alexametrics
23.8 C
Mojokerto
Friday, May 27, 2022

Lima Pelaku Anak Alami Trauma Berat

KABUPATEN, Jawa Pos Radar Mojokerto – Pemda memberi pendampingan terhadap lima santri yang terlibat penganiayaan di pondok ternama di Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto. Selain untuk menyelamatkan amsa depan anak, juga sebagai upaya trauma healing dalam proses hukum yang tengah dijalani.

Kelima pelaku anak ini kesemuanya masih berusia di bawah umur. Tiga orang masing-masing berusia 16 tahun, dan satu orang berusia 15 tahun, berasal dari Gresik, Sidoarjo dan Surabaya. Sedangkan satu santri berusia 14 tahun asal Sumenep.

Kabid Perlindungan Anak (PA) Dinas Pengendalian Penduduk Keluarga Berencana dan Pemberdayaan Perempuan (DP2KBP2) Kabupaten Mojokerto, Ani Widiastuti, mengatakan, pendampingan ini tak lain sesuai tupoksi atas permintaan Kejaksaan Negeri (Kejari) Kabupaten atas penanganan perkara yang menyeret lima santri tersebut. Sesuai aturan korban maupun pelaku anak memang diberi hak untuk didampingi dalam setiap proses penyidikan hingga putusan pengadilan. ’’Setelah putusan pengadilan pun kita juga akan terus mendampingi kalau menimbulkan trauma berat kita akan mendampingi pemulihan korban sampai tuntas,’