatakan, pendekatan tidak hanya pada akses permodalan, tetapi juga pada peningkatan kapasitas pelaku usaha hingga akses pasar. ”Kami mendorong peningkatan literasi bisnis, pemanfaatan teknologi digital, serta penguatan jejaring dan kolaborasi lintas sektor,” ulasnya.
Mengingat, lanjut dia, sinergi antara pengusaha muda, pemerintah, dunia pendidikan, dan industri menjadi kunci agar potensi lokal bisa berkembang lebih luas. Di samping itu, HIPMI juga mendorong agar pelaku usaha untuk berorientasi pada pasar yang lebih besar. ”Tidak hanya lokal, tetapi juga nasional hingga global, dengan tetap membawa identitas dan keunikan daerah,” papar Mega.
Di tengah ketidakpastian ekonomi global, Mega optimistis setiap tantangan tidak akan menutup kesempatan. Melainkan justru bakal membuka peluang baru, terutama bagi pelaku ekonomi kreatif yang relatif lebih fleksibel dan inovatif.
Karenanya, HIPMI menyediakan wadah bagi pengusaha muda untuk bertumbuh dan saling belajar, berbagi pengalaman, sekaligus memperkuat mental kewirausahaan. Sebab, ujar Mega, optimisme tidak dibangun dari wacana semata, tetapi melalui tindakan nyata dan ekosistem yang benar-benar bekerja. ”Secara aplikatif, kami mendorong pengusaha untuk terus beradaptasi dengan perubahan. Seperti memanfaatkan digitalisasi, memperbaiki model bisnis, dan membaca kebutuhan pasar yang terus bergerak,” tandasnya.
Di antaranya melalui forum bisnis, mentoring, kolaborasi antaranggota, serta sinergi dengan pemerintah dan sektor swasta. Dengan begitu, kepercayaan diri para pelaku usaha dapat terus terjaga dan mampu bertahan sekaligus berkembang di tengah situasi yang dinamis. ”Harapannya, ekonomi kreatif ke depan tidak hanya menjadi sektor pendukung, tetapi berperan sebagai salah satu penggerak utama perekonomian daerah,” terang Mega.
Chief Marketing Officer Sunrise Mall Mojokerto Andiyanto Vino menambahkan, ekonomi kreatif masih berpotensi menjadi sektor yang relatif mandiri di tengah keterbatasan anggaran publik. Karena bidang usaha sifatnya berbasis kreativitas, inovasi, dan digitalisasi. ”Artinya, meski ada efisiensi anggaran, apabila mesin kreativitas dan konsep digitalisasi diterapkan, maka potensi ekraf ini akan tetep tumbuh,” tuturnya.
Dengan catatan, lanjut Vino, para entrepreneur menerapkan strategi yang tepat agar roda usaha tetap berjalan. Dia menyebut, salah satu pilar utama yang mampu menjaga ketahanan ekonomi adalah diversifikasi dan inovasi. ”Diversifikasi beberapa subsektor akan mengurangi ketergantungan pada satu segmen dan menjadikan ekosistem lebih tahan terhadap guncangan ekonomi. Ini akan membuat performa ekraf lebih resilient,” tukasnya.
Setidaknya hal itu dapat dibuktikan berdasarkan hasil riset sektor kreatif yang menunjukkan ketahanan tinggi meskipun ekonomi global bergejolak. Kondisi ini terwujud ketika pelaku usaha menerapkan inovasi, strategi diversifikasi, dan digitalisasi. ”Ketika kreativitas dipadukan dengan pemanfaatan teknologi, sektor ini justru tumbuh lebih dinamis di masa ketidakpastian,” papar dia.
Vino berharap, ke depan ekonomi kreatif bisa terus bertumbuh di tengah efisiensi budget dari pemerintah. Kuncinya dengan meningkatkan kreativitas dan literasi digital, agar tetap update dan relevan dengan perkembangan zaman. ”Sehingga setiap produk usaha punya value lebih untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat,” pungkasnya. (ram/ris)
Editor : Fendy Hermansyah