alexametrics
30.8 C
Mojokerto
Tuesday, May 24, 2022

Divonis Berat, Eks Direktur PDAM Melawan

MAGERSARI, Jawa Pos Radar Mojokerto – Mantan Direktur PDAM Maja Tirta, Kota Mojokerto, Trisno Nur Palupi, melawan putusan majelis hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Surabaya, di Sidoarjo. Ia tak puas dengan putusan hakim dan mengajukan banding atas putusan yang sangat berat tersebut.

Sutrisno diganjar hukuman penjara selama 6 tahun setelah terbukti bersalah atas penyalahgunaan dana pernyertaan modal pemerintah daerah selama tiga tahun. Selain itu, ia juga harus membayar denda Rp 200 juta subsider tiga bulan kurungan penjara.

Tak hanya Trisno. Terdakwa kedua, yakni Direktur Utama PT Chrismalis Artha Maju Sitorus juga melakukan perlawanan. Rekanan PDAM Kota Mojokerto ini sebelumnya telah diganjar hukuman penjara 6 tahun, denda Rp 200 juta subsider tiga bulan, serta membayar uang pengganti Rp 913.405.000 subsider 3 tahun penjara.

Kajari Kota Mojokerto Halila Rama Purnama, SH, mengatakan, keduanya telah positif mengajukan banding ke tingkat Pengadilan Tinggi (PT) atas putusan tersebut. ’’Kita sudah dapat surat bahwa keduanya masih melakukan upaya hukum. Berupa banding,’’ ujarnya.

Lantaran melawan atas putusan bersalah tersebut, kata Halila, jaksa penuntut pun melakukan hal yang sama. ’’Kita juga banding,’’ bebernya.

Baca Juga :  Rumah Pegawai Lapas Mojokerto Dilempar Molotov, Meledak dan Terbakar

Senada ditegaskan Kasi Pidsus Kejari Kota Mojokerto Tarni Purnomo. Menurutnya, pasca mendapat kepastian banding atas putusan kasus korupsi tersebut, jaksa penuntut turut melakukan perlawanan. ’’Sudah saya tandatangani untuk memori bandingnya,’’ jelasnya.

Sejatinya, kejari ogah mengajukan banding. Karena, putusan hakim tersebut, tak jauh dari tuntutan jaksa. JPU menuntut Trisno Palupi dengan hukuman penjara selama 7 tahun dan denda Rp 200 juta. Sedangkan, Maju Sitorus dengan hukuman yang sama ditambah dengan uang pengganti Rp 913 juta.

Namun, langkah kedua terdakwa yang tak kunjung berhenti, membuat kejari akan melakukan hal senada. ’’Karena terdakwa banding, kita ya ikut banding,’’ pungkas Purnomo.

 

Sementara itu, kuasa hukum Trisno Nur Palupi, Iwut Widiantoro, menegaskan, banding yang diajukan kliennya disebabkan sejumlah faktor. Di antaranya, putusan yang sangat berat dan hanya turun setahun dari tuntutan jaksa penuntut selama 7 tahun penjara. ’’Tuntutannya dengan hukuman selama 7 tahun. Seharusnya bisa jauh lebih rendah. Bukan 6 tahun,’’ jelasnya.

Selain itu, kata Iwut, selama proses persidangan berlangsung, jaksa tak mampu membuktikan jika Trisno menikmati atau memperkaya dirinya selama menjabat direktur PDAM Maja Tirta. ’’Sama sekali tidak ada bukti. Nah, tersangkutnya Trisno hanya karena tanggung jawab sebagai seroang pejabat saja. Bukan karena memperkaya dirinya,’’ tegas Iwut.

Baca Juga :  Kejari Sita Empat Aset Tersangka Dugaan Korupsi Bank Jatim di Mojokerto

Dengan proses banding, ia berharap, hukuman yang dijatuhkan ke kliennya bisa lebih ringan. Pun demikian dengan denda sebesar Rp 200 juta.

Seperti diketahui, kedua terdakwa dinilai bersalah hakim pengadilan Tipikor karena melanggar pasal 2 ayat 1 juncto pasal 18 Undang-Undang Nomor 31 Undang-Undang Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor).

Hakim membeber sejumlah data. Di antaranya, modus operandi yang dilakukan terdakwa Trisno Nur Palupi. Selama menjabat, ia telah menyalahgunakan kewenangan ketika melakukan pembelian bahan kimia jenis tawas. Bahan penjernih air ini dibeli dari perusahaan abal-abal milik terdakwa Maju Sitorus. Dan, harganya tidak sesuai dengan harga pasar. Selain kesalahan ini, sebagai direktur juga menyalahgunakan kewenangannya karena telah menggunakan dana kas perusahaan selama menjabat sejak 2013 hingga 2017 tanpa persetujuan Wali Kota Mojokerto dan Dewan Pengawas.

MAGERSARI, Jawa Pos Radar Mojokerto – Mantan Direktur PDAM Maja Tirta, Kota Mojokerto, Trisno Nur Palupi, melawan putusan majelis hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Surabaya, di Sidoarjo. Ia tak puas dengan putusan hakim dan mengajukan banding atas putusan yang sangat berat tersebut.

Sutrisno diganjar hukuman penjara selama 6 tahun setelah terbukti bersalah atas penyalahgunaan dana pernyertaan modal pemerintah daerah selama tiga tahun. Selain itu, ia juga harus membayar denda Rp 200 juta subsider tiga bulan kurungan penjara.

Tak hanya Trisno. Terdakwa kedua, yakni Direktur Utama PT Chrismalis Artha Maju Sitorus juga melakukan perlawanan. Rekanan PDAM Kota Mojokerto ini sebelumnya telah diganjar hukuman penjara 6 tahun, denda Rp 200 juta subsider tiga bulan, serta membayar uang pengganti Rp 913.405.000 subsider 3 tahun penjara.

Kajari Kota Mojokerto Halila Rama Purnama, SH, mengatakan, keduanya telah positif mengajukan banding ke tingkat Pengadilan Tinggi (PT) atas putusan tersebut. ’’Kita sudah dapat surat bahwa keduanya masih melakukan upaya hukum. Berupa banding,’’ ujarnya.

Lantaran melawan atas putusan bersalah tersebut, kata Halila, jaksa penuntut pun melakukan hal yang sama. ’’Kita juga banding,’’ bebernya.

Baca Juga :  Kasus Korupsi PDAM Dikembangkan, Ada Potensi Seret Tersangka Baru?

Senada ditegaskan Kasi Pidsus Kejari Kota Mojokerto Tarni Purnomo. Menurutnya, pasca mendapat kepastian banding atas putusan kasus korupsi tersebut, jaksa penuntut turut melakukan perlawanan. ’’Sudah saya tandatangani untuk memori bandingnya,’’ jelasnya.

- Advertisement -

Sejatinya, kejari ogah mengajukan banding. Karena, putusan hakim tersebut, tak jauh dari tuntutan jaksa. JPU menuntut Trisno Palupi dengan hukuman penjara selama 7 tahun dan denda Rp 200 juta. Sedangkan, Maju Sitorus dengan hukuman yang sama ditambah dengan uang pengganti Rp 913 juta.

Namun, langkah kedua terdakwa yang tak kunjung berhenti, membuat kejari akan melakukan hal senada. ’’Karena terdakwa banding, kita ya ikut banding,’’ pungkas Purnomo.

 

Sementara itu, kuasa hukum Trisno Nur Palupi, Iwut Widiantoro, menegaskan, banding yang diajukan kliennya disebabkan sejumlah faktor. Di antaranya, putusan yang sangat berat dan hanya turun setahun dari tuntutan jaksa penuntut selama 7 tahun penjara. ’’Tuntutannya dengan hukuman selama 7 tahun. Seharusnya bisa jauh lebih rendah. Bukan 6 tahun,’’ jelasnya.

Selain itu, kata Iwut, selama proses persidangan berlangsung, jaksa tak mampu membuktikan jika Trisno menikmati atau memperkaya dirinya selama menjabat direktur PDAM Maja Tirta. ’’Sama sekali tidak ada bukti. Nah, tersangkutnya Trisno hanya karena tanggung jawab sebagai seroang pejabat saja. Bukan karena memperkaya dirinya,’’ tegas Iwut.

Baca Juga :  Kejari-Polresta Terus Usut GMSC

Dengan proses banding, ia berharap, hukuman yang dijatuhkan ke kliennya bisa lebih ringan. Pun demikian dengan denda sebesar Rp 200 juta.

Seperti diketahui, kedua terdakwa dinilai bersalah hakim pengadilan Tipikor karena melanggar pasal 2 ayat 1 juncto pasal 18 Undang-Undang Nomor 31 Undang-Undang Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor).

Hakim membeber sejumlah data. Di antaranya, modus operandi yang dilakukan terdakwa Trisno Nur Palupi. Selama menjabat, ia telah menyalahgunakan kewenangan ketika melakukan pembelian bahan kimia jenis tawas. Bahan penjernih air ini dibeli dari perusahaan abal-abal milik terdakwa Maju Sitorus. Dan, harganya tidak sesuai dengan harga pasar. Selain kesalahan ini, sebagai direktur juga menyalahgunakan kewenangannya karena telah menggunakan dana kas perusahaan selama menjabat sejak 2013 hingga 2017 tanpa persetujuan Wali Kota Mojokerto dan Dewan Pengawas.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

Terancam Hukuman Maksimal

PPDB SMA/SMK Dimulai


/