JAWA POS RADAR MOJOKERTO – Dalam dunia kesehatan, terutama yang berkaitan dengan pemulihan dari kecanduan, serta gangguan mental. Istilah “relapse” sering kali menjadi hal yang menakutkan.
Banyak orang yang menganggap relapse sebagai bukti bahwa semua usaha penyembuhan yang sebelumnya sia-sia. Pandangan ini tidak hanya salah kaprah, tetapi juga berpotensi menghambat proses pemulihan itu sendiri.
Padahal, dalam banyaknya kasus, relapse adalah bagian yang sangat umum dari proses pemulihan. Seperti halnya pembelajaran pada hidup, proses penyembuhan bukanlah garis lurus tanpa hambatan.
Relapse adalah kondisi ketika seseorang kembali mengalami gejala atau perilaku yang sebelumnya berhasil dikendalikan selama masa pemulihan.
Relapse bisa terjadi dalam berbagai bentuk, tergantung pada konteksnya:
- Dalam kecanduan: kembali menggunakan zat setelah periode pantang.
- Dalam gangguan mental: seperti depresi atau bipolar, ketika gejala kembali muncul setelah periode stabil.
- Dalam kondisi fisik kronis: seperti lupus, asma, atau kanker, ketika penyakit kembali kambuh setelah pengobatan intensif.
Relapse dapat bersifat fisik, emosional, maupun perilaku. Banyak orang bahkan mengalami relapse secara diam-diam, tanpa diketahui oleh orang terdekat, inilah mengapa edukasi dan deteksi dini sangat penting.
Relapse jarang terjadi karena satu penyebab tunggal. Biasanya ini adalah hasil dari kombinasi berbagai faktor, diantaranya sebagai berikut:
- Stres atau Tekanan Emosional
Stres yang tidak tertangani, baik dari pekerjaan, keluarga, atau trauma masa lalu, bisa memicu keinginan untuk kembali ke pola lama.
- Lingkungan yang Tidak Mendukung
Lingkungan yang memicu kenangan atau kebiasaan lama, termasuk pergaulan, tempat, atau bahkan aroma tertentu, bisa menjadi pemicu kuat.
- Kurangnya Dukungan
Ketiadaan dukungan sosial yang kuat sering kali membuat seseorang merasa sendirian dalam perjuangannya. Padahal, proses pemulihan membutuhkan dukungan yang solid.
- Rasa Percaya Diri yang Berlebihan (Overconfidence)
Merasa sudah "sembuh total" bisa membuat seseorang mengabaikan rutinitas atau strategi pencegahan yang sebelumnya membantu mereka bertahan.
- Perubahan Pola Hidup
Pindah tempat tinggal, kehilangan pekerjaan, atau perubahan besar lainnya bisa mengguncang kestabilan mental dan memicu relapse.
Relapse seringkali memunculkan rasa malu dan bersalah. Namun, melihatnya sebagai kegagalan justru bisa memperburuk kondisi mental dan memperpanjang siklus negatif. Sebaliknya, para ahli menyarankan untuk melihat relapse sebagai:
- Tanda bahwa pendekatan pemulihan perlu disesuaikan.
- Peluang untuk belajar tentang diri sendiri dan tantangan yang belum sepenuhnya teratasi.
- Bagian normal dari proses pemulihan, terutama pada kondisi kronis atau kompleks.
Sebagaimana pemulihan itu sendiri adalah proses, relapse bisa menjadi bagian dari "naik-turun" yang membentuk ketahanan dan pemahaman diri yang lebih baik.
Berikut beberapa pendekatan yang bisa membantu seseorang mengatasi dan belajar dari relapse:
- Mengakui, Bukan Mengabaikan
Langkah pertama adalah menerima bahwa relapse telah terjadi, tanpa menyalahkan diri sendiri. Pengingkaran hanya akan membuat penderitaan makin lama.
- Refleksi serta Evaluasi
Tanyakan pada diri sendiri:
- Apa pemicunya?
- Apa yang saya rasakan sebelum relapse?
- Apa yang bisa saya lakukan berbeda di lain waktu?
- Mencari Dukungan
Bicaralah dengan terapis, konselor, sponsor, atau komunitas pemulihan. Jangan berjuang sendirian.
- Memperbaiki Rencana Pemulihan
Tambahkan strategi baru, tetapkan ulang batasan, dan pertimbangkan pendekatan yang lebih menyeluruh, baik dari sisi medis, psikologis, maupun spiritual.
- Membangun Rutinitas Sehat Kembali
Tidur yang cukup, makan bergizi, berolahraga, dan mengelola stres adalah fondasi penting yang seringkali terabaikan saat relapse terjadi.
Baca Juga: Profil Mpok Alpa: Komedian Dengan Gaya Bicara Betawi yang Mengantarkan ke Puncak Popularitas
Relapse memang mengecewakan, tetapi hal tersebut bukanlah akhir dari perjalanan pemulihan. Justru, dengan pendekatan yang penuh empati, kesadaran, dan dukungan, kekambuhan bisa menjadi titik balik untuk memperdalam pemahaman dan komitmen terhadap penyembuhan.
Perlu mengingatkan, bahwa jatuh bukan berarti gagal, dan setiap langkah yang kita teruskan membawa kita semakin maju dalam perjalanan yang penuh dengan keseimbangan.
NIYA/Wulandari
Editor : Imron Arlado