Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Memiliki momongan tentunya menjadi hal yang paling ditunggu oleh pasangan suami istri (pasutri). Tapi, meskipun telah berusaha namun pasangan Tulkiyem, 34, dan Mukiyo, 33 (nama samaran) belum juga tiba di depan pintu rezeki itu. Tuhan masih menguji kesabaran keduanya agar pintu rezeki terbuka.
Sayangnya, mertua Tulkiyem, tidak seperti itu. Keinginan punya cucu pertama yang membuncah, membuat ibu Mukiyo campur tangan ke urusan rumah tangga anaknya. Hingga pada puncaknya, Tulkiyem diminta cerai oleh mertuanya. Lantaran ia belum bisa memberi sang mertua cucu. ’’Ket awal rabi sampek dino iki, yo pancet sabar. Soal anak, iku kan gak iso dipaksa. Tergantung sing kuoso kate dikeki kapan,’’ ujar Tulkiyem di ruang tunggu Pengadilan Agama (PA) Kelas 1A Mojokerto.
Namun, memang dasarnya mertuanya yang bawel, Tulkiyem pun memilih mengalah. Dia pun terpaksa harus meninggalkan Mukiyo, meski usia pernikahan mereka sudah berusia 9 tahun. ’’Aku wes gak sanggup kudu koyok pie maneh. Opo neh nek wes dicuekin mbek mertua,’’ tuturnya.
Warga Kecamatan Dlanggu ini pun sempat mencoba beberapa anjuran dokter agar segera memiliki momongan. Tapi hasilnya nihil. Di samping itu, mertuanya yang rewel sudah menanti selama dua tahun terakhir. ’’Nek ndek omah gitu kerep onok ae masalah. Sampek masalah sepele ae digedekno. Iki akhire, aku dikongkon pegatan karo bojoku,’’ ungkapnya.
Mukiyo juga tidak bisa berbuat apa-apa. Meski ia sudah membela Tulkiyem, tapi kedua orang tuanya selalu membuat istrinya itu tidak nyaman. Tulkiyem diminta mertuanya cerai agar Mukiyo bisa menikah dengan wanita lain.
Karena tidak bisa berbuat apa-apa, dia pun dengan terpaksa melakukan itu. ’’Aku pasrah nek wes koyok ngene iki. Durung iso ngekeki momongan, saiki malah disuruh cerai. Gak tau wes kudu pie,’’ tandasnya. (oce/fen)
Advertisement
Advertisement
Artikel Terkait
Advertisement
Berita Terkini
Advertisement
Advertisement


