Rabu, 01 Dec 2021
Radar Mojokerto
Home / Journey
icon featured
Journey
Festival Jalur Rempah Titik Simpul Jawa Timur

Membawa Kembali Kejayaan Rempah Era Majapahit

02 November 2021, 13: 42: 04 WIB | editor : Fendy Hermansyah

Membawa Kembali Kejayaan Rempah Era Majapahit

JALUR REMPAH: Sejarawan mengupas sejarah rempah terutama saat zaman Kerajaan Majapahit. (Martda Vadetya/jawaposradarmojokerto.id)

Share this      

HARI pertama gelaran Festival Jalur Rempah Titik Simpul Jawa Timur kolaborasi Dirjen Kebudayaan Kemendikbud Ristek RI dengan BPCB Jawa Timur dibuka dengan workshop di Hotel Ayola Sunrise Mojokerto, kemarin (1/11). Bertemakan ’’Rempah Masa Depan Kita’’, festival besutan pemerintah itu menyuguhkan tiga topik ciamik.

Workshop pertama bertajuk ’’Historia Rempah Untuk Masa Depan’’. Puluhan peserta dari pelaku UMKM, perajin, dan komunitas rempah dari penjuru Jawa Timur. Mereka diajak menilik sejarah sekaligus menoreh masa depan rempah. Dalam sesi pertama itu, sejarawan Majapahit Sugi Lanus, dihadirkan sebagai pemateri yang dimoderatori Ayuhanafiq dari Dewan Kebudayaan Daerah (DKD) Kota Mojokerto.

Bukan tanpa sebab, Mojokerto punya sejarah panjang tentang rempah. Terutama pada era Kerajaan Majapahit. Bahkan, sejumlah prasasti diketahui berisikan tentang hasil bumi tersebut. ’’Rempah adalah komoditi hasil bumi. Beberapa prasasti banyak yang menyebutkan terkait itu. Tapi, hasil bumi yang disebutkan sangat terbatas,’’ ujar Arkeolog Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jatim Wicaksono Dwi Nugroho, kemarin.

Baca juga: Rindu Wisata Saat Pandemi Berakhir

Dijelaskannya, secara garis besar tidak banyak rempah yang dijadikan komoditi di Jawa saat itu. Bahkan, hasil bumi yang diperdagangkan sangat sederhana. Yakni, umbi-umbian hingga mengkudu. ’’Tidak banyak rempah yang dijadikan komoditi saat itu. Pada masa Mpu Sindok, mereka menguasai Tuban dan didirikan pelabuhan internasional untuk perdagangan komiditi,’’ bebernya.

Untuk diketahui, Mpu Sindok adalah raja pertama Kerajaan Mataram Kuno periode Jawa Timur atau sering disebut Kerajaan Medang. Berdasarkan sejarah, Majapahit justru mengantongi pendapatan besar sektor jasa. Yakni, dengan didirikannya pelabuhan transit untuk memonopoli rempah dari wilayah Indonesia Timur untuk dijual ke wilayah Indonesia Barat. ’’Artinya saat itu Majapahit memonopoli dan mengendalikan perdagangan rempah di Nusantara,’’ terangnya.

Tak pelak, adanya Festival Jalur Rempah Titik Simpul Jawa Timur bertema ’’Rempah Untuk Masa Depan’’ ini diharapkan mampu kembali membawa kejayaan rempah di masa lalu. ’’Untuk membuka wawasan generasi milenial di Mojokerto tentang potensi usaha yang bisa dilakukan dari mengolah rempah dari tradisional sampai modern,’’ tandasnya.

Branding Produk Rempah

TAK hanya menoleh sejarah, Festival Jalur Rempah Titik Simpul Jawa Timur menyuguhkan sejumlah strategi bagi para pelaku rempah. Di antaranya, branding untuk produk rempah.

Strategi tersebut tak jauh dari dunia digital. Sebab, tak bisa dipungkiri lagi, teknologi kini sudah menjadi bagian hidup sekaligus mempermudah aktivitas manusia. Termasuk branding produk rempah. Hal tersebut diulas tuntas pada workshop sesi kedua yang bertajuk ’’Video Branding Rempah Untuk Masa Depan’’.

Direktur Ishvara Media, Dwi Ade Dharma Putra dihadirkan sebagai pemateri. Dimoderatori Dosen FISIP UNIM Rakhmad Saiful R, praktisi advertising di Bumi Majapahit itu berbagi insight pada para pelaku rempah yang hadir. Sesi ini mengupas tuntas terkait produk, pengemasan, hingga pemasaran rempah.

’’Kita pelajari strategi rempah untuk masa depan. Jadi, tidak cuma punya produk mentah. Kita gandeng mereka untuk menambah wawasan branding-nya mulai dari produk, pengemasan, sampai pemasarannya. Di mana selama pandemi ini cenderung pada perdagangan online,’’ ujar Direktur Kreatif sekaligus kurator Festival Jalur Rempah Kemendikbud Rama Soeprapto.

Dikatakannya, strategi branding di era digital saat ini dinilai perlu dilakukan. Yakni, melalui sosial media hingga platform marketplace. Meski begitu, perlu adanya adaptasi guna menguasai menyesuaikan dengan perkembangan teknologi tersebut bagi para generasi non milenial. Namun, diyakini hal tersebut bisa diatasi dalam waktu singkat. ’’Ketika produk itu sudah terbentuk, tinggal cara mengemasnya saja supaya baik (dipandang) secara foto dan video. Salah satunya melalui branding itu,’’ jelasnya.

Tak hanya itu, menurutnya, kekuatan influencer untuk ranah marketing juga perlu diperhitungkan. Sebab, hal tersebut dinilai mampu mendongkrak produk rempah dengan masing-masing kualitasnya. Meski begitu, juga perlu adanya ide kreatif guna menjaga keberlangsungan produk rempah tersebut. ’’Inovasi dan pemikiran intelektual dari generasi milenial dibutukan untuk mengolah hasil bumi khas Indonesia ini. Sehingga, itu diharapkan bisa menghasilkan perekonimian yang menjanjikan,’’ tukasnya. (vad/fen)

(mj/VAD/fen/JPR)

 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
Facebook Twitter Instagram YouTube
©2021 PT. JawaPos Group Multimedia