Kamis, 20 Jan 2022
Radar Mojokerto
Home / Mojopedia
icon featured
Mojopedia
Di Balik Pembangunan Penjara di Mojokerto

Khusus untuk Napi Pribumi

13 Januari 2022, 13: 30: 59 WIB | editor : Fendy Hermansyah

Khusus untuk Napi Pribumi

BERDESAKAN: Kondisi narapidana di Lapas Klas IIB Mojokerto yang saat ini juga mengalami overkapasitas. (Yulianto Adi Nugroho/jawaposradarmojokerto.id)

Share this      

RUMAH tahanan (rutan) atau yang lebih dikenal dengan penjara di Mojokerto telah ada sejak era kolonial. Bangunan tersebut didirikan sebagai tempat bagi narapidana (napi) menjalani hukuman setelah diputus bersalah oleh landraad atau lembaga pengadilan negeri. 

Sejarawan Mojokerto Ayuhanafiq mengungkapkan, pembangunan penjara diperkirakan dibangun bersamaan dengan perpindahan pusat Pemerintahan Kabupaten Mojokerto pada kisaran tahun 1838. Selain membangun tata ruang berupa pendapa dan peringgitan atau kediaman bupati, juga dibangun fasilitas pemerintahan lainnya yang berada di satu kawasan di sekitar alun-alun. ’’Termasuk juga dibangun penjara. Semua menjadi satu tatanan infrastruktur pemerintahan,’’ terangnya.

Saat itu, penjara Mojokerto dibangun tidak jauh dari kantor Bupati Mojokerto. Tepatnya berada di sebelah selatan gedung Societiet Concordia atau kini berubah menjadi kantor Badan Penggelolaan Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) dan Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Kabupaten Mojokerto.

Baca juga: Kebun Penelitian dan Percobaan Tanaman

Pria yang akrab disapa Yuhan ini menyebut, dibangunnya penjara tersebut tidak lepas dari keberadaan landraad atau pengadilan negeri khusus pribumi. Sehingga, setiap terdakwa yang diputus bersalah oleh hakim, akan dieksekusi untuk mendekam di balik jeruji besi. ’’Mereka yang diputus bersalah oleh landraad akan menjalani hukuman penjara,’’ tandasnya.

Disebutkannya, kondisi penjara di masa awal cukup membuat efek jera bagi para napi. Selain ukuran ruangan yang sempit, kondisinya juga lembab dan pengap karena minimnya ventilasi.

Bahkan, seiring meningkatnya angka kriminalitas, penjara Mojokerto juga terjadi overkapasitas. Puncaknya terjadi pada 1920an. Dalam satu sel tahanan, jumlah penghuninya melebihi kapasitas hingga tiga kali lipatnya. ’’Para narapidana terpaksa harus berdesakan dalam ruangan yang sempit,’’ beber Yuhan.

Selama menjalani masa tahanan, pemerintah kolonial menjamin kebutuhan konsumsi sehari-hari. Namun, porsi dan pemenuhan gizi masih jauh dari layak. Untuk bisa mendapat tambahan jatah makanan, para napi harus bekerja di luar penjara.

Petugas penjara mengizinakan tahanan tertentu keluar sementara untuk bekerja. Sebelum matahari terbenam, mereka harus kembali masuk ke dalam sel. ’’Dengan bekerja, para tahanan  bisa mendapat tambahan makan dan sedikit upah,’’ tandasnya.

Makin sesaknya rumah tahanan Mojokerto tersebut pada akhirnya menimbulkan dampak kesehatan para penghuninya. Menurut Yuhan, sejumlah napi mulai terserang berbagai penyakit. Meski sempat didatangkan tenaga medis untuk merawat yang sakit, tetapi  tak sedikit nyawa yang tidak tertolong. Bahkan, dalam hitungan bulan saja, belasan tahanan meninggal sebelum bisa menghidup udara bebas dari penjara Mojokerto. (ram/abi)

(mj/ram/fen/JPR)

 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
Facebook Twitter Instagram YouTube
©2022 PT. JawaPos Group Multimedia