Rabu, 27 Oct 2021
Radar Mojokerto
Home / Journey
icon featured
Journey
Transportasi Air di Sungai Brantas Mojokerto

Jalur Perdagangan dan Komoditas Ekspor

07 Oktober 2021, 08: 45: 59 WIB | editor : Fendy Hermansyah

Jalur Perdagangan dan Komoditas Ekspor

TRANSPORTASI: Aliran sungai Brantas di Mojokerto yang pernah menjadi jalur transportasi air menghubungkan ke beberapa daerah. (Rizal Amrulloh/jawaposradarmojokerto.id)

Share this      

SEBELUM jalur darat tersambung, transportasi air menjadi penghubung utama menuju antardaerah. Di Mojokerto, aliran sungai Brantas pernah menjadi jalur transportasi yang cukup sibuk. Bahkan menjadi urat nadi perdagangan dengan berbagai komoditas yang diangkut mengggunakan perahu.

Sejarawan Mojokerto, Ayuhanafiq memaparkan, pemanfaatan sungai Brantas menjadi jalur transportasi air telah berlangsung sejak masa Kerajaan Majapahit. Sungai yang membelah wilayah Kota dan Kabupaten Mojokerto ini menjadi akses perdagangan berbagai jenis bahan pangan ke luar daerah.

Dikatakannya, tingkat lalu lintas di sungai Brantas semakin ramai seiring berdirinya pabrik gula di pertengahan abad ke-19. ”Karena terdapat puluhan pabrik gula yang berdiri di sekitar sungai Brantas,” ulasnya.

Baca juga: View Alam yang Instagramable

Sejak saat itu, sungai Brantas tidak hanya sebagai jalur transportasi air yang mengangkut barang perdagangan dan hasil pertanian. Tetapi juga mengirim komoditas ekspor berupa gula. Hasil produksi industri gula di Mojokerto itu dikirim ke Surabaya yang kemudian dipasarkan ke Eropa.

Jalur transportasi air dari Mojokerto ke Surabaya melalui akses di pintu Air Mlirip. Dari sungai Brantas, perahu kemudian melintasi aliran sungai Mas hingga sampai ke Kota Pahlawan.

Karena itu, pintu air Mlirip yang dibangun tahun 1846 itu didesain memiliki dua pintu pembuangan. Kedua pintu tersebut berfungsi meratakan permukaan air sungai dengan cara dibuka secara bergantian. ”Setelah permukaan air seimbang, maka perahu dari aliran sungai Brantas bisa melintas ke arah sungai Mas,” ulasnya pria yang akrab disapa Yuhan ini.

Sistem yang sama juga diterapkan dari arah sebaliknya. Sehingga, lanjut Yuhan, pintu air Mlirip tidak bisa dilalui dua perahu secara bersamaan. Karena itu, ditempatkan sejumlah petugas yang disebut sebagai mantri. Mereka bertugas mengatur arus lalu lintas perahu yang melewati jalur penghubung Mojokerto-Surabaya.

Di sisi lain, penjaga pintu air yang dikepalai Wedono tersebut juga bertanggung jawab menjaga debit air agar tetap stabil. Termasuk beberapa pekerja lainnya yang bertugas sebagai operasional pintu air dan pandai besi atau teknisi untuk memperbaiki kerusakan.

Ketua Bidang Kajian dan Pengembangan Dewan Kebudayaan Daerah (DKD) Kota Mojokerto ini menambahkan, selain Surabaya, sungai Brantas juga menjadi jalur penghubung ke derah lainnya. Bahkan mampu mengakses hingga ke wilayah Kediri. ”Sungai Brantas masih ramai dilalui perahu-perahu hingga awal pergantian abad ke-20,” bebernya.

Makin ramainya jalur transportasi air di sungai Brantas, membuat kalangan pengusaha di era kolonial mendirikan perusahaan pelayaran sungai. Beberapa di antaranya yang tercatat adalah Firma Fraser Eaton & Co, Erdman & Seilcken, serta Wellenstein Krause & Co. (ram/ron)

(mj/ram/fen/JPR)

 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
Facebook Twitter Instagram YouTube
©2021 PT. JawaPos Group Multimedia