Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Tiga Korban Keracunan MBG di Kota Mojokerto Sempat Rawat Inap, Dinkes PPKB Sebut Masih Investigasi

Indah Oceananda • Selasa, 20 Januari 2026 | 05:00 WIB

 

DALAM PENELUSURAN: Kepala Dinkes PPKB Kota Mojokerto dr. Achmad Reza memberikan keterangan terkait jumlah korban terdampak dugaan keracunan di SDN Wates, Kecamatan Magersari, Senin (19/1).
DALAM PENELUSURAN: Kepala Dinkes PPKB Kota Mojokerto dr. Achmad Reza memberikan keterangan terkait jumlah korban terdampak dugaan keracunan di SDN Wates, Kecamatan Magersari, Senin (19/1).
 

Tiga Korban Sempat Rawat Inap, Dinkes PPKB Masih Investigasi

 SEMENTARA itu, empat siswa SDN Wates 5 dan 6 dinyatakan sebagai korban terdampak dari kasus dugaan keracunan MBG yang disuplai SPPG Wates, Kecamatan Magersari, kemarin (19/1). Dari 13 satuan pendidikan yang dinaungi SPPG tersebut, Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinkes PPKB) Kota Mojokerto menyatakan masih melakukan investigasi lanjutan. 

Kepala Dinkes PPKB Kota Mojokerto dr. Achmad Reza menyatakan, ke empat anak tersebut dinyatakan terdampak dugaan keracunan. Sebab, mereka sempat mengalami perawatan medis di rumah sakit. Rinciannya, lanjut dia, dua anak dirawat di Rumah Sakit (RS) Kamar Medika, satu anak di RS Emma, dan satu lainnya menjalani perawatan di RS Mitra Keluarga, Waru, Sidoarjo. ’’Nah, yang dirawat di RS Kamar Medika dan Emma ini tadi (kemarin, Red) informasinya sudah membaik, jadi sudah pulang. Tinggal satu yang di RS Mitra Keluarga yang masih menjalani perawatan,’’ katanya. 

Reza mengungkapkan, ke empat anak ini masih berusia 9 tahun. Tiga anak dari SDN Wates 5, dan satu anak lainnya dari SDN Wates 6. ’’Mereka memang mengalami gejala mual, muntah, kemudian berikutnya diare. Mereka masuk ke RS itu ada yang Kamis (15/1) dan Jumat (16/1), dan kita baru dapat laporan Minggu (18/1). Setelah mereka melaporkan ke kami,’’ paparnya. 

Meski demikian, Reza mengaku sejauh ini belum ada laporan terbaru dari anak-anak lain yang juga mengalami kasus dugaan keracunan. Sehingga pihaknya belum bisa mengetahui jumlah total siswa yang merasakan gejala serupa. ’’Kami juga sudah menelisik dan memantau ke masing-masing sekolah, sekolah juga masih dalam tahap pendataan karena kejadiannya sejak Kamis (15/1). Yang masuk di kami ini, baru data yang diopname saja,’’ bebernya. 

Terkait hasil diagnosa dari ke empat siswa yang sempat dirawat inap, Reza menegaskan, pihaknya belum mendapatkan hasil pemeriksaan dari rumah sakit terkait. Bahkan, ia mengaku kesulitan untuk mengecek dugaan penyebab dari gejala keracunan yang dialami siswa. ’’Kita masih melakukan investigasi kalau memang ini keracunan, dan kita masih cari data barangkali ada sisa makanan dari Kamis itu yang bisa dijadikan sampel pemeriksaan,’’ ulas dia. 

Reza menambahkan, dinkes PPKB juga telah mendatangi SPPG Wates untuk memeriksa lebih lanjut. Memang, lanjut dia, Kamis (15/1) lalu, SPPG tersebut menyediakan dua jenis menu MBG untuk didistribusikan ke sekolah penerima manfaat. 

’’Ada dua jenis menu. Yang satu menu basah, untuk dimakan hari itu juga (Kamis, Red), yang satu menu kering itu untuk menu besoknya (Jumat, Red) dan dibawa pulang anak-anak karena Jumat libur,’’ imbuhnya. Disinggung terkait menu susu yang disajikan kepada siswa, Reza menuturkan, menu tersebut juga masih dalam pemeriksaan. Sebab, bisa jadi susu kemasan ini melebihi masa expired. ’’Tapi, kita masih mengecek lagi,’’ bebernya.  

Dugaan keracunan MBG akhir pekan lalu itu rupanya juga didengar kalangan DPRD Kota Mojokerto. Sekretaris Komisi III DPRD Rambo Garudo menyatakan, dirinya mendengar kabar tersebut dari beberapa warga. Hingga kemarin anggota Komisi III yang antara lain membidangi pendidikan ini masih melakukan penelusuran. 

Anggota Komisi III lainnya, Nuryono Sugi Raharjo, menambahkan, pihaknya telah melakukan klarifiksi terhadap sejumlah lembaga pendidikan terkait kasus dugaan keracunan MBG dan ke dinkes PPKB. Hasilnya, melalui edaran pesan WhatsApp (WA) kepada para penerima manfaat, SPPG Wates menyatakan terdapat kendala teknis pada peralatan pengolahan makanan, sehingga MBG yang dibagikan kemarin dialihkan ke menu kering. 

”Secara tidak langsung berarti SPPG mengakui ada masalah sebelumnya, tapi kami tidak bisa menyebut itu keracunan atau apa,” ucap Bejo, sapaan karibnya, kemarin. Di sisi lain, dirinya meminta pemkot bergerak cepat melakukan langkah antisipasi dan meningkatkan pengawasan agar tak sampai muncul kasus keracunan massal seperti di Kutorejo dan Mojosari, Kabupaten Mojokerto, pekan lalu. ”Jangan sampai kejadian di Kutorejo terulang, jadi harus benar-benar diawasi,” tandasnya. (oce/adi/ris)

 

 

 

Editor : Fendy Hermansyah
#Pemkot Mojokerto #keracunan mbg #MBG Basi #keracunan massal #mbg mojokerto