alexametrics
28.8 C
Mojokerto
Wednesday, August 10, 2022

Petilasan Empu Supo Watersumpak Trowulan, Kemalangan Hampiri Pemburu Musang

PETILASAN Empu Supo berada di tengah pemakaman umum Dusun/Desa Watesumpak, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto. Ahli keris pusaka era Kerajaan Majapahit itu juga dikenal dekat dengan Sunan Kalijaga. Petilasan Empu Supo amat dihormati dan dikeramatkan warga. Konon, siapapun yang berniat merusak bakal mendapat kemalangan.

Empu Supo dipercaya hidup pada abad ke-14. Sosoknya kerap dikaitkan dengan tiga keris pusaka legendaris zaman Kerajaan Majapahit dan Demak. Yakni Keris Sengkelat, Keris Nohososro, dan Keris Cerumbuk. ”Bahwa cerita cerita Empu Supo di sini menjadi pembuat pusaka itu memang benar,” kata Masruhan, tokoh masyarakat setempat.

Kepala Dusun Watesumpak itu menyebut, kisah kemasyuran dan keahlian Empu Supo melegenda di masyarakat secara turun temurun. Sosoknya dikenal sebagai abdi Kerajaan Majapahit yang melahirkan berbagai keris pusaka. Nama Empu Supo juga hampir selalu setarikan napas dengan Sunan Kalijaga.

Menurut dia, Empu Supo merupakan adik ipar dari salah satu tokoh Walisongo tersebut. Dia dikisahkan pernah membuat keris sakti untuk Sunan Kali Jaga dengan bahan besi hanya berukuran sebiji asam Jawa. Cerita ini banyak dituturkan dalam berbagai literatur. ”Makam Empu Supo ada di Jawa Tengah. Petilasan di sini ceritanya tempat pertapaan dan pembuatan keris pusaka,” terangnya.

Letak Petilasan Empu Supo persis di tengah makam umum dusun setempat. Posisinya mudah ditandai karena berada di dataran yang lebih tinggi dari sekelilingnya. Lokasi petilasan dilengkapi dengan undak-undakan dengan sembilan tangga dari bata merah. Di sana ada sebuah gapura khas Majapahitan dengan daun pintu kupu tarung. Di tengah petilasan terdapat sebuah pendapa berukuran sekitar 4×4 meter yang menjadi tempat berdoa.

Baca Juga :  Universitas Bina Sehat PPNI Mojokerto Seluruh Legalitas Program Studi Sah

”Tempat ini dihormati oleh masyarakat dan dilestarikan. Banyak orang datang berdoa ke sini dengan tujuannya masing-masing,” jelas pria 53 tahun itu. Peziarah di Petilasan Empu Supo datang dari berbagai daerah. Seperti Surabaya hingga Tubang.

Masruhan mengatakan, setiap malam tertentu warga setempat rutin mengadakan istighotsah bersama di pendapa petilasan tersebut. Di samping pendapa, memang terdapat sebuah altar dengan posisi sekitar 1,5 meter lebih tinggi. Altar itu menjadi tempat untuk berdoa serta menaruh sejaji dan dupa. Altar berdiameter sekitar 1,5 meter ini disangga pohon jati berukuran raksasa. Di sekitarnya, ada tiga pohon jati lain dengan ukuran hampir sama.

Masruhan menurutkan, Petilasan Empu Supo memang dikelilingi empat pohon jati. Konon, empat pohon berumur ratusan tahun itu diyakini sebagai nisan sebuah makam kuno. Pohon-pohon yang juga dikenal keramat itu terus berkembang dan menjulang tinggi. Hanya saja, salah satu pohon kini dalam kondisi tumbang dan dibiarkan warga.

Baca Juga :  Buaya Muara yang Diawetkan sebagai Jimat Penangkal Banjir

Dijelaskannya , peristiwa pohon tumbang itu menyimpan peristiwa kelam tersendiri. Konon, pohon itu tumbang setelah dibakar oleh dua pemburu garangan. Mereka berusaha menangkap hewan buruannya yang bersembunyi dengan menyusup de dalam pohon. ”Niatnya mungkin supaya keluar, tapi malah terbakar akhirnya roboh,” terang dia sembari mengingat peristiwa itu terjadi sekitar 1985.

Tumbangnya pohon keramat tersebut membawa kemalangan bagi si kedua pemburu garangan. Keesokan harinya setelah kejadian itu, salah satunya meninggal secara tragis akibat kecelakaan. Sementara itu, satu lainnya mengalami sakit-sakitan hingga akhirnya meninggal.

Masruhan juga memiliki pengalaman pribadi mengenai bangkai pohon yang hingga kini masih tergeletak di lokasi tersebut. Suatu ketika dia pernah berniat untuk menjual batang pohon berdiamater sekitar 1,5 meter itu. Namun, belum juga dilakukan, dirinya sudah menghadapi berbagai aral melintang. ”Dua tahun saya langsung sakit-sakitan. Padahal waktu itu niatnya untuk dimanfaatkan warga,” lontarnya.

