Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Marak Hama Kutu Daun, Cabai di Mojokerto Lambat Berbuah

Fendy Hermansyah • Senin, 16 Januari 2023 | 18:12 WIB
PANEN RAYA: Petani di Dusun Manyarsari, Desa Gunungsari, Kecamatan Dawarblandong, sedang memetik cabai. (dok JPRM)
PANEN RAYA: Petani di Dusun Manyarsari, Desa Gunungsari, Kecamatan Dawarblandong, sedang memetik cabai. (dok JPRM)
Hama Petek Juga Bikin Waswas

KABUPATEN, Jawa Pos Radar Mojokerto – Serangan hama tak henti-hentinya membuat petani cabai pusing. Di samping maraknya penyakit kutu daun yang membuat hasil panen tak maksimal, mereka juga waswas dengan gangguan hama petek. Penyakit tersebut berpotensi merugikan petani karena merusak buah cabai.

Panen cabai berlangsung sejak beberapa minggu terakhir. Petani cabai di wilayah utara Sungai Brantas, khususnya Kecamatan Dawarblandong, sudah memasuki masa petik kedua dan ketiga. Namun, di awal musim panen ini, petani banyak menikmati hasil. Penyebabnya, marak tanaman yang terlambat berbuah lantaran terserang penyakit kutu daun.

Petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tanaman (POPT) Kecamatan Dawarblandong dan Jetis Fathur Rohman menjelaskan, serangan penyakit kutu daun masif di dua kecamatan wilayahnya. Penyakit tersebut membuat pertumbuhan tanaman cabai terhambat. ”Itu hampir terjadi merata di Kecamatan Dawarblandong dan Jetis,” tuturnya.

Menurut Fathur, selain menghadapi penyakit kutu daun, petani juga waswas dengan keberadaan hama petek. Penyakit yang membuat buah cabai busuk dan mengering ini kerap terjadi saat masa panen raya. ”Kalau sekarang hama kutu daun ini, nanti biasanya bulan Februari akhir itu muncul petek,” jelasnya.

Hama petek, lanjut Fathur biasanya menyasar tanaman cabai yang sudah tua. Kekebalan tanaman cabai seiring umur membuat kondisinya rentan terjangkit penyakit petek. Serangan hama tersebut mengakibatkan buah rusak sehingga merugikan petani. ”Saat fisik tanaman cabai sudah tua dan kekebalannya berkurang, akhirnya bakteri-bakteri masuk dan terinfeksi,” tandas dia.

Antisipasi terhadap penyakit petek dilakukan dengan penyemprotan pestisida. Selain dengan obat kimia, penanganan juga banyak menggunakan ramuan tradisional racikan petani. Pengobatan tersebut berlaku untuk menangani serangan hama bulu yang sekarang sedang masif sekaligus mencegah hama petek. ”Penyemprotan bisa sampai tiga kali sehari, intensitasnya menyesuaikan tingkat pertumbuhan penyakitnya,” ujarnya. (adi/ron)

Editor : Fendy Hermansyah
#tol mojokerto #kabupaten mojokerto #Majapahit #mojokerto kota #kota onde-onde #pacet mojokerto #cabai #kerajaan majapahit #wisata mojokerto #Kota Mojokerto #cabai mojokerto #mojokerto #soekarno #onde-onde