24.8 C
Mojokerto
Wednesday, March 22, 2023

Berakar Kebijaksanaan dan Kejernihan Jiwa

Pencak silat bukan sekadar sarana untuk gagah-gagahan. Lebih dari itu, akar seni bela diri tradisional ini merupakan lelaku untuk mencapai kebijaksanaan dan kejernihan jiwa. Filosofi hidup yang seyogyanya menjadi pegangan setiap pendekar.

Demikian disampaikan Imam Kuncoro, pendekar sekaligus pelatih perguruan silat di Mojokerto Raya. Kiranya tidak lancang jika mengatakan sosoknya sebagai salah satu sesepuh pencak silat di Mojokerto Raya. Pria 53 tahun tersebut sudah makan asam garap dunia pesilatan sejak belia.

Selama 32 tahun yang lalu dia memulai perjalananya sebagai atlet pencak silat tingkat nasional. Saat itu, pria yang kini tinggal di Kelurahan Meri, Kecamatan Kranggan, Kota Mojokerto ini menyabet juara tingkat provinsi Jawa Timur (Jatim) untuk persiapan PON XII Jakarta tahun 1989. Prestasi itu disusul dengan berbagai capaian hingga akhirnya dia mengabdikan diri sebagai pelatih pencak silat bagi anak-anak disabilitas.

’’Istilahnya saya itu lengkaplah. Penderitaan saya di dunia pencak silat. Sudah towok aku kalau jadi pelatih pencak silat,’’ ungkapnya kemarin. Sebagai pelatih, Kuncoro juga sukses mengantar putri kandungnya, Dyah Sukma Ramadhani menjuarai berbagai ajang kompetisi pencak silat. Seperti juara 1 Popda (Pekan Pelajar Daerah ) Jatim 2017 serta juara 1 Pomda (Pekan Olahraga Mahasiswa Daerah) Jatim 2020.

Baca Juga :  Kiai Kharismatik Itu Berpulang

Bagi pria yang lama menjadi pelatih IPSI Kabupaten dan Kota Mojokerto ini, pencak silat merupakan pilihan hidup. Terlahir sebagai bocah yang menyandang sakit polio, Kuncoro kecil masuk ke dunia pencak silat sekadar untuk berlatih ilmu bela diri. Tujuannya supaya bisa menjaga diri karena tumbuh di lingkungan keras. ’’Waktu itu lingkungan saya senang gelut. Ya sudah saya masuk silat. Ternyata di pencak silat malah dilarang gelut. Saya boleh berkelahi kalau sudah di ring,’’ kenangnya sambil terkekeh.

Motivasi yang awalnya agar punya kemampuan betengkar itu justru berbanding 360 derajat saat sang pelatih mengharamkannya berkelahi. Dia menyadari ilmu bela diri yang diajarkan padanya bukan untuk jago-jagoan. Lebih dari sekadar untuk melindungi diri, silat merupakan jalan hidup untuk mendekatkan diri dengan sang pencipta. Tak sedakar gerakan, dalam silat juga diajarkan perilaku yang harus dipegang dalam masyarakat.

Filosofi ini yang menurutnya mulai dilupakan. Menurutnya, motivasi anak-anak ikut perguruan silat sudah mengalami pergeseran. Dari yang awalnya untuk mencari ilmu, justru kini banyak yang hanya ikut-ikutan. Para pendekar yang terlepas dari akarnya ini pula yang dilihatnya kerap memicu gesekan. Kuncoro menilai, gesekan yang terjadi antarperguruan silat terjadi karena setiap persoalan pribadi seolah-olah mengatasnamakan perguruan silat. ’’Ini yang disayangkan dan sangat-sangat perlu dihindari,’’ tegasnya.

Baca Juga :  2.876 Perempuan Mojokerto Berstatus Janda Baru

Kuncoro mengingatkan, para pendekar harus bersatu. Perbedaan perguruan tidak boleh menjadi alasan untuk saling membenci. Dia mengingatkan, pencak silat merupakan tuntunan dalam hidup. Filosofi dalam pencak silat mengajarkan supaya berperilaku baik untuk menuju keselamatan selama hidup maupun setelahnya. ’’Pencak silat itu untuk memperkuat perilaku supaya baik untuk menuju Tuhan Yang Maha Esa. Paling tidak, orang yang berlatih di pencak silat ini, satu tidak sombong, punya unggah-ungguh atau sopan santunnya. Juga tidak brangasan. Saya yakin semua perguruan pencak silat arahnya ke sana,’’ pesan pria yang kini juga sebagai tim penasihat IPSI Kabupaten dan Kota Mojokerto tersebut. (adi/fen)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/