25.8 C
Mojokerto
Thursday, February 2, 2023

Tahun Ajaran Baru, Hanya Andalkan Pendapatan Permak

MOJOKERTO – Dimulainya tahun ajaran baru bukan berarti memberikan rezeki melimpah bagi para penjahit manual di Pasar Tanjung Anyar, Kota Mojokerto. Belum adanya kejelasan soal pembagian kain seragam gratis yang dicanangkan Pemkot Mojokerto berdampak pada penghasilan penyedia jasa pembuatan pakaian ini.

Hari pertama masuk sekolah bisa jadi adalah pemandangan menarik yang biasa terjadi di setiap daerah. Tak terkecuali di Kota Mojokerto. Orang tua berbondong-bondong mengantarkan anaknya demi mendapatkan ilmu sebagai bekal masa depan.

Tak jarang orang tua mati-matian mempersiapkan segala perlengkapan sekolah sang buah hati agar tidak ketinggalan pelajaran. Termasuk seragam sekolah yang biasanya terlihat baru di tahun ajaran baru. Fenomena tersebut biasanya dimanfaatkan sejumlah pedagang dan usaha jasa lain dengan menyediakan perlengkapan sekolah demi mendapatkan pundi-pundi rezeki. Tak jarang, jutaan rupiah mampu didapat di setiap kali musim hari pertama sekolah tiba.

Akan tetapi, fenomena tersebut tahun ini tak berlaku bagi para penyedia jasa jahit pakaian di los jahit Pasar Tanjung Anyar, Kota Mojokerto. Pasalnya, order jahitan seragam yang biasa menumpuk hingga beberapa hari, kali ini justru sepi tak bertepi. Berkurangnya order itu tak lain lantaran tak kunjung terwujudnya program pembagian seragam gratis yang dicanangkan Pemkot Mojokerto.

Baca Juga :  Awalnya Iseng, Jari Bocil malah Tersangkut Ring Besi selama Empat Jam

Pernyataan itu dibenarkan Efendi, 54, penjahit senior yang biasa mangkal di los jahit Pasar Tanjung. Efendi mengaku orderan jahitan seragam tak seramai tahun sebelum-sebelumnya. Bahkan, pria asli Desa Plosogede, Kecamatan Mojoanyar, Kabupaten Mojokerto ini mempresentasekan, pengurangan order jahit seragam sekolah tahun bisa mencapai 70 persen jika dibanding tahun lalu.

’’Nggak kayak tahun kemarin (2016, Red). Mulai pendaftaran sampai saat ini saja saya hanya bisa jahit enam setel seragam. Padahal, tahun-tahun kemarin saya bisa sampai mennolak karena order jahitan bisa sampai 18 hingga 20 setel seragam dalam sebulan masa libur sekolah,’’ terang bapak tiga anak ini.

Pengurangan order ini jelas berdampak pada penghasilan yang diraup setiap penjahit. Betapa tidak, jika musim sebelumnya satu penjahit bisa meraup sampai Rp 2,5 juta sampai Rp 3 juta, kali ini justru kurang dari seperempatnya. Padahal, Efendi sudah menurunkan harga pasaran jasa jahitannya sebesar 20 persen. Dari yang sebelumnya Rp 120 ribu untuk satu setel seragam, penurunan bisa sampai Rp 100 ribu per setel seragam.

Baca Juga :  Poerwono Menilai Mental Atlet Sekarang Mudah Rapuh

’’Paling kalau ditotal cuman dapat Rp 500 ribu. Itupun ditambah sama orderan permak seragam. Biasanya pas liburan kayak kemarin sudah banyak orang yang wira-wiri bawa kain seragam, tapi tahun ini sangat sepi,’’ ungkap pria yang menggeluti jasa jahit sejak usia 13 tahun ini.

Ungkapan yang sama dilontarkan Mahfud, 42, penjahit lain yang tiga tahun bergelut di dunia jasa jahit dan permak pakaian. Dari tiga tahun mangkal, baru di tahun ini warga Desa Kauman, Kecamatan Bangsal tersebut mengalami paceklik order. Bahkan, untuk bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari pria yang sebelumnya menggeluti dunia jual beli motor dan mobil ini cukup mengencangkan ikat pinggangnya.

Salah satunya dengan mengandalkan jasa permak segala jenis pakaian. Padahal, jika orderan ramai, dia bisa saja menolak order permak yang hanya bisa mendapatkan uang antara Rp 5 ribu hingga Rp 10 ribu per pakaian. ’’Kalau kondisinya seperti ini, satu hari hanya bisa dapat Rp 30 ribu. Kalau pas ramai order jahitan seragam kan uangnya bisa disimpan untuk tabungan,’’ pungkasnya. 

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/