Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Baksone gede imbuh bakwan
Moleh kerjo bukane ngrumat anak
Malah ngelayap koyok jek perawan
PERNIKAHAN bukan hanya urusan antara dua sejoli. Suka atau tidak suka, keluarga juga turut terlibat.
Contohnya keluarga Mukiyo (nama samaran). Yang cerai hanya ia dan Tulkiyem (juga nama samaran), tapi yang ikut ngurus cerai sampai ke Pengadilan Agama (PA) satu keluarga dibawa. Bapak, ibu, dan anaknya ikut semua. Bikin PA semakin penuh di hari Senin.
Di PA Kelas 1A Mojokerto kemarin, Mukiyo tak banyak bicara. Dia terlalu sibuk mengurus anaknya yang lari ke sana-sini. Alhasil sang ibu yang banyak bercerita.
Hari itu adalah hari pertama Mukiyo mengurus cerai. Jalan perpisahan ia pilih lantaran Tulkiyem kurang bertanggung jawab menjalankan tugas menjadi istri. Tulkiyem memang seorang wanita karir yang harus membagi tugas antara kerja dan urusan rumah. Tapi bukan itu masalahnya. Kebiasaannya setelah kerja itu yang membuat masalah.
Kalau kata ibu mertuanya, Tulkiyem ini kurang dolan. Sejak kecil, ia hanya fokus belajar. Karena desakan ekonomi, setelah pendidikan tingkat atasnya selesai, ia langsung bekerja demi keluarga. ’’Pas nyambut gawe iki terus ketemu anakku akhire rabi,’’ beber sang ibu mertua Tulkiyem.
Inilah yang menjadi pemicu masalahnya. Karena kurang dolan di masa muda, Tulkiyem melampiaskannya setelah menikah. Hampir tiap hari dia pulang larut. Bukan karena lembur, tapi sepulang kerja nglayap dulu sama teman-temannya.
Yang membuat geram, Tulkiyem ini begitu keras kepala. Sebagai istri yang sudah punya anak, tentu saja tindakannya salah. Namun ia akan mencak-mencak kalau diingatkan. Setiap kali diingatkan, ia konsisten dalam kemarahan. ’’Gak nduwe tanggung jawab, gak ada rasa bersalah. Iso-isone perempuan sikape kayak gitu,’’ kata ibu Mukiyo geram.
Perilaku suka pulang malam Tulkiyem ini juga yang membuat kondisi rumah tangganya makin tak karuan. Selain sering cekcok dengan Mukiyo, pekerjaan rumahnya tak pernah terurus, anak semata wayangnya yang masih kecil juga jauh dengannya. ’’La yaopo, budal mruput mulihe peteng. Kapan ketemu anak,’’ gerutu warga Kecamatan Kutorejo ini.
Jangan tanya kalau akhir pekan Tulkiyem ke mana.Bukannya malah menyempatkan waktu bareng keluarga, Tulkiyem malah asyik ngelayap juga. ’’Opo maneh ndemek gawean omah, anake dewe ae gak keramut,’’ ulasnya.
Sikap istri lupa daratan inilah, yang mendorong Mukiyo untuk menalak Tulkiyem. Tentu saja, keputusan ini disambut sorak-sorai keluarga yang memang sudah tahu tabiat Tulkiyem. ’’Buat apa punya istri gaonok rasa tanggung jawab gitu. Ya nek dulu, masih kemakan cinta makane emoh cerai. Sekarang tau rasa, sadar sendiri,’’ pungkas Mukiyo yang akhirnya angkat bicara. (oce/fen)
Advertisement
Advertisement
Artikel Terkait
Advertisement
Berita Terkini
Advertisement
Advertisement



