25.8 C
Mojokerto
Thursday, February 2, 2023

Sugiono, Mantan Preman yang Kini Terjun Jadi Petani

BAGI Sugiono, menjadi pemuda pembangun bangsa bisa dimulai dengan hal sederhana. Yakni mengubah diri sendiri melalui hal positif yang bermanfaat. Pemuda asal Dusun/Desa Penanggungan, Kecamatan Trawas, itu membuktikannya dengan konsisten menggeluti pertanian organik. Seiring melepas masa lalunya yang hitam. Dunia yang identik dengan kejahatan.

Nono, sapaan akrabnya, mulai tergerak mendalami dunia pertanian sejak pulang kampung sekitar 2017 silam. Setelah pemuda 31 tahun itu kembali dari perantauannya di Kabupaten Sidoarjo. Di Kota Udang, ia sempat menjadi mekanik salah satu penyedia layanan internet dan TV kabel. Sayangnya, selama di perantauannya itu, Nono terjerembab di dunia peredaran narkotika.

”Sebelum bertani ini, waktu masih di Sidoarjo, memang sudah kerja jadi mekanik di jasa internet itu. Tapi nggak pernah ada hasilnya, habis buat narkoba. Ya makai, ya pengedar,” ungkapnya mengenang masa lalu. Bahkan, anak pertama dari dua bersaudara itu mengaku, sempat menjadi preman di GOR Sidoarjo saat awal merantau. Tak lain, untuk menyambung hidup di perantauan.

”Sebelum kerja (jadi mekanik) itu pernah jadi tukang parkir di GOR Sidoarjo. Kerja apapun gajinya kurang terus, wong waktu itu main narkoba. Memang waktu itu saya merantau ikut teman-teman komunitas vespa gembel. Jadinya ya begitu,” bebernya. Sadar akan hal buruk yang tidak bermanfaat itu, Nono memutuskan pulang kampung. Hingga ia tergabung dalam karang taruna Desa Penanggungan dan mengenal Komunitas Pertanian Organik Brenjonk.

Baca Juga :  Mabuk di Jalan, Dua Pemuda di Kota Mojokerto Ditangkap

Nono menilai perkenalannya dengan dunia pertanian organik yang sarat manfaat itu sebagai sebuah kesempatan untuk melangkah lebih baik. Terlebih, orang tuanya juga menggeluti pertanian sebagai buruh tani. ”Waktu itu saya mikirnya apa dan kapan lagi (untuk benar-benar berubah) kalau tidak sekarang. Apalagi pertanian ini banyak sekali (sisi) kemanfaatannya,” aku Nono.

Minatnya akan dunia pertanian organik saat itu sempat dipendam lantaran tak memiliki lahan. Hingga Nono mendapat kesempatan dipercaya menggarap lahan milik salah satu pendiri Kampung Organik Brenjonk. Kini ia juga dipercaya mengelola rumah pembibitan. Sekaligus mendampingi tamu dan mahasiswa yang tengah studi atau praktik lapangan. ”Akhirnya, sampai sekarang saya yang garap. Yang jatah saya itu ukuran 2m x 15m. Tapi karena beberapa ada lahan yang nggak digarap, akhirnya ya saya yang garap,” sebutnya.

Sejumlah lahan tersebut ditanaminya dengan berbagai macam sayur dan buah. Mulai sawi, tomat, hingga bit. Itu semua ditanamannya dengan sistem tunnel. Sistem pertanian yang memanfaatkan ruang di bawah terowongan berbahan plastik bening tebal. Sekali panen, Nono meraup keuntungan bersih sekitar Rp 500 ribu hingga Rp 1 juta. Menyesuaikan jenis tanaman yang ada. ”Saya selang-seling nanamnya, biar panennya rutin selama sebulan,” paparnya.

Baca Juga :  Pemandian Sekarsari Digerojok Rp 6 Miliar

Dari situ jiwa wirausahanya tumbuh. Nono juga dipercaya mengelola kedai kopi di Gubug Refugia, pujasera di tengah wisata Taman Refugia Desa Penanggungan. Lantaran bakatnya sebagai barista kian terasah seusai menimba ilmu di sejumlah cafe kenamaan di Kabupaten Mojokerto. Tak berhenti di situ, dengan menyisihkan sejumlah penghasilannya, Nono turut membuka kedai kopi sederhana di rumahnya. ”Alhamdulillah hasilnya (bertani) bisa dikelola buat usaha. Juga buat biaya ibu dan adik,” sebutnya.

Meski begitu, Nono tak lupa akan tujuan awalnya bertani. Kini, ia tengah berupaya memiliki lahan pribadi untuk dikelola sebagai pertanian organik. ”Jelas ingin juga beli lahan buat dipakai sendiri. Selama ini kan masih numpang, ini masih nabung dulu,” tandas pria rambut gondrong itu. (vad/ron)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/