alexametrics
30.8 C
Mojokerto
Tuesday, May 24, 2022

Marak Ganjal ATM, Nasabah Jadi Enggan Bertransaksi

MOJOKERTO – Kasatreskrim Polres Mojokerto AKP M Solikhin Fery menyatakan, modus pengganjalan mesin ATM menggunakan sebatang korek api memang modus lama.

Namun, belakangan ini kembali marak, termasuk pemasangan pelat pada mulut keluarnya mesin ATM Bank Mandiri di halaman SPBU Desa/Kecamatan Sooko, kemarin (28/3).

”Kami perlu mengecek lebih dalam lagi apakah sudah ada korban atau belum. Tim kami masih turun ke lapangan,” ujarnya. Dia menyebutkan, meski modus lama, namun di mata kepolisian, modus ingin menguras uang nasabah menggajalkan mesin ATM relatif baru.

Apalagi, dalam operasinya, cara yang dipakai pelaku relatif unik. ”Mungkin biar ATM tidak bisa keluar dan dikira tertelan oleh nasabah. Setelah ditinggal, baru kemudian pelaku mengambil ATM untuk dimanfaatkan,” tandasnya. Guna melacak siapa pelakunya di balik ini, polisi telah pengumpulan bahan keterangan (pulbaket).

Baca Juga :  Sopir Utama Bus Masih Saksi, Polisi Anggap Tidak Terlibat Kecelakaan

Memeriksa saksi-saksi, memutar kembali rekaman CCTV (closed circuit televison), dan berkoordinasi bersama stakeholder terkait. Meliputi BRI Cabang Mojokerto, Bank Mandiri Cabang Mojokerto dan lintas polres. ”Hal ini untuk mengetahui siapa pelaku sebenarnya, dan apakah ada korban atau tidak. Sebab, yang punya catatan keuangan nasabah adalah bank terkait,” pungkasnya.

Sementara itu, tiga peristiwa gangguan hardware ATM milik BRI dan Bank Mandiri lantas membuat kalangan nasabah waswas. Mereka merasa tidak nyaman lagi melakukan transaksi keuangan melalui mesin ATM. ”Sebagai nasabah tentu khawatir dan tidak nyaman,” ungkap Fuad Abdul Jalal, nasabah BRI.

Sebelum marak peristiwa gangguan mesin ATM bertujuan menguras isi rekening nasabah, hampir dalam satu minggu sekali dia menyetorkan (menabung) secara tunai melalui ATM. Nilainya antara Rp 4 juta sampai Rp 5 juta per transaksi. Termasuk dalam keseharian untuk mencairkan uang.

Baca Juga :  Tak Terima Istri Diselingkuhi, Tetangga Desa Disabet Celurit

”Daripada (uang) hilang, sekarang kami memilih setor atau mencairkan uang secara manual saja. Datang ke bank langsung. Ketimbang bertransaksi, namun rasanya tidak nyaman,” papar pengelola salah satu kafe dan resto di Kota Mojokerto ini.

MOJOKERTO – Kasatreskrim Polres Mojokerto AKP M Solikhin Fery menyatakan, modus pengganjalan mesin ATM menggunakan sebatang korek api memang modus lama.

Namun, belakangan ini kembali marak, termasuk pemasangan pelat pada mulut keluarnya mesin ATM Bank Mandiri di halaman SPBU Desa/Kecamatan Sooko, kemarin (28/3).

”Kami perlu mengecek lebih dalam lagi apakah sudah ada korban atau belum. Tim kami masih turun ke lapangan,” ujarnya. Dia menyebutkan, meski modus lama, namun di mata kepolisian, modus ingin menguras uang nasabah menggajalkan mesin ATM relatif baru.

Apalagi, dalam operasinya, cara yang dipakai pelaku relatif unik. ”Mungkin biar ATM tidak bisa keluar dan dikira tertelan oleh nasabah. Setelah ditinggal, baru kemudian pelaku mengambil ATM untuk dimanfaatkan,” tandasnya. Guna melacak siapa pelakunya di balik ini, polisi telah pengumpulan bahan keterangan (pulbaket).

Baca Juga :  Ratusan PSHT Luruk Mapolsek Dawarblandong
- Advertisement -

Memeriksa saksi-saksi, memutar kembali rekaman CCTV (closed circuit televison), dan berkoordinasi bersama stakeholder terkait. Meliputi BRI Cabang Mojokerto, Bank Mandiri Cabang Mojokerto dan lintas polres. ”Hal ini untuk mengetahui siapa pelaku sebenarnya, dan apakah ada korban atau tidak. Sebab, yang punya catatan keuangan nasabah adalah bank terkait,” pungkasnya.

Sementara itu, tiga peristiwa gangguan hardware ATM milik BRI dan Bank Mandiri lantas membuat kalangan nasabah waswas. Mereka merasa tidak nyaman lagi melakukan transaksi keuangan melalui mesin ATM. ”Sebagai nasabah tentu khawatir dan tidak nyaman,” ungkap Fuad Abdul Jalal, nasabah BRI.

Sebelum marak peristiwa gangguan mesin ATM bertujuan menguras isi rekening nasabah, hampir dalam satu minggu sekali dia menyetorkan (menabung) secara tunai melalui ATM. Nilainya antara Rp 4 juta sampai Rp 5 juta per transaksi. Termasuk dalam keseharian untuk mencairkan uang.

Baca Juga :  Tak Terima Istri Diselingkuhi, Tetangga Desa Disabet Celurit

”Daripada (uang) hilang, sekarang kami memilih setor atau mencairkan uang secara manual saja. Datang ke bank langsung. Ketimbang bertransaksi, namun rasanya tidak nyaman,” papar pengelola salah satu kafe dan resto di Kota Mojokerto ini.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

Terancam Hukuman Maksimal

PPDB SMA/SMK Dimulai


/