alexametrics
28.8 C
Mojokerto
Saturday, May 28, 2022

Banyak PJU di Jalan Raya Bypass Mojokerto Padam

KOTA, Jawa Pos Radar Mojokerto – Pengguna jalan harus tetap meningkatkan kewaspadaan. Sebab, belakangan masih ada dua jalur yang diklaim menjadi jalur blackspot atau rawan terjadi kecelakaan lalu lintas.

Selain kondisi kondisi jalan yang sempit, arus lalu lintas sangat padat dianggap menjadi faktor utama. KBO Satlantas Polresta Mojokerto Ipda Karen, mengatakan, tertib berkendara memang tak bisa dianggap enteng.

Sebab, berbagai kasus kecelakaan yang ditangani kepolisian, human error menjadi faktor utama. ’’Satu, yang utama kecelakaan itu memang karena pengendara itu sendiri. Tapi, faktor lain seperti infrastruktur, hingga kepadatan arus lalu lintas juga menjadi pendukung terjadinya kecelakaan,’’ terangnya, kemarin.

Untuk itu, Karen meminta pengendara meningkatkan kewasapadaan. Khususnya di dua jalur yang sejauh ini dipetakan rawan terjadi kecelakaan. ’’Yang pasti jalur bypass dan jalur utara Sungai Brantas,’’ imbuhnya.

Baca Juga :  Komplotan Bermobil Avanza Jarah Baterai PJU

Menurut Karen, dua jalur ini diklaim menjadi jalur rawan akibat banyak faktor yang mempengaruhi. Selain tingginya angka kasus kecelakaan, di sisi sisi jalur tersebut selama ini padat kendaraan. Menyusul sebagai akses utama masyarakat dari bergai daerah. 

Seperti jalur trans nasional bypass. Banyaknya pegendara melintas ini tak lepas dari aksi kebut-kebutan atau saling mendahului antar pengendara. Terlebih saat malam hari, minimnya lampu penerangan jalan umum (PJU), membuat pengendara sulit mengidentifikasi kondisi jalan.

’’Jalur bypass juga tipikalnya jalur cepat, lebar, rusak, dan juga bergelombang. Meski belakangan yang berlubang sudah dilakukan perbaikan,’’ tuturnya. Demikian pun dengan jalur utara Sungai Brantas sebagai jalan alternatif dari arah Surabaya-Jombang.

’’Jalur ini juga menjadi pilihan favorit pengendara saat ke Jombang atau sebaliknya,’’ tegasnya. Dia menjelaskan, jalur bebas atau tidak ada batasan bagi pengguna jalan juga menjadikan jalur itu rawan kecelakaan. Menyusul, pada jam-jam tertentu, jalanan kerap dimanfaatkan mobil barang dan truk-truk besar yang melintas.

Baca Juga :  Hati-Hati, Minim Rambu, Bypass Mojokerto Rawan Kecelakaan

’’Sudah jalannya sempit, tidak ada pembatas. Jadi campur antara sepeda motor dan kendaraan besar,’’ ujarnya. Di samping itu, di beberapa titik blackspot terdapat tempat keramaian dan gang-gang kecil. ’’Ada 70-80 persen kecelakaan terjadi karena human error. Kalau karena faktor jalan sebenarnya itu bisa diantisipasi,’’ tuturnya.

Karen menegaskan, tren kasus kecelakaan belakangan ini, banyak didominasi tabrakan samping dan dari arah berlawanan, hingga beruntun. ’’Kefatalannya membuat korban sampai meninggal dunia. Baik karena saling benturan dengan benda tumpul atau korban terlindas ban truk ,’’ tegasnya. 

 

KOTA, Jawa Pos Radar Mojokerto – Pengguna jalan harus tetap meningkatkan kewaspadaan. Sebab, belakangan masih ada dua jalur yang diklaim menjadi jalur blackspot atau rawan terjadi kecelakaan lalu lintas.

Selain kondisi kondisi jalan yang sempit, arus lalu lintas sangat padat dianggap menjadi faktor utama. KBO Satlantas Polresta Mojokerto Ipda Karen, mengatakan, tertib berkendara memang tak bisa dianggap enteng.

Sebab, berbagai kasus kecelakaan yang ditangani kepolisian, human error menjadi faktor utama. ’’Satu, yang utama kecelakaan itu memang karena pengendara itu sendiri. Tapi, faktor lain seperti infrastruktur, hingga kepadatan arus lalu lintas juga menjadi pendukung terjadinya kecelakaan,’’ terangnya, kemarin.

Untuk itu, Karen meminta pengendara meningkatkan kewasapadaan. Khususnya di dua jalur yang sejauh ini dipetakan rawan terjadi kecelakaan. ’’Yang pasti jalur bypass dan jalur utara Sungai Brantas,’’ imbuhnya.

Baca Juga :  Geram Telur Diisukan Mengandung Racun

Menurut Karen, dua jalur ini diklaim menjadi jalur rawan akibat banyak faktor yang mempengaruhi. Selain tingginya angka kasus kecelakaan, di sisi sisi jalur tersebut selama ini padat kendaraan. Menyusul sebagai akses utama masyarakat dari bergai daerah. 

Seperti jalur trans nasional bypass. Banyaknya pegendara melintas ini tak lepas dari aksi kebut-kebutan atau saling mendahului antar pengendara. Terlebih saat malam hari, minimnya lampu penerangan jalan umum (PJU), membuat pengendara sulit mengidentifikasi kondisi jalan.

- Advertisement -

’’Jalur bypass juga tipikalnya jalur cepat, lebar, rusak, dan juga bergelombang. Meski belakangan yang berlubang sudah dilakukan perbaikan,’’ tuturnya. Demikian pun dengan jalur utara Sungai Brantas sebagai jalan alternatif dari arah Surabaya-Jombang.

’’Jalur ini juga menjadi pilihan favorit pengendara saat ke Jombang atau sebaliknya,’’ tegasnya. Dia menjelaskan, jalur bebas atau tidak ada batasan bagi pengguna jalan juga menjadikan jalur itu rawan kecelakaan. Menyusul, pada jam-jam tertentu, jalanan kerap dimanfaatkan mobil barang dan truk-truk besar yang melintas.

Baca Juga :  Tumpah di Jalan Raya Bypass, 9 Ribu Liter Migor Curah Jadi Jarahan

’’Sudah jalannya sempit, tidak ada pembatas. Jadi campur antara sepeda motor dan kendaraan besar,’’ ujarnya. Di samping itu, di beberapa titik blackspot terdapat tempat keramaian dan gang-gang kecil. ’’Ada 70-80 persen kecelakaan terjadi karena human error. Kalau karena faktor jalan sebenarnya itu bisa diantisipasi,’’ tuturnya.

Karen menegaskan, tren kasus kecelakaan belakangan ini, banyak didominasi tabrakan samping dan dari arah berlawanan, hingga beruntun. ’’Kefatalannya membuat korban sampai meninggal dunia. Baik karena saling benturan dengan benda tumpul atau korban terlindas ban truk ,’’ tegasnya. 

 

Artikel Terkait

Most Read

Tiga Anggota Dewan Tarik Dukungan

Volkswagen Super Beetle

Berani Adu Kualitas Dengan Alat Modern

Artikel Terbaru


/