Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Lahan Hutan Produktif KPH Mojokerto Berkurang, Perhutani Kembangkan Jadi Area Wisata

Farisma Romawan • Jumat, 5 Januari 2024 | 19:50 WIB

PETANI HUTAN: Petani menanam padi di antara pohon kayu putih di hutan Dawarblandong kemarin.
PETANI HUTAN: Petani menanam padi di antara pohon kayu putih di hutan Dawarblandong kemarin.
KABUPATEN, Jawa Pos Radar Mojokerto – Luasan hutan produktif yang dikelola Perum Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Mojokerto dari tahun ke tahun kian menipis.

Dari tahun lalu yang berada di angka 31 ribu hektar, kini berkurang 8 ribu hektar.

Atau, menjadi 23 ribu hektar yang tersebar di kawasan utara sungai, sebagian Jombang dan Lamongan.

Selain peralihan menjadi Kawasan Hutan Dengan Pengelolaan Khusus (KHDPK), pengurangan ini juga karena adanya pengembangan hutan menjadi area wisata.

Hal ini yang diakui Perhutani justru menjadi langkah efektif dalam menggenjot kinerjanya dalam memenuhi target pendapatan setiap tahunnya.

Bahkan, Perhutani KPH Mojokerto tahun 2023 kemarin berhasil meraup omzet dari mengelola sumberdaya hutan sebesar Rp 15 miliar.

Atau, surplus Rp 8 miliar dari target awal 2023 lalu yang hanya sebesar Rp 7 miliar. Produksi kayu putih masih menjadi tumpuan utama Perhutani dalam memanfaatkan hutan produktifnya.

’’Tapi pendapatan itu kan ada yang bentuknya kas bank, inventory atau persediaan. Dan persediaan itu yang masih menjadi pertimbangan karena jumlahnya yang masih banyak,’’ ujar Adm Perum Perhutani KPH Mojokerto, Andi Adrian Hidayat usai kick off Kinerja KPH Mojokerto di wisata Bukit Kayoe Putih kemarin.

Meski begitu, Adrian mengaku masih banyak potensi hutan yang bisa ia manfaatkan dan kembangkan.

Salah satunya lewat program jasa lingkungan berbentuk wisata, rest area hingga kreativitas lainnya.

Nah, program inilah yang terus ia perluas dengan menggandeng sejumlah pihak. Termasuk dengan Pemkab Mojokerto lewat kerja sama pengelolaan hutan menjadi area wana wisata.

’’Harapan saya dengan Bupati Mojokerto untuk bagaimana caranya utara sungai ini punya wisata yang bisa dikembangkan, salah satunya adalah kawasan hutan. Dan kami ini bukan ahlinya, siapapun bisa mengontak kami untuk kerja sama,’’ tandasnya.

Adrian lantas mencontohkan wisata Bukit Kayoe Putih di Desa Kupang, Kecamatan Jetis yang mampu menyumbang pendapatan hingga Rp 2 miliar.

Meski baru berusia dua tahun, namun area seluas 2,5 hektar ini mampu disulap menjadi area yang menarik bagi wisatawan.

Wisata ini merupakan kerjasama tiga elemen mulai dari swasta yakni CV. Mitra Wisata Abadi, Komisi Pemangkuan Hutan (KPH) Mojokerto, serta Lembaga masyarakat Desa Hutan (LMDH) Watublorok.

’’Ini (Wisata Bukit Kayoe Putih, Red) sebenarnya adalah statusnya masih wisata rintisan. Dan targetnya tahun ini menjadi wana wisata,’’ pungkasnya. (far/fen)

Editor : Fendy Hermansyah
#hutan #berkurang #perhutani #mojokerto