Dari berbagai pengalaman dan cerita historis itu, warga amat menghormati dan mensakralkan Petilasan Empu Supo. Mereka juga berusaha untuk melestarikan peninggalan yang sudah ada. ”Intinya tidak sembrono. Kalau berniat buruk, pasti ada saja masalahnya,” tandas dia. (adi/ron)

PETILASAN Empu Supo berada di tengah pemakaman umum Dusun/Desa Watesumpak, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto. Ahli keris pusaka era Kerajaan Majapahit itu juga dikenal dekat dengan Sunan Kalijaga. Petilasan Empu Supo amat dihormati dan dikeramatkan warga. Konon, siapapun yang berniat merusak bakal mendapat kemalangan.

Empu Supo dipercaya hidup pada abad ke-14. Sosoknya kerap dikaitkan dengan tiga keris pusaka legendaris zaman Kerajaan Majapahit dan Demak. Yakni Keris Sengkelat, Keris Nohososro, dan Keris Cerumbuk. ”Bahwa cerita cerita Empu Supo di sini menjadi pembuat pusaka itu memang benar,” kata Masruhan, tokoh masyarakat setempat.

Kepala Dusun Watesumpak itu menyebut, kisah kemasyuran dan keahlian Empu Supo melegenda di masyarakat secara turun temurun. Sosoknya dikenal sebagai abdi Kerajaan Majapahit yang melahirkan berbagai keris pusaka. Nama Empu Supo juga hampir selalu setarikan napas dengan Sunan Kalijaga.

Menurut dia, Empu Supo merupakan adik ipar dari salah satu tokoh Walisongo tersebut. Dia dikisahkan pernah membuat keris sakti untuk Sunan Kali Jaga dengan bahan besi hanya berukuran sebiji asam Jawa. Cerita ini banyak dituturkan dalam berbagai literatur. ”Makam Empu Supo ada di Jawa Tengah. Petilasan di sini ceritanya tempat pertapaan dan pembuatan keris pusaka,” terangnya.

Letak Petilasan Empu Supo persis di tengah makam umum dusun setempat. Posisinya mudah ditandai karena berada di dataran yang lebih tinggi dari sekelilingnya. Lokasi petilasan dilengkapi dengan undak-undakan dengan sembilan tangga dari bata merah. Di sana ada sebuah gapura khas Majapahitan dengan daun pintu kupu tarung. Di tengah petilasan terdapat sebuah pendapa berukuran sekitar 4×4 meter yang menjadi tempat berdoa.

Baca Juga :  Kamar Benda Antik Peringgitan, Bentuk Keris Menunjukkan Karakter Pemerintah

”Tempat ini dihormati oleh masyarakat dan dilestarikan. Banyak orang datang berdoa ke sini dengan tujuannya masing-masing,” jelas pria 53 tahun itu. Peziarah di Petilasan Empu Supo datang dari berbagai daerah. Seperti Surabaya hingga Tubang.

- Advertisement -

Masruhan mengatakan, setiap malam tertentu warga setempat rutin mengadakan istighotsah bersama di pendapa petilasan tersebut. Di samping pendapa, memang terdapat sebuah altar dengan posisi sekitar 1,5 meter lebih tinggi. Altar itu menjadi tempat untuk berdoa serta menaruh sejaji dan dupa. Altar berdiameter sekitar 1,5 meter ini disangga pohon jati berukuran raksasa. Di sekitarnya, ada tiga pohon jati lain dengan ukuran hampir sama.

Masruhan menurutkan, Petilasan Empu Supo memang dikelilingi empat pohon jati. Konon, empat pohon berumur ratusan tahun itu diyakini sebagai nisan sebuah makam kuno. Pohon-pohon yang juga dikenal keramat itu terus berkembang dan menjulang tinggi. Hanya saja, salah satu pohon kini dalam kondisi tumbang dan dibiarkan warga.

Baca Juga :  Hari Pertama PPDB SD/SMP lewat Jalur Zonasi, Pagu 22 Sekolah Langsung Penuh

Dijelaskannya , peristiwa pohon tumbang itu menyimpan peristiwa kelam tersendiri. Konon, pohon itu tumbang setelah dibakar oleh dua pemburu garangan. Mereka berusaha menangkap hewan buruannya yang bersembunyi dengan menyusup de dalam pohon. ”Niatnya mungkin supaya keluar, tapi malah terbakar akhirnya roboh,” terang dia sembari mengingat peristiwa itu terjadi sekitar 1985.

Tumbangnya pohon keramat tersebut membawa kemalangan bagi si kedua pemburu garangan. Keesokan harinya setelah kejadian itu, salah satunya meninggal secara tragis akibat kecelakaan. Sementara itu, satu lainnya mengalami sakit-sakitan hingga akhirnya meninggal.

Masruhan juga memiliki pengalaman pribadi mengenai bangkai pohon yang hingga kini masih tergeletak di lokasi tersebut. Suatu ketika dia pernah berniat untuk menjual batang pohon berdiamater sekitar 1,5 meter itu. Namun, belum juga dilakukan, dirinya sudah menghadapi berbagai aral melintang. ”Dua tahun saya langsung sakit-sakitan. Padahal waktu itu niatnya untuk dimanfaatkan warga,” lontarnya.

Dari berbagai pengalaman dan cerita historis itu, warga amat menghormati dan mensakralkan Petilasan Empu Supo. Mereka juga berusaha untuk melestarikan peninggalan yang sudah ada. ”Intinya tidak sembrono. Kalau berniat buruk, pasti ada saja masalahnya,” tandas dia. (adi/ron)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/