Kesengsem dengan musik K-pop sejak sedekade lalu, Bernadett Nona Tjandra Kristanti belakangan terjun ke dunia tari K-pop. Perempuan yang kini berusia 29 tahun itu mulai mengikuti tren challenge dance dari penyanyi K-pop semenjak 2020-an sampai akhirya kini memiliki grup K-pop dance cover bernama Brave Girls. ”Sebenarnya tim ini baru terbentuk karena memang baru benar-benar mendalami koreo dari K-pop,” kata Nona yang memiliki latar belakang penari hiphop, kemarin (24/1).
Nona mengaku bisa dengan mudah jatuh cinta pada K-pop dance karena gerakannya yang asyik dan bikin happy. Keseruan itu didukung lagu-lagunya yang memiliki kesan catchy (memikat) di telinga, fun, dan tidak membosankan.
”Jadi bisa buat trennya bareng teman-teman, banyak tantangan-tantangan baru dari koreografinya dan bisa buat aku lebih mengekspresikan diriku lewat dance,” tutur warga Kota Mojokerto tersebut.
Sebagai seorang yang sudah lama menggeluti dunia modern dance, Nona paham betul bagaimana karakteristik genre yang dibawa K-pop. Menurutnya, gaya tarian yang dipopulerkan para penyanyi pop Negeri Gingseng itu cenderung lebih kompleks. K-pop dance menggabungkan unsur performance, musik, visual, dan kekompakan.
”Yang mana artinya ketika di atas panggung, kita harus terlihat sedang perform, bukan menari saja. Jadi antara menari di atas panggung, bernyanyi, dan berekspresi semua harus seimbang. Itu yang membedakan dance K-pop dengan genre dance yang lain,” jelas Nona yang merupakan pelatih tim dancesport Kabupaten Gresik di ajang Porprov IX Jatim 2025 itu.
Di sisi lain, ciri khas ini menjadi tantangan tersendiri ketika sedang mengkover tarian K-pop. Pertama, penari mau tak mau harus hapal lirik lagu dalam bahasa Korea terlebih dahulu.
Hal itu menjadi penentu agar saat tampil ada kesinkronan antara mimik wajah dan mulut dengan lirik dan musik. ”Dengan kata lain menampilkan dance K-pop ini harus dengan lipsing dan sesuai dengan gerakan dan nyanyian asli boy group atau girl group yang dibawakan,” tandasnya. (adi/ris)
Editor : Fendy Hermansyah