Belum berakhirnya pandemi membuat perayaan Tahun Baru Imlek harus menyesuaikan. Pengurus kelenteng di Kota maupun Kabupaten Mojokerto terpaksa meniadakan berbagai tradisi.
Di Tempat Ibadah Tri Dharma (TITD) Hok Sian Kiong Kota Mojokerto, ritual keagamaan digelar secara terbatas. Sembahyang bersama di malam pergantian tahun pun hanya digelar secara daring.
Wakil Ketua TITD Hok Sian Kiong Kota Mojokerto Gede Sidharta menjelaskan, pembatasan perayaan Imlek tidak lepas karena pandemi Covid-19 yang belum beranjak di Kota Mojokerto. Karena itu, momentum pergantian tahun baru tadi malam, umat Tri Dharma diimbau tetap berada di rumah. ’’Sembahyang bersama keluarga saja di rumah,’’ terangnya.
Sedianya, kelenteng tertua di Mojokerto ini tetap menggelar sembahyang di malam pergantian tahun Imlek tadi malam. Namun, ritual yang biasanya diikuti ratusan jemaat, kali ini dibatasi hanya 10-15 orang.
Meski demikian, warga Tionghoa bisa bergabung secara jarak jauh. Sebab, kegiatan peribadatan itu dilakukan secara virtual melalui daring. ’’Jadi, sembahyang malam tahun baru tetap ada, tapi maksimum 15 orang saja,’’ bebernya.
Meski digelar terbatas, hal itu tak mengurangi kekhidmatan Tahun Baru Imlek. Mengingat, kelenteng yang berada di Jalan PB Sudirman, Kota Mojokerto, ini tampak tetap bersolek dengan hiasan lampion. Di dalamnya juga menyala lilin-lilin ukuran jumbo yang dikirim dari umat Tri Dharma.
Selain ritual peribadatan, tradisi-tradisi Imlek lainnya juga turut ditiadakan di masa pandemi ini. Salah satunya adalah berkunjung ke rumah keluarga dan saudara yang dituakan. ’’Biasanya kan ke rumah orang tua dan saudara, sekarang tidak boleh. Karena imbauan dari kelenteng pusat tetap di rumah sendiri-sendiri semua,’’ tandasnya.
Sehingga, imbuh Gede, kegiatan berkumpul keluarga besar untuk sementara waktu harus ditunda. Padahal, tradisi kunjungan tersebut biasanya diikuti dengan makan bersama sajian makanan khas Imlek. Mulai dari kue keranjang, kue mangkuk, kue ku, hingga kue wajik.
Tradisi yang juga berpotensi hilang adalah pemberian angpao. Bingkisan yang terbungkus amplop merah itu biasanya diberikan secara langsung sebagai hadiah Imlek. ’’Biasanya bagi angpao saat berkunjung. Tapi karena tidak ada kunjungan ke rumah keluarga, angpao ya dikirim transfer gitu aja,’’ bebernya.
Tak hanya itu, sejumlah ritual dan tradisi yang biasanya digelar dalam menyambut Imlek juga lebih dulu ditiadakan. Kegiatan menyucikan rupang di dalam TITD Hok Sian Kiong juga tidak dilaksanakan tahun ini. Ritual membersihkan patung-patung dewa tersebut rutin dilaksanakan sepekan menjelang Imlek.
Demikian dengan pertunjukan seni dan budaya khas Tionghoa seperti barongsai dan liang-liong yang juga tidak dihelat seperti tahun-tahun sebelumnya. Termasuk kegiatan bakti sosial (baksos) yang juga harus ditunda pelaksanaannya.
Editor : Imron Arlado