Pasalnya, Dishub Jatim masih harus mempertimbangkan kelayakan rute berdasarkan hasil uji kelayakan yang tengah berjalan tersebut.
Di dua koridor itu yakni rute Mojokerto-Lamongan via Kemlagi dan Mantup serta Mojokerto-Porong, Sidoarjo.
Meski dua rute yang sudah beroperasi sebelumnya mendapat sambutan positif dari masyarakat, hal itu belum bisa dijadikan dasar untuk mengoperasikan rute baru Trans Jatim.
Utamanya yang menghubungkan Mojokerto dengan dua daerah tetangga, yakni Lamongan dan Sidoarjo atau Pasuruan.
’’Kan harus ada feasibility study dulu. Analisis dan uji kelayakan di dua rute baru harus dijalani dulu sebelum menerbitkan rekomendasi trayek baru,’’ ujar Kepala Dinas Perumahan Rakyat, Kawasan Permukiman, dan Perhubungan (DPRKP2) Kabupaten Mojokerto Rakhmat Suharyono kemarin.
Rakhmat mengakui, berdasarkan koordinasinya dengan Dishub Jatim, penambahan trayek baru Trans Jatim saat ini lebih difokuskan pada jalur Gresik-Lamongan.
Pemprov lebih mengupayakan realisasi rute bus yang menyambungkan dua daerah tersebut lantaran kebutuhannya yang tinggi.
Bahkan studi kelayakannya sudah dikantongi sehingga tinggal menyiapkan armada bus sebagai sarana operasionalnya.
’’Informasi terakhir, feasibility study Gresik-Lamongan sudah keluar. Saat ini provinsi (Dishub Jatim) lebih dikonsentrasikan untuk rute baru itu,’’ ungkapnya.
Pihaknya juga belum mengetahui kapan studi kelayakan dua jalur yang ia usulkan itu resmi digelar.
Hingga saat ini pemkab masih menunggu koordinasi selanjutnya baik lewat forum group discussion (FGD) maupun perintah langsung.
’’Mungkin setelah rute Gresik-Lamongan terealisasi. Kami sifatnya menunggu koordinasi,’’ tandasnya.
Sebelumnya, bus Trans Jatim koridor II rute Mojokerto-Sidoarjo dan koridor III rute Mojokerto-Gresik mendapat respons positif dari masyarakat.
Terbukti, animo masyarakat yang memanfaatkan moda transportasi ini sangat tinggi.
Khususnya rute Mojokerto-Gresik yang mampu mencatatkan hingga 69 ribu lebih penumpang selama dua pekan beroperasi.
Selain nyaman dan aman, Trans Jatim ini juga ramah dikantong. Dengan merogoh koceh Rp 5 ribu untuk masyarakat umum dan Rp 2,5 ribu untuk pelajar dan santri sudah bisa berkeliling ke sejumlah daerah. (far/ron)
Editor : Fendy Hermansyah