Kamis, 20 Jan 2022
Radar Mojokerto
Home / Journey
icon featured
Journey
M. Ainun Arief, Pelukis Gunakan Pewarna Kopi

Lebih Ekonomis, Sekaligus Kenalkan Tradisi Budaya Trawas

14 Januari 2022, 08: 45: 59 WIB | editor : Fendy Hermansyah

Lebih Ekonomis, Sekaligus Kenalkan Tradisi Budaya Trawas

KREATIF: M. Ainun Arief saat proses melukis menggunakan bahan bubuk kopi yang mengangkat tema tradisi dan budaya lokal. (Rizal Amrulloh/jawaposradarmojokerto.id)

Share this      

Kopi tidak hanya nikmat diseduh untuk mencari inspirasi. Di tangan Mochamad Ainun Arief, 20, kopi juga mampu dikreasikan menjadi karya lukis bernilai seni tinggi. Melalui bingkai lukisan tersebut juga dijadikan sebagai media mengenalkan tradisi dan budaya lokal di Kecamatan Trawas.

RIZAL AMRULLOH, Trawas, Jawa Pos Radar Mojokerto 

BERAWAL dari hobi melukis, M. Ainun Arief belakangan mencoba berimprovisasi untuk melukis menggunakan bahan pewarna alami. Dan, pilihannya jatuh pada bahan kopi.

Baca juga: Teduh dengan Dahan yang Membumi

Warga Dusun Sendang, Desa Penanggungan, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto ini mengaku kepincut dengan warna pekat kopi karena mampu menghasilkan karya lukis monokrom. ’’Karena bahannya memang hanya bubuk kopi sama air saja,’’ terang Ainun.

Menurutnya, goresan dengan warna tunggal tersebut selaras dengan tema lukisannya yang condong mengusung tradisi budaya di Kecamatan Trawas. Dengan menggunakan media kertas watercolor, karya lukis yang dihasilkan mampu memunculkan kesan klasik.

Namun, sebut Ainun, dibutuhkan teknik tertentu untuk memainkan gradasi warna pada lukisan berbahan kopi. Salah satu yang membutuhkan kejelian adalah saat mencampurkan bahan bubuk kopi dan air. ’’Semakin sedikit air, maka warna semakin tebal. Sebaliknya, kalau banyak air juga semakin semakin pudar warnanya,’’ tandasnya.

Selain itu, tidak semua bubuk kopi dapat dijadikan sebagai pewarna lukisan. Ainun menyebutkan, jenis kopi yang paling baik untuk dijadikan sebagai bahan melukis adalah arabika.

Sebab, jenis kopi tersebut memiliki karakteristik khusus. Selain memiliki tekstur yang lengket, bubuk kopi arabica juga tidak berampas saat dicampur dengan air. ’’Kalau jenis robusta kan masih meninggalkan ampas, sehingga bisa mengotori media kertas. Warnanya juga akan pudar kalau sudah kering,’’ beber remaja kelahiran Mojokerto, 23 April 2001 ini.

Alat yang digunakan untuk membuat karya lukis berbahan kopi juga cukup sederhana. Untuk membuat goresan warna halus, Ainun memakai kuas lukis seperti pada umumnya. Namun, untuk menciptakan garis tertentu, dia memanfaatkan sendok dan garpu. ’’Saya pakai sendok dan garpu hanya untuk bagian-bagian yang detail saja,’’ imbuhnya.

Di samping itu, sepasang peralatan makan tersebut juga cukup mudah didapat mana pun. Hal itu juga menjadi salah satu alasan Ainun melukis menggunakan bahan bubuk kopi. Sebab, di Trawas yang notabene kawasan pegunungan cukup sulit untuk bisa mendapatkan bahan-bahan membuat lukisan. ’’Makanya pakai yang ada di sekitar saja. Ternyata pakai kopi juga bisa, harganya juga ekonomis,’’ kelakarnya.

Sejauh ini, karya-karya lukisan Ainun masih sebatas untuk dijadikan sebagai pameran. Bahkan, beberapa karyanya juga dipajang di kantor Balai Desa Penanggungan agar bisa dinikmati warga maupun pengunjung secara cuma-cuma.

Beberapa karya lukisannya membingkai tentang suasana pedesaan, pemandangan alam, pertanian, budaya, kesenian, dan kearifan lokal di Desa Penanggungan dan Kecamatan Trawas pada umumnya. Diakui Ainun, sejumlah tawaran sudah mulai datang untuk dibuatkan jasa lukisan berbahan kopi. Namun, saat ini dia masih belum berencana untuk mengkomersialkan karyanya karena fokus untuk mempromosikan potensi di desanya. ’’Karena tujuan saya melukis sebagai sarana untuk memperkenakan tradisi dan budaya. Khususnya di kawasan Trawas,’’ tandas pemuda yang hobi fotografi ini. (fen)

(mj/ram/fen/JPR)

 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
Facebook Twitter Instagram YouTube
©2022 PT. JawaPos Group Multimedia