25.8 C
Mojokerto
Thursday, February 2, 2023

Tiga Pembunuh Karyawan Toko Gorden di Mojokerto Terancam Hukuman Mati

Korban Ditusuk dengan Besi hingga 15 Kali, Dipicu Utang yang Tak Dibayar

MOJOSARI, Jawa Pos Radar Mojokerto – Teka-teki kasus pembunuhan Ahmad Hasan Muntholib, 26, pekan lalu, akhirnya terungkap. Karyawan Toko Bintang Jaya Gordyn itu dibunuh di tempat kerjanya dengan 15 kali tusukan. Setelah dipastikan tewas, jasad korban dibuang di jurang Jalur Pacet-Cangar, Desa/Kecamatan Pacet.

Hal itu ditegaskan Kapolres Mojokerto AKBP Apip Ginanjar, kemarin. Menurutnya, tiga pelaku pembunuhan yang diamankan selang beberapa hari setelah ditemukannya jasad Muntholib yang terbungkus tikar di tepi jurang pekan lalu. Mereka adalah MNH alias Dayat, 25; MSJ alias Udin, 27; dan AA, 23. Ketiganya merupakan warga Kecamatan Puri.

”Pelaku MNH dan MSJ diamankan sekitar pukul 20.00 Rabu (23/11) di Jalan Raya Desa Denanyar, Kecamatan/Kabupaten Jombang. Saat mereka akan melarikan diri ke luar kota. Di mana beberapa saat sebelumnya, pelaku AA telah diamankan terlebih dahulu di wilayah Mojokerto,” ungkapnya saat konferensi pers kemarin.

Mobil Mitsubishi Lancer bernopol B 1050 UP dan Honda Brio bernopol S 1879 N turut diamankan petugas. Diduga sebagai sarana pelaku membuang jasad korban.

Aksi keji ketiganya, lanjut kapolres, dipicu permasalahan utang-piutang. Korban meminjam uang pada pelaku yang masih adik kakak itu, Dayat dan Udin, senilai Rp 7 juta sekitar enam bulan lalu. Masing-masing, Rp 4,5 juta pada Dayat dan Rp 2,5 juta pada Udin. ’’Oleh korban, uang hasil hutang tersebut digunakan untuk kebutuhan sehari-hari,’’ sebutnya.

Kata kapolres, tindak kejahatan yang dilakukan ketiga pelaku tersebut terakumulasi karena korban tak kunjung melunasi hutangnya. Bahkan, pemuda asal Dusun Jurangsari, Desa Belahantengah, Kecamatan Mojosari, itu memblokir nomor telepon Udin dan Dayat yang masih temannya tersebut. ’’Nomor telepon pelaku sempat diblokir oleh korban. Sehingga puncak kekesalan pelaku terjadi pada hari Senin (21/11) sekitar pukul 20.25 tersebut (korban dibunuh pelaku),’’ bebernya.

Baca Juga :  Soal Dugaan Pencemaran Lingkungan, DLH Mojokerto Sekadar Ingatkan Perusahaan

Senin (21/11) malam, Muntholib dihabisi di tempat kerjanya. Ketiganya punya peran masing-masing. Pelaku AA berperan memastikan keberadaan korban dan mengalihkan perhatian dengan mengajak berbincang. Udin membantu menyiapkan alat penusuk dari besi beton eser dan mobil Honda Brio sewaan untuk membuang jasad korban. Sekaligus membantu membungkus jasad korban membersihkan ceceran darah korban di toko. Sedangkan Dayat, berperan sebagai eksekutor.

”Saat bertemu dengan korban di toko, terjadi keributan yang akhirnya pelaku MNH (Dayat) menusukkan alat besi beton eser pada korban,” kata kapolres. Hasil otopsi menunjukkan, korban tewas dengan 15 luka tusukan di tubuhnya. Mulai dari bagian wajah, dada, hingga punggung belakang. Itu setelah korban ditikam pelaku memakai alat penusuk dari besi beton eser berukuran 10 mm yang dibentuk Y.

”Penyebab kematian korban karena benturan benda tumpul di kepala yang menembus tengkorak sehingga korban mati lemas,” urai Apip. Atas aksinya, ketiga pelaku dijerat Pasal 340 KUHP atau Pasal 338 KUHP dan atau Pasal 365 dan atau Pasal 351 KUHP tentang Pembunuhan Berencana.

Pasal berlapis tersebut dikenakan dengan ancaman hukuman maksimal penjara seumur hidup atau hukuman mati. ”Dua hari sebelumnya (eksekusi korban) , semuanya sudah direncanakan. Dan alat ini (penusuk dari besi beton eser) juga sudah disiapkan. Bukti-bukti sudah kami dapatkan semua,” tandas Apip.

Baca Juga :  Pendaftaran P3K Kota Mojokerto Dibuka

Motor dan HP Korban Langsung Dijual

Puas menghabisi nyawa korban dan membuang jasadnya ke jurang Jalur Alternatif Pacet-Cangar, Desa/Kecamatan Pacet, para pelaku menyasar barang milik korban. Barang berharga milik korban pun langsung digondol dan dijual.

Dayat mengaku, dompet, smartphone hingga motor Honda Beat warna merah bernopol S 2415 NAJ milik Muntholib langsung diembat usai menghabisi nyawa korban. Barang berharga milik korban itu langsung dijual untuk menutupi utang korban yang hasil penjualannya langsung dibagi berdua antara adik kakak tersebut. ’’Ada KTP, motor, hp. Motornya saya jual laku Rp 3 juta. Buat nutup utangnya (korban). Motornya saya jual ke teman saya,’’ ucapnya saat konferensi pers, kemarin.

Dayat dan Udin mengaku tega mengahisi nyawa teman sekolahnya itu lantaran Muntholib hanya mengumbar janji saat ditagih pelaku. ”Sudah ditagih berkali-kali, tapi selalu janji-janji saja,” sebut pria yang sehari-harinya bekerja tukang las itu. Sebelum mengeksekusi korban, Dayat melibatkan AA, teman perempuannya, untuk memancing dan memastikan keberadaan Muntholib saat itu. Sebab, sebelumnya nomor telepon pelaku diblokir oleh korban.

”Nomor telepon diblokir. Ngajak dia (AA) biar bisa bertemu (korban),” bebernya. Sementara itu, AA mengaku hanya sekadar membantu Dayat untuk bisa bertemu Muntholib. Terlebih, pengakuannya, dia tidak mendapatkan imbalan apapun dari kakak beradik asal Puri tersebut. ”Cuma bantu aja, bukan (ada imbalan) apa-apa,” ucap AA.

Informasi yang berhasil dihimpun, motor korban dijual pelaku pada rekannya di wilayah Dlanggu. Korban dan pelaku merupakan teman sekolah. Mereka pernah mengenyam pendidikan di salah satu lembaga setara SMA di wilayah Mojosari. (vad/ron)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/