JAWA POS RADAR MOJOKERTO – Belakangan ini, berbagai istilah berbahasa Inggris seringkali muncul dan digunakan dalam percakapan sehari-hari, terutama di kalangan gen Z.
Salah satu contoh istilah yang hingga saat ini masih menjadi topik perbincangan hangat adalah istilah " nonchalant ", yang kerap kali ditemui dalam unggahan media sosial, baik sebagai bagian dari caption maupun komentar.
Tak sedikit juga orang yang menggunakan istilah ini sebagai gambaran atau cerminan dari pribadi individu yang selalu terlihat santai, tenang, dan tidak berlebihan saat menghadapi sesuatu.
Istilah ini juga melahirkan tren di media sosial dan semakin berkembang seiring meningkatnya popularitas gaya hidup effortless atau tanpa usaha dan citra diri yang terkesan menawan tanpa harus berusaha keras untuk tampil menawan.
Sementara itu, istilah nonchalant berasal dari bahasa Prancis, yakni nonchaloir, yang artinya "tidak memedulikan".
Kemudian masuk ke dalam bahasa Inggris dengan makna yang lebih halus, yaitu kepribadian yang tenang, santai, dan tidak mudah terpengaruh oleh berbagai hal di sekitarnya.
Dari dua bahasa atau sebutan istilah nonchalant yang memiliki makna sama, dapat dipastikan bahwa secara sederhana, arti dari istilah nonchalant ini sebenarnya adalah sikap tenang dan terlihat tidak terlalu peduli terhadap kondisi di sekitarnya.
Dalam konteks di era saat ini, makna dari istilah nonchalant tak lagi sekedar menunjukkan sikap yang cuek dan acuh tak acuh, melainkan menjadi simbol gaya hidup yang menonjolkan nilai kesederhanaan, kepercayaan diri, dan ketenangan.
Baca Juga: Begini Alasan Kenapa Kucing Selalu Meninggal di Tempat Sepi dan Menjauh dari Pemiliknya
Tak jarang anak muda masa kini yang menampilkan dirinya sebagai individu dengan citra nonchalant karena ingin tampil tenang di tengah maraknya tekanan sosial dan hiruk pikuk dunia digital.
Anak muda yang memiliki citra diri nonchalant biasanya menggunakan gaya berpakaian yang minimalis, cara berbicara yang tak berlebihan, dan kebiasaan untuk tidak terlalu menunjukkan emosinya di media sosial.
Sementara itu, dalam kehidupan sehari-hari, istilah nonchalant ini kerap kali muncul dalam berbagai konteks. Contohnya ketika seseorang bersikap tetap tenang dan sama sekali tidak merasa terganggu dengan masalah yang sedang terjadi di sekitarnya.
Selain itu, di media sosial, istilah nonchalant seringkali muncul dalam konten video maupun foto dengan keterangan seperti "just being my nonchalant self" yang artinya "hanya menjadi diriku yang acuh tak acuh" atau " living a nonchalant life lately " yang artinya "menjalani kehidupan yang acuh tak acuh akhir-akhir ini".
Dari berbagai ungkapan tersebut, menunjukkan bahwa nonchalant bukanlah sikap santai yang acuh tak acuh, melainkan ketenangan yang tidak mudah terguncang oleh hal-hal kecil.
Tren ini juga membuat istilah nonchalant tak hanya berdiri sebagai sekadar istilah biasa, tetapi juga menjadi semacam label gaya hidup yang identik dengan sikap elegan dan percaya diri tanpa perlu banyak bicara atau usaha yang berlebihan.
Dalam banyak situasi, bersikap tenang seperti nonchalant juga memiliki sisi positif, yakni dapat membantu seseorang untuk terlihat lebih dewasa dan tidak mudah terprovokasi oleh gangguan dari luar maupun dalam.
Namun, di sisi negatif, individu dengan sikap nonchalant atau terlalu tenang di tengah hiruk pikuk masalah kerap kali disalahartikan sebagai orang yang tak memiliki rasa peduli atau kurang empati.
Karena itulah, keseimbangan untuk mengontrol sikap tenang dan tetap peka sangat dibutuhkan agar kesan atau citra nonchalant tak berubah menjadi suatu hal yang buruk.
Sikap nonchalant saat ini juga dianggap sebagai bentuk baru dari rasa percaya diri, karena di tengah kehidupan modern yang penuh tuntutan, bersikap nonchalant justru menunjukkan bahwa seseorang nyaman dengan dirinya sendiri apa adanya.
FANEZA
Editor : Imron Arlado