25.8 C
Mojokerto
Thursday, February 2, 2023

Terminal Beroperasi, Penumpang Masih Sepi

KOTA, Jawa Pos Radar Mojokerto – Terminal Kertajaya Kota Mojokerto kembali beroperasi pasca pembatasan sosial berskala besar (PSBB) di beberapa daerah di Jawa Timur (Jatim) tidak diperpanjang. Sejumlah bus antarkota antarprovinsi (AKAP) maupun antarkota dalam provinsi (AKDP) tampak keluar dan masuk terminal. Namun, sejauh ini belum menunjukkan adanya lonjakan penumpang.

Kepala UPT LLAJ Dishub Jatim Yoyok Kristyowahono, mengatakan, sejak beberapa hari sejumlah bus memang sudah mulai berorasi. Baik AKDP maupun AKAP. Namun, belum seluruhnya transportasi umum tersebut beroperasi. ’’Beroperasinya sejak Selasa (9/6) lalu,’’ ungkapnya, kemarin.

Belum ada lonjakan signifikan. Situasi ini seiring meningkatnya kesadaran masyarakat terkait penanganan pandemi Covid-19. Jika normal, penumpang di terminal sampai 80 sampai 90 persen, sekarang tidak lebih dari 20-30 persen. Rata-rata didominasi oleh penumpang yang menuju Surabaya. ’’Biasanya pagi. Tapi, mereka ke Surabaya itu tidak berwisata atau belanja, melainkan kerja,’’ tandasnya.

Baca Juga :  Penyekatan Perbatasan Diperpanjang hingga Akhir Bulan

Beroperasinya trasporatasi umum, lanjut Yoyok, bukan berarti bebas keluar masuk seperti sebelumnya. Baik penumpang maupun armada bus harus tetap menerapkan protokol kesehatan sesuai aturan pemerintah. Wajib mengenakan masker, misalnya. Keharusan itu berlaku bagi semua penumpang, sopir, kernet, serta kondektur bus. ’’Khusus untuk kondektur wajib ditambah memakai pelindung wajah dan sarung tangan, karena kondektur kontak langsung dengan para penumpang sekaligus memegang uang,’’ tegasnya.

Aturan tersebut tak lain demi mencegah persebaran Covid-19 yang kian masif di Jatim. Tak hanya itu, pembatasan penumpang juga diterapkan, yakni 50 persen dari kuota. Artinya, jika normalnya 60 penumpang untuk bus besar, kini dibatasi sampai 50 persen. ’’Tapi, sebagai tahap awal, penumpang yang dibawa saat ini harus tidak lebih dari 25-30 persen untuk menghindari berjubel,’’ terangnya.

Baca Juga :  Presiden Ingatkan Pandemi Belum Covid-19 Berakhir

Berbeda dengan trasportasi lain, kata Yoyok, meski di terminal dilakukan penerapan protokol kesehatan, penumpang yang masuk terminal tak diwajibkan membawa surat hasil rapid test. Selain tak ada regulasi, kondisi tersebut dinilai akan membebankan masyarakat. Utamanya, bagi masyarakat ekonomi ke bawah. Sebab, rapid test mandiri harus menggunakan biaya minimal Rp 250 ribu. ’’Itu pun hanya berlaku tiga hari saja. Mampu tidak masyarakat mengeluarkan uang Rp 250 ribu untuk rapid test, untuk reguler juga belum ada aturan,’’ tegasnya. Hanya, keterangan surat sehat ini diwajibkan dipatuhi oleh kru armada AKAP maupun AKDP.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/