Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Peralihan ke Musim Hujan, Waspadai Beberapa Penyakit yang Mengincar

I
Penulis: Imron Arlado❯
Peralihan ke musim hujan membuat kondisi lingkungan berubah disertai efeknya pada kesehatan manusia. (Foto: Mateus Rodrigues/Pexels)
Peralihan ke musim hujan membuat kondisi lingkungan berubah disertai efeknya pada kesehatan manusia. (Foto: Mateus Rodrigues/Pexels)

Advertisement

JAWA POS RADAR MOJOKERTO - Beberapa wilayah di Indonesia memasuki peralihan ke musim hujan. Peralihan dari musim kemarau ke musim hujan tersebut membawa perubahan cuaca, suhu, kelembapan, hingga kondisi lingkungan. Cuaca yang biasanya panas kini berubah menjadi dingin, basah, dan lembap.

Hujan yang turun dapat membuat genangan air, meningkatkan kelembapan, hingga mengubah kondisi sanitasi di beberapa wilayah. Situasi seperti itu bisa meningkatkan risiko penyakit tertentu sehingga masyarakat tetap perlu mewaspadai ancaman kesehatan tersebut.

Advertisement

Perubahan cuaca yang tidak menentu bisa memengaruhi kenyamanan dan aktivitas sehari-hari. Kondisi lingkungan yang lembap bisa mendukung penularan maupun penyebaran penyakit tertentu. Fenomena alam seperti banjir juga bisa meningkatkan risiko pencemaran air.

Berikut beberapa penyakit yang perlu diwaspadai karena banyak muncul di kondisi peralihan musim:

ISPA dan Influenza

Advertisement

Infeksi saluran pernapasan tersebut disebabkan oleh berbagai virus maupun bakteri (pada kasus tertentu). Perubahan suhu dan kelembapan udara yang terjadi secara mendadak membuat virus bereplikasi lebih cepat dan membuat mekanisme pertahanan di saluran pernapasan manusia melemah. Penularan terjadi melalui partikel pernapasan dan kontak dengan permukaan yang terkontaminasi. Gejala yang umumnya muncul meliputi batuk, pilek, demam tinggi mendadak, menggigil, nyeri otot dan sendi, sakit kepala, dan tenggorokan kering atau sakit.

Batuk dan Pilek (Common Cold)

Penyakit ini disebabkan oleh infeksi Rhinovirus yang menyerang hidung dan tenggorokan. Udara berdebu di akhir musim kemarau yang bercampur dengan udara lembap bisa memicu iritasi saluran pernapasan. Gejala yang biasanya terjadi mencakup hidung tersumbat/meler, bersin-bersin, sakit tenggorokan ringan, batuk berdahak, hingga badan terasa lelah tanpa demam tinggi.

Asma dan Alergi

Udara yang lembap bisa memicu pertumbuhan spora jamur di area lembap dan meningkatkan jumlah debu di udara sehingga bisa merangsang reaksi hipersensitivitas pada saluran pernapasan. Gejala yang umumnya terjadi meliputi napas berbunyi, sesak napas, dada terasa berat, batuk hebat di malam/pagi hari, dan bersin berulang saat terpapar udara dingin.

Advertisement

Artikel Terkait

Antisipasi Banjir Luapan saat Musim Hujan, Pemkab Mojokerto Boyong Lima Truk Sampah Sungai Sadar

Antisipasi Banjir Luapan saat Musim Hujan, Pemkab Mojokerto Boyong Lima Truk Sampah Sungai Sadar

Sebanyak lima truk sampah tanaman dan plastik diangkut dari aliran Sungai Sadar di Desa Gebangmalang, Kecamatan Mojoanyar, Kabupaten Mojokerto, Sabtu (17/10). Pembersihan sampah ini dilakukan untuk mengantisipasi banjir

Cuaca Terkini, Sejumlah Wilayah Indonesia Berpotensi Hujan

Cuaca Terkini, Sejumlah Wilayah Indonesia Berpotensi Hujan

BMKG juga mengingatkan adanya potensi hujan sedang hingga lebat di sejumlah wilayah, termasuk Sumatera Barat, Bengkulu, Kalimantan Barat, Papua Pegunungan, Aceh, Sumatera Utara, dan Kalimantan Utara.

Hujan saat Kemarau, Waspadai Ancaman Gangguan Kesehatan

Hujan saat Kemarau, Waspadai Ancaman Gangguan Kesehatan

Meski telah memasuki musim kemarau, belakangan ini hujan masih mengguyur wilayah Kota dan Kabupaten Mojokerto. Baik pada pagi maupun malam hari. BMKG Juanda meminta agar masyarakat tetap mewaspadai dampak dari fenomena i

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer