Kamis, 20 Jan 2022
Radar Mojokerto
Home / Lifestyle
icon featured
Lifestyle
Geliat Bisnis Angkringan

Terpicu Momentum Pandemi

29 November 2021, 00: 41: 19 WIB | editor : Fendy Hermansyah

Terpicu Momentum Pandemi

Empat Sungai Belum Dinormalisasi (Rizal Amrulloh/jawaposradarmojokerto.id)

Share this      

Merebaknya bisnis angkringan di Mojokerto tak lepas dari momentum pandemi Covid-19 sejak awal tahun 2020 lalu. Di mana, situasi ekonomi yang begitu terbatasi memaksa sejumlah orang lebih kreatif lagi dalam berbisnis. Tentunya dengan modal minim namun mendapat untung lumayan.

Nah, angkringan dinilai sangat cocok sebagai usaha menjanjikan mengingat modalnya yang tak kurang dari Rp 5 juta. Khususnya bagi kawula muda yang baru lulus kuliah atau sekolah namun ingin memperbaiki perekonomiannya. ’’Pandemi Covid-19 kemarin tak dipungkiri menjadi salah satu pemicu munculnya angkringan. Karena memang modalnya sedikit tapi untungnya lumayan besar,’’ terang pemilik angkringan di kawasan Wijaya Kusuma, Sooko, Arif Saifulloh kemarin.

Karena modal minim itulah, maka angkringan cepat merebak. Bahkan, seperti copy-paste antar pengusaha angkringan. Bayangkan saja, cukup dengan modal Rp 5 juta, setiap pengusaha sudah bisa menjajakan berbagai sajian makanan dan minuman tradisional ala Jogjakarta tersebut.

Baca juga: Hadirkan Suasana Pantai dan Tropis

Terdiri dari satu set rombong beserta tungku arang, ceret, gelas hingga tikar senilai Rp 3,5 juta. Ditambah sajian makanan dan minuman seperti nasi kucing, aneka sate-satean, kopi jos (arang), wedang uwuh, hingga teh yang cukup Rp 1,5 juta. ’’Mungkin karena modalnya murah, makanya mudah ditiru,’’ tegas pegawai Bagian Umum Setdakab Mojokerto ini.

Hanya saja, Arif mengaku belum bisa memprediksi sampai kapan tren angkringan ini bisa terus eksis. Mengingat fenomenanya saat ini adalah periode kedua setelah di tahun 2014 sempat juga sempat eksis di beberapa sudut kota onde-onde. Dirinya hanya bisa mengibaratkan jika bisnis angkringan ini sudah setara dengan bisnis UMKM kecil dan menengah lainnya.

Di mana, penghasilannya mampu mencukup kehidupan sehari-hari para pemiliknya. Artinya, eksistensi bisnis angkringan kedepan tak lepas dari kreasi masing-masing pemilik. Apakah masih bisa beradaptasi dengan gaya hidup kawula muda atau justru tertinggal dengan perkembangan jaman hingga kembali meredup.

’’Kalau dulu meredup karena kalah bersaing soal fasilitas seperti WiFi yang banyak tersedia di warung kopi dan cafe. Nah, ke depan tantangannya mungkin soal konsistensi. Apakah tetap bisa eksis dengan pembatasan aktivitas yang masih berlaku di masa pandemi seperti ini atau tidak,’’ pungkas warga asal Kecamatan Puri tersebut. (far/fen)

(mj/far/fen/JPR)

 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
Facebook Twitter Instagram YouTube
©2022 PT. JawaPos Group Multimedia