Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Kenali Kepribadian Avoidant Attachment: Kepribadian yang Terbentuk dari Luka Emosional

Imron Arlado • Kamis, 24 Juli 2025 | 01:25 WIB
Kenali avoidant attachment dan penyebabnya.
Kenali avoidant attachment dan penyebabnya.

JAWA POS RADAR MOJOKERTO - Pernahkah kamu merasa sulit terbuka dan justru menjaga jarak secara emosional dengan orang terdekat atau dalam suatu hubungan? Bisa saja itu adalah tanda bahwa kamu memiliki keterkaitan dengan avoidant.

 

Apakah Avoidant Attachment?

Avoidant attachment merupakan salah satu dari empat jenis gaya keterikatan dalam ilmu psikologi. Gaya ini berkembang ketika seseorang sejak kecil terbiasa untuk bergantung pada dirinya sendiri secara emosional.

Akibatnya, saat dewasa mereka cenderung menjaga jarak dalam hubungan dan enggan terlibat secara emosional.

Seseorang dengan gaya keterikatan ini umumnya terlihat sangat mandiri dan merasa tidak nyaman dengan kedekatan emosional yang terlalu dalam.

Dalam kesehariannya, seseorang dengan gaya keterikatan avoidant biasanya terlihat tenang dan tidak terlalu membutuhkan perhatian dari orang lain. Mereka cenderung menyelesaikan masalah secara mandiri dan jarang mengekspresikan emosi secara terbuka.

Ketika dihadapkan pada konflik atau situasi yang emosional, mereka lebih memilih menjauh atau menarik diri daripada berbagi perasaan dan mencari dukungan dari orang terdekat.

 

 

Gaya keterkaitan ini dapat terbawa hingga ke hubungan dewasa seperti hubungan romantis dan persahabatan. Orang dengan gaya keterikatan ini umumnya menghindari bentuk ketergantungan, baik bergantung pada orang lain maupun menjadi sandaran bagi orang lain.

Meskipun sering tampak tidak tertarik pada hubungan yang dekat, sebenarnya mereka mengalami kesulitan dalam membangun rasa aman dalam hubungan yang melibatkan kedekatan emosional yang intens.

 

 

Penyebab Seseorang Menjadi Avoidant

Gaya keterikatan avoidant tidak muncul secara tiba-tiba, melainkan dipengaruhi oleh berbagai faktor. Berikut ini beberapa penyebab yang turut berperan dalam pembentukannya, beserta penjelasannya.

 

  1. Orang Tua Tidak Responsif Secara Emosional

Seorang anak yang tumbuh dengan orang tua yang tidak merespons kebutuhan emosional dengan baik cenderung mengembangkan gaya keterikatan avoidant.

Jika seorang anak sering merasa diabaikan ketika membutuhkan kenyamanan atau dukungan, mereka akan mulai belajar untuk tidak lagi mengungkapkan kebutuhan tersebut.

Seiring waktu, anak tersebut akan menahan dorongan untuk mencari penghiburan dan lebih memilih mengandalkan diri sendiri ketika menghadapi tantangan atau kesulitan.

 

  1. Pola Asuh Terlalu Kaku dan Keras

Orang tua yang terlalu menuntut kepatuhan tanpa memberi kesempatan untuk berdiskusi atau mengekspresikan diri dapat memicu terbentuknya gaya keterikatan avoidant pada anak.

Dalam kondisi seperti ini, anak merasa tidak leluasa menjadi dirinya sendiri, sehingga memilih untuk menyembunyikan perasaan dan pikirannya.

Kebiasaan ini kemudian berkembang menjadi sikap tertutup dan kesulitan mempercayai orang lain saat dewasa.

 

  1. Sering Dilarang Menangis

Sebagian anak tumbuh dalam lingkungan yang membatasi mereka untuk mengekspresikan emosi.

Ketika seorang anak dilarang menangis atau justru dijadikan bahan ejekan saat merasa sedih atau takut, mereka akan menyimpulkan bahwa menampilkan emosi bukanlah hal yang aman.

Sehingga hal ini dapat membentuk kepribadian yang tertutup dan menyulitkan mereka dalam menjalin hubungan emosional yang sehat dengan orang lain di kemudian hari.

  1. Trauma di Masa Kecil

Pengalaman traumatis seperti kekerasan fisik, pelecehan emosional, atau peristiwa menyakitkan lainnya di masa kecil dapat menjadi pemicu munculnya gaya keterikatan avoidant.

Anak yang mengalami trauma cenderung menutup diri dan membatasi keterlibatan emosional sebagai cara untuk melindungi dirinya.

Mereka merasa tidak aman untuk terbuka atau mempercayai orang lain dan hal ini cenderung terbawa hingga masa dewasa.

 

  1. Kurangnya Sentuhan Fisik

Sebagian orang tua tanpa disadari kurang memberikan kontak fisik, seperti pelukan atau belaian, kepada anaknya. Padahal, sentuhan fisik memiliki peran penting dalam membentuk ikatan emosional.

 

 

Anak yang jarang merasakan kehangatan melalui sentuhan kasih sayang dapat merasa kurang dicintai atau dianggap tidak berarti.

Hal ini dapat berkembang menjadi kecenderungan untuk menjaga jarak dalam hubungan sosial maupun romantis ketika mereka dewasa. LINDA

 

 

 

Editor : Imron Arlado
#avoidant attachment #kepribadian #penyebab avoidant attachment #definisi avoidant attachment #Emosional