Jawa Pos Radar Mojokerto - Ada kalanya setiap orang menjauh dan mencoba sendiri jauh saat mengalami masalah dari orang-orang disekitarnya. Tetapi jika secara terus-menerus mencoba menghindari dan menjaga jarak dengan orang-orang tertentu, hal tersebut bisa jadi orang itu memiliki kepribadian avoidant attachment.
Apa Itu Avoidant Attachment?
Avoidant attachment adalah kondisi di mana seseorang merasakan tidak nyaman, baik emosional dan fisik, serta sering memberikan jarak kepada orang disekitarnya, bahkan krang terdekatnya sekaligus. Dalam ilmu psikologi, avoidant attachment merupakan suatu gaya keterikatan, khususnya dalam konteks emosional dan intimasi.
Baca Juga: POCO M7 Pro 5G, Hape Performa Kencang dengan Fitur Maksimal Cuma Rp 2 Jutaan!
Mereka yang merasakan avoidant attachment akan selalu mencoba menghindari seseorang jika ingin dekat dan berkenalan dengan mereka. Setiap manusia memiliki gaya keterikatan masing-masing. Gaya keterikatan tersebut akan membuat pola pikir seseorang ketika sedang menjalin hubungan.
Orang-orang yang merasakan avoidant attachment melakukan penghindaran untuk melindungi dirinya sendiri. Mereka berusaha tidak bergantung pada orang lain, selain itu mereka sangat tidak suka ketika dikhianati atau disakiti orang lain. Maka dari itu, mereka cenderung menghindar ketika berkenalan dengan orang lain.
Baca Juga: Dikbud Kota Mojokerto Sebut TK Dharma Wanita Pulorejo Belum Ajukan Izin Outing Class
Avoidant attachment style sendiri memiliki 2 jenis didalamnya, yaitu dismissive avoidant dan fearful avoidant. Berikut adalah penjelasan mengenai dismissive avoidant dan fearful avoidant!
Pengertian Dismissive Avoidant
Dismissive avoidant adalah kondisi di mana seseorang merasa tidak aman atau insecure. Mereka yang merasakan dismissive avoidant akan berusaha untuk membangun hubungan emosional atau perasaan dengan orang lain.
Mereka tidak mudah percaya kepada orang lain, kata lainnya adalah sulit mendapatkan kepercayaan mereka yang mengalami dismissive avoidant. Tetapi, mereka menganggap diri mereka sendiri sangat berharga dan melihat dirinya sendiri secara baik dan positif.
Baca Juga: Aspal Jembatan Gajah Mada Kota Mojokerto Makan Korban
Berikut adalah ciri-ciri dismissive avoidant:
- Sangat privasi. Mereka yang mengalami dismissive avoidant akan sangat menjaga privasi, bahkan sangat rahasia. Mereka memiliki kepribadian yang kaku dan tidak akan membicarakan rencana mereka kepada siapapun. Sehingga mereka mencoba untuk membuat orang lain tidak terpengaruh dengan rencananya.
- Hubungan asmara yang singkat. Orang yang memiliki dismissive avoidant rata-rata berhubungan dengan jangka waktu yang singkat. Tetapi, dalam perjalanan hubungan tersebut akan memiliki suasana yang santai dan romantis.
- Berpikiran bahwa perpisahan adalah hal yang wajar. Orang dengan kepribadian dismissive avoidant akan menunjukkan sikap bahwa perpisahan hal yang wajar. Karena, mereka memiliki rasa kebebasan yang menyebabkan mereka memiliki hubungan yang singkat.
Pengertian Fearful Avoidant
Baca Juga: Pemkab Mojokerto Berhasil Bentuk 120 Kopdes Merah Putih
Fearful avoidant merupakan kondisi yang sedikit berbeda dibandingkan dengan dismissive avoidant. Fearful avoidant merupakan kondisi di mana seseorang menghargai kasih sayang dan sebuah keromantisan, tapi enggan menjalin sebuah hubungan.
Mereka yang memiliki kepribadian ini akan sangat membingungkan, karena mereka ingin diberi kasih sayang oleh seseorang tapi tidak mau menjalin komitmen. Kepribadian tersebut tercipta karena pola asuh yang salah dan kurang mendapatkan perhatian dari orang tua.
Berikut adalah ciri-ciri fearful avoidant:
- Takut penolakan. Mereka yang memiliki kepribadian fearful avoidant akan sangat takut ditolak. Hal tersebut dikarenakan butuhnya kasih sayang untuk dirinya sendiri, jadi ketika ia mengungkapkan perasaannya, ia takut ditolak.
- Tidak konsisten. Mereka yang memiliki kepribadian fearful avoidant akan memiliki sikap yang tidak konsisten. Mereka sangat mudah dibingungkan oleh kecemasan yang membuat kesulitan mengontrol emosi.
- Haus dan takut cinta di waktu yang bersamaan. Haus yang dimaksud dalam hal ini adalah mereka sangat ingin mendapatkan kasih sayang dan cinta, tetapi mereka juga takut akan cinta. Hal tersebut membuat mereka tidak puas dengan sebuah hubungan dan terus mencoba mencari hubungan yang lain.
Itulah avoidant attachment, di mana sebuah keterikatan seseorang yang sering merasa sendiri. RENO
Editor : Imron Arlado