alexametrics
23.8 C
Mojokerto
Friday, May 27, 2022

Tiga Kali Berkas Dokter Kasus Asusila Dikembalikan

MOJOSARI, Jawa Pos Radar Mojokerto – Kasus dugaan asusila rentan dengan praktik human trafficking yang menyeret tersangka dr Andaryono, Sp. OG, tak kunjung tuntas. Bahkan, berkas perkara kasus yang diduga dilakukan dokter sepesialis penyakit kandungan di tempat praktiknya Desa Seduri, Kecamatan Mojosari, Kabupaten Mojokerto, kembali ditolak Kejaksaan Negeri (Kejari) Kabupaten Mojokerto.

Berkas perkara yang sudah bergulir sejak tahun lalu ini harus dikembalikan kepada penyidik Satreskrim Polres Mojokerto karena dinilai belum lengkap atau masih P-19. ’’Baru saja dikembalikan oleh kejaksaan. Ada beberapa yang perlu dilengkapi lagi,’’ ungkap Kasatreskrim Polres Mojokerto, AKP Dewa Primayoga, kemarin.Namun, Dewa enggan membeberkan kekurangan penyidik dalam penanganan perkara dugaan persetubuhan terhadap PL, 15, remaja asal Kecamatan Jatirejo, pada 26 Agustus 2019 lalu ini.

Yang jelas, lanjut Dewa, petunjuk yang diberikan kejaksaan kepada penyidik sudah diterima saat gelar perkara berlangsung. Di sisi lain, hal itu juga kaitannya masih dalam proses penyidikan. ’’Masalah teknis nggak bisa kita sampaikan,’’ tegasnya. Penyidik juga enggan menyebut kendala dalam menuntaskan kasus dengan tersangka dokter yang berdinas di RSUD Prof dr Soekandar Mojosari tersebut. Namun, dari arahan kejaksaan, masih ada sejumlah alat bukti yang harus dilengkapi. ’’Intinya berkas P-19. Masih ada berkas yang harus kita lengkapi,’’ tandasnya.

Baca Juga :  Edarkan Sabu 2,7 Ons, Pedagang Baju Dibekuk

Penuntasan kasus dengan tersangka dokter sepesialis kandungan ini tergolong cukup lama. Perlu diketahui, perkara ini dilaporkan ke Mapolres Mojokerto oleh keluarga korban pada 18 November lalu. Setelah dilakukan penyidikan, pada 30 Desember 2019 dr Andaryono ditetapkan sebagai tersangka. Penetapan ini setelah penyidik menemukan unsur pidana dalam peristiwa persetubuhan yang dilakukan dokter spesialis penyakit kandungan terhadap PL. Andaryono dijerat pasal 81 ayat 2 juncto pasal 2 ayat 1 Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. Ancaman hukumannya 15 tahun penjara. Dalam pasal ini juga disebutkan setiap orang yang dengan sengaja melakukan tipu muslihat serangkaian kebohongan atau membujuk anak melakukan persetubuhan juga didenda paling banyak Rp 5 miliar.

Baca Juga :  Sopir Lihat Google, Boks Kontainer Nyangkut Jembatan, Timpa Pemotor

Kendati demikian, pada 9 Januari lalu dalam pemeriksaan kali pertama sebagai tersangka, polisi menegaskan tidak melakukan penahanan terhadap Andaryono. Selain dianggap kooperatif, dalam surat keterangan dokter RSUD Prof dr Soekandar Mojosari, tersangka juga mengalami sakit diabetes dan komplikasi ke jantung. Tidak ditahannya tersangka membuat penyidik terus berusaha merampungkan berkas. Alhasil, pada Jumat (24/1) kepolisian baru melimpahkan berkas perkara tahap satu ke kejari hingga akhirnya berkas dinyatakan belum lengkap.

Pengembalian berkas ini bukan kali pertama. Setelah berulang kali berkas dilimpahkan ke kejari hingga  dilakukan penelitian, hasilnya masih ada kelengkapan yang harus dipenuhi penyidik. Hasil gelar perkara yang berlangsung di kejari, penyidik masih harus melengkapi karena terdapat kekurangan. Saat ini, kejari juga sudah memberikan petunjuk. Namun, faktanya, penyidik belum mampu lengkapi berkas perkara kasus dugaan asusila rentan dengan praktik human trafficking. Sehingga berkas perkara sesuai laporan korban pada 18 November 2019 ini dikembalikan. ’’P-19 sudah yang ketiga. Saat ini penyidik berupaya melengkapi P-19-nya,’’ jelas Dewa.

MOJOSARI, Jawa Pos Radar Mojokerto – Kasus dugaan asusila rentan dengan praktik human trafficking yang menyeret tersangka dr Andaryono, Sp. OG, tak kunjung tuntas. Bahkan, berkas perkara kasus yang diduga dilakukan dokter sepesialis penyakit kandungan di tempat praktiknya Desa Seduri, Kecamatan Mojosari, Kabupaten Mojokerto, kembali ditolak Kejaksaan Negeri (Kejari) Kabupaten Mojokerto.

Berkas perkara yang sudah bergulir sejak tahun lalu ini harus dikembalikan kepada penyidik Satreskrim Polres Mojokerto karena dinilai belum lengkap atau masih P-19. ’’Baru saja dikembalikan oleh kejaksaan. Ada beberapa yang perlu dilengkapi lagi,’’ ungkap Kasatreskrim Polres Mojokerto, AKP Dewa Primayoga, kemarin.Namun, Dewa enggan membeberkan kekurangan penyidik dalam penanganan perkara dugaan persetubuhan terhadap PL, 15, remaja asal Kecamatan Jatirejo, pada 26 Agustus 2019 lalu ini.

Yang jelas, lanjut Dewa, petunjuk yang diberikan kejaksaan kepada penyidik sudah diterima saat gelar perkara berlangsung. Di sisi lain, hal itu juga kaitannya masih dalam proses penyidikan. ’’Masalah teknis nggak bisa kita sampaikan,’’ tegasnya. Penyidik juga enggan menyebut kendala dalam menuntaskan kasus dengan tersangka dokter yang berdinas di RSUD Prof dr Soekandar Mojosari tersebut. Namun, dari arahan kejaksaan, masih ada sejumlah alat bukti yang harus dilengkapi. ’’Intinya berkas P-19. Masih ada berkas yang harus kita lengkapi,’’ tandasnya.

Baca Juga :  Makam Janin Misterius, Polisi Belum Pastikan Hasil Aborsi

Penuntasan kasus dengan tersangka dokter sepesialis kandungan ini tergolong cukup lama. Perlu diketahui, perkara ini dilaporkan ke Mapolres Mojokerto oleh keluarga korban pada 18 November lalu. Setelah dilakukan penyidikan, pada 30 Desember 2019 dr Andaryono ditetapkan sebagai tersangka. Penetapan ini setelah penyidik menemukan unsur pidana dalam peristiwa persetubuhan yang dilakukan dokter spesialis penyakit kandungan terhadap PL. Andaryono dijerat pasal 81 ayat 2 juncto pasal 2 ayat 1 Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. Ancaman hukumannya 15 tahun penjara. Dalam pasal ini juga disebutkan setiap orang yang dengan sengaja melakukan tipu muslihat serangkaian kebohongan atau membujuk anak melakukan persetubuhan juga didenda paling banyak Rp 5 miliar.

Baca Juga :  Kasus Asusila Dokter Kandungan Mandek

Kendati demikian, pada 9 Januari lalu dalam pemeriksaan kali pertama sebagai tersangka, polisi menegaskan tidak melakukan penahanan terhadap Andaryono. Selain dianggap kooperatif, dalam surat keterangan dokter RSUD Prof dr Soekandar Mojosari, tersangka juga mengalami sakit diabetes dan komplikasi ke jantung. Tidak ditahannya tersangka membuat penyidik terus berusaha merampungkan berkas. Alhasil, pada Jumat (24/1) kepolisian baru melimpahkan berkas perkara tahap satu ke kejari hingga akhirnya berkas dinyatakan belum lengkap.

Pengembalian berkas ini bukan kali pertama. Setelah berulang kali berkas dilimpahkan ke kejari hingga  dilakukan penelitian, hasilnya masih ada kelengkapan yang harus dipenuhi penyidik. Hasil gelar perkara yang berlangsung di kejari, penyidik masih harus melengkapi karena terdapat kekurangan. Saat ini, kejari juga sudah memberikan petunjuk. Namun, faktanya, penyidik belum mampu lengkapi berkas perkara kasus dugaan asusila rentan dengan praktik human trafficking. Sehingga berkas perkara sesuai laporan korban pada 18 November 2019 ini dikembalikan. ’’P-19 sudah yang ketiga. Saat ini penyidik berupaya melengkapi P-19-nya,’’ jelas Dewa.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/