Minggu, 24 Oct 2021
Radar Mojokerto
Home / Mojopedia
icon featured
Mojopedia
Diskriminasi Nakes di Mojokerto Era Kolonial

Dokter Non-Pemerintah Dilarang Buka Praktik Mandiri

14 Oktober 2021, 13: 25: 59 WIB | editor : Fendy Hermansyah

Dokter Non-Pemerintah Dilarang Buka Praktik Mandiri

TENAGA MEDIS: dr Samgar berfoto bersama keluarga. Tenaga kesehatan bergelar dokter Jawa itu sempat mengabdi di pemerintahan Mojokerto pada masa kolonial. (Ayuhanafiq for jawaposradarmojokerto.id)

Share this      

Tenaga kesehatan (nakes) memiliki peran yang vital pada penanganan wabah penyakit. Termasuk di masa pandemi Covid-19 yang berlangsung hampir dua tahun terakhir ini. Di masa kolonial, wilayah Mojokerto juga pernah terjadi endemi penyakit menular. Namun, tidak semua dokter diizinkan berpraktik. Hanya yang memiliki ikatan dinas dengan pemerintahan yang diperbolehkan menjalankan tugas medis.

Sejarawan Mojokerto Ayuhanafiq mengungkapkan, di tahun 1909, wilayah Mojokerto pernah dilanda kolera. Penyakit akibat infeksi bakteri ini menyebar cukup cepat. Akibatnya, banyak warga yang membutuhkan bantuan pengobatan.

Salah satu yang menjadi jujukan pasien di Mojokerto waktu itu adalah dr Samgar. Dokter lulusan School Tot Opleding Van Inlandsche Artsen (STOVIA) ini membuka praktik pribadi. ”dr Samgar membuka praktek pengobatan di rumahnya sendiri,” terangnya.

Baca juga: Bakar Rumah Pejabat yang Membelot

Pria yang akrab disapa Yuhan ini menyebutkan, sebelum membuka praktik mandiri, dr Samgar memiliki ikatan dinas sebagai salah satu tenaga medis yang ditempatkan di Pemkab Mojokerto. Namun, dokter kelahiran Mojowarno tahun 1851 ini memilih untuk menanggalkan jabatannya dengan mengundurkan diri sebagai dokter pemerintah Hindia Belanda pada 1908. ”Karena sudah dikenal masyarakat, maka tempat praktiknya tetap mendapat kunjungan banyak pasien meski sudah lepas dinas,” paparnya.

Di sisi lain, sosoknya yang ringan tangan juga menjadi salah satu alasan warga untuk berobat ke dr Samgar. Bahkan, tingkat kunjungan pasien lebih tinggi dibanding tempat praktik di fasilitas kesehatan pemerintah kolonial.

Ramainya kunjungan pasien juga dipengaruhi endemi penyakit kolera yang masih mewabah di Mojokerto. Akibatnya, sebut Yuhan, banyaknya warga yang berobat ke tempat praktik dr Samgar mendapat perhatian dari pemerintah Belanda.

Tenaga medis bergelar dokter Jawa itu pada akhirnya dipanggil oleh asisten Residen Mojokerto J. Van Aalst pada April 1910. Tak disangka, pemanggilan tersebut memaksa dokter yang memiliki penghargaan bintang dan payung songsong ini harus menutup praktiknya. ”dr Samgar dilarang menerima pasien. Sehingga warga yang sakit bisa diarahkan berobat ke dokter pemerintah Belanda,” ulasnya.

Tempat praktik yang menunjang penanganan wabah kolera itu pun harus ditutup. Meski demikian, dr Samgar tak tinggal diam. Yuhan mengatakan, tenaga medis yang sudah mengabdi di pemerintah selama 30 tahun ini melayangkan laporan ke Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur.

Pasalnya, dr Samgar merasa pengunduran diri sebagai tenaga dokter di pemerintahan telah diajukan secara resmi dan mendapat persetujuan. Sebagai seorang dokter Jawa, maka dia meminta untuk bisa kembali membuka praktik mandiri. ”Setelah laporan diterima dinas kesehatan, akhirnya dr Samgar diperbolehkan kembali membuka praktik untuk membantu mengatasi wabah endemi,” pungkasnya. (ram/ron)

(mj/ram/fen/JPR)

 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
Facebook Twitter Instagram YouTube
©2021 PT. JawaPos Group Multimedia