Debit air yang meningkat ke area persawahan hingga membuat satu titik tanggul jebol. Beruntung banjir luapan tidak sampai menggenangi rumah warga.
Banjir luapan tersebut dilaporkan terjadi di Desa Salen, Kecamatan Bangsal dan Desa Jotangan, Kecamatan Mojosari, di waktu yang hampir bersamaan.
Di Desa Salen, air mulai menggenangi area persawahan dan ruas jalan desa di Dusun Semanggi dan Salen saat dini hari.
”Mulai banjir itu sekitar pukul 01.00 (Senin, 5/2). Banjirnya ke sawah sama jalan,” terang Akhmad Sarifudin, warga setempat.
Dikatakannya, air meluap saat hujan mengguyur. Hal ini turut membuat salah satu titik tanggul sungai seluas 2x2 meter persegi di Dusun Dadapan jebol tergerus banjir.
Intensitas hujan tinggi yang terjadi sejak Minggu (4/2) petang disinyalir jadi penyebabnya.
”Dari Minggu (4/2) sore sampai tadi Subuh hujan terus. Mungkin karena debit air sungai tinggi, tanggulnya tergerus sampai jebol,” sebutnya.
Akibatnya, ruas jalan di Dusun Semanggi dan Salen tergenang banjir setinggi 20 sentimeter (cm). Berikut puluhan hektare sawah yang baru ditanami padi.
Kendati begitu, genangan banjir tidak sampai masuk ke rumah warga. Senin (5/2) siang, genangan banjir berangsur surut.
Sementara itu, BPBD Kabupaten Mojokerto mencatat, sedikitnya sawah seluas 56 hektare di Desa Salen terdampak banjir luapan. Padi usia sepekan yang baru ditanami rusak diterjang banjir.
”Untuk penanganan kedaruratan di Desa Salen, kami serahkan bantuan 500 lembar karung dan 30 buah gedek ukuran 3x2 meter. Ini untuk menanggulangi kondisi tanggul yang kritis akibat tergerus banjir,” ujar Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Mojokerto Abdul Khakim, terpisah.
Hal serupa dialami warga Desa Jotangan, Kecamatan Mojosari. Banjir dilaporkan menggenangi area persawahan dan ruas jalan di Dusun Gembongan sejak pukul 02.00 Senin (5/2).
Seluas 17 hektare sawah yang baru ditanami padi usia sepekan rusak digenangi banjir. Air menggenangi jalan desa setinggi 20 cm.
”Genangan banjir di Desa Jotangan karena air afvour meluap. Tidak ada tanggul yang jebol,” sebutnya.
Untuk menanggulangi banjir, satu unit pompa air kapasitas 600 liter/detik yang terpasang di desa diaktifkan. Senin (5/2) siang, genangan air di Desa Jotangan berangsur surut.
”Jadi aliran air dari permukiman dan afvour kita alihkan ke Sungai Sadar. Pompa kita aktifkan sampai banjir benar-benar surut,” urai Khakim.
Menurutnya, banjir luapan di dua desa dan kecamatan ini terjadi akibat tingginya intensitas hujan.
Hingga, badan sungai tak mampu menampung tingginya debit air dari wilayah hulu.
”Debit air sungai meningkat drastis karena hujan intensitas lebat terjadi dalam durasi yang lama. Faktor cuaca ini sesuai dengan prakiraan BMKG. Dan dua lokasi ini juga memang langganan banjir tahunan,” tandasnya. (vad/ron)
Editor : Fendy Hermansyah