alexametrics
27.8 C
Mojokerto
Thursday, May 26, 2022

Satpol PP Warning Warung Remang-Remang

MOJOSARI, Kabuoaten Mojokerto – Praktik prostitusi di warung remang-remang, di kawasan Desa Awang-Awang, Kecamatan Mojosari, terus dipelototi. Satpol PP Kabupaten Mojokerto memasang stiker dan spanduk ”Dalam Pengawasan” kemarin. Bersama unsur desa, petugas bakal mengawasi tindak tanduk warung tersebut.

Kasatpol PP Kabupaten Mojokerto Noerhono menjelaskan, petugas melakukan pemasangan spanduk dan stiker tersebut sekitar pukul 09.00 kemarin. Setidaknya, 29 warung yang berada di kawasan tersebut jadi sasaran. Spanduk dipasang di dua titik yang terbelah jalan desa tersebut. ’’Dari 29 warung yang ada, 25 di antaranya dalam kondisi tutup saat kami bersama pihak desa ke lokasi,’’ ujarnya kemarin.

Noerhono menyebut, pemasangan label ini merupakan langkah serius pemerintah dalam memberantas praktik prostitusi tersebut. Apalagi, aparatur desa turut mendorong petugas penegak perda untuk melakukan tindakan tegas. Hanya saja, sejauh ini petugas masih melakukan tahap sosialisasi sebelum dilakukan penutupan. ”Ini juga merupakan langkah serius kami memberantas praktik prostitusi. Dan pihak desa juga sudah menyampaikan ke kami supaya warung-warung itu ditutup karena menyediakan wanita penghibur itu. Tapi kan kita perlu lakukan sosialisasi dulu,’’ sebutnya.

Baca Juga :  Pemdes Mengadu ke Polisi

Meski telah ditempeli tanda pengawasan tersebut, pemilik warung masih diperbolehkan buka dan berjualan. Hanya saja, aktivitas warung benar-benar diawasi dan tidak ada aktivitas esek-esek serta penjualan miras. ’’Masih boleh buka, asalkan itu warungnya saja. Bukan menjual miras maupun menyediakan wanita,’’  ungkapnya.

Jika pengelola warung masih mengabaikan imbauan itu, tegas Noerhono, petugas bakal langsung memberikan sanksi. Yakni, menyeret pengelola dan para perempuan itu ke pengadilan untuk menjalani sidang tipiring. ’’Kalau ada yang nekat, kita tutup dan tipiring-kan warung-warung itu dan wanita-wanitanya,” tegasnya.

Prostitusi di kawasan warung itu melanggar Peraturan Daerah Kabupaten Mojokerto Nomor 2 Tahun 2013 Tentang Penyelenggaraan Ketertiban Umum dan Ketentraman Masyarakat. Artinya pemilik warung maupun pelaku bisnis esek-esek bakal disanksi tegas.  Yakni ancaman pidana penjara maksimal tiga bulan atau denda Rp 50 juta. ’’Tentu maksud dan tujuan dari dikenakannya sanksi itu untuk memberikan efek jera,’’ ucapnya.

Baca Juga :  Reklame Minol Dibongkar Satpol PP

Sebelumnya, Satpol PP Kabupaten Mojokerto menggerebek sejumlah warung remang-remang di Desa Awang-Awang itu pada Senin (25/10) malam. Petugas berhasil mengamankan sembilan PSK yang mayoritas warga dari luar kota itu. Kini, penyandang masalah kesejahteraan sosial (PMKS) tersebut telah dilakukan pembinaan oleh Dinas Sosial Provinsi Jawa Timur. ’’Kemarin (Rabu, 27/10) sembilan PMKS itu sudah kami kirim ke Dinsos Prov Jatim UPT RSBKW Kediri untuk dilakukan pembinaan,’’ tukas Noerhono. (vad/ron)

 

MOJOSARI, Kabuoaten Mojokerto – Praktik prostitusi di warung remang-remang, di kawasan Desa Awang-Awang, Kecamatan Mojosari, terus dipelototi. Satpol PP Kabupaten Mojokerto memasang stiker dan spanduk ”Dalam Pengawasan” kemarin. Bersama unsur desa, petugas bakal mengawasi tindak tanduk warung tersebut.

Kasatpol PP Kabupaten Mojokerto Noerhono menjelaskan, petugas melakukan pemasangan spanduk dan stiker tersebut sekitar pukul 09.00 kemarin. Setidaknya, 29 warung yang berada di kawasan tersebut jadi sasaran. Spanduk dipasang di dua titik yang terbelah jalan desa tersebut. ’’Dari 29 warung yang ada, 25 di antaranya dalam kondisi tutup saat kami bersama pihak desa ke lokasi,’’ ujarnya kemarin.

Noerhono menyebut, pemasangan label ini merupakan langkah serius pemerintah dalam memberantas praktik prostitusi tersebut. Apalagi, aparatur desa turut mendorong petugas penegak perda untuk melakukan tindakan tegas. Hanya saja, sejauh ini petugas masih melakukan tahap sosialisasi sebelum dilakukan penutupan. ”Ini juga merupakan langkah serius kami memberantas praktik prostitusi. Dan pihak desa juga sudah menyampaikan ke kami supaya warung-warung itu ditutup karena menyediakan wanita penghibur itu. Tapi kan kita perlu lakukan sosialisasi dulu,’’ sebutnya.

Baca Juga :  Tukang Kebun Gasak Cincin dan Uang

Meski telah ditempeli tanda pengawasan tersebut, pemilik warung masih diperbolehkan buka dan berjualan. Hanya saja, aktivitas warung benar-benar diawasi dan tidak ada aktivitas esek-esek serta penjualan miras. ’’Masih boleh buka, asalkan itu warungnya saja. Bukan menjual miras maupun menyediakan wanita,’’  ungkapnya.

Jika pengelola warung masih mengabaikan imbauan itu, tegas Noerhono, petugas bakal langsung memberikan sanksi. Yakni, menyeret pengelola dan para perempuan itu ke pengadilan untuk menjalani sidang tipiring. ’’Kalau ada yang nekat, kita tutup dan tipiring-kan warung-warung itu dan wanita-wanitanya,” tegasnya.

Prostitusi di kawasan warung itu melanggar Peraturan Daerah Kabupaten Mojokerto Nomor 2 Tahun 2013 Tentang Penyelenggaraan Ketertiban Umum dan Ketentraman Masyarakat. Artinya pemilik warung maupun pelaku bisnis esek-esek bakal disanksi tegas.  Yakni ancaman pidana penjara maksimal tiga bulan atau denda Rp 50 juta. ’’Tentu maksud dan tujuan dari dikenakannya sanksi itu untuk memberikan efek jera,’’ ucapnya.

Baca Juga :  Lima Desa Terseret Kasus Dugaan Korupsi
- Advertisement -

Sebelumnya, Satpol PP Kabupaten Mojokerto menggerebek sejumlah warung remang-remang di Desa Awang-Awang itu pada Senin (25/10) malam. Petugas berhasil mengamankan sembilan PSK yang mayoritas warga dari luar kota itu. Kini, penyandang masalah kesejahteraan sosial (PMKS) tersebut telah dilakukan pembinaan oleh Dinas Sosial Provinsi Jawa Timur. ’’Kemarin (Rabu, 27/10) sembilan PMKS itu sudah kami kirim ke Dinsos Prov Jatim UPT RSBKW Kediri untuk dilakukan pembinaan,’’ tukas Noerhono. (vad/ron)

 

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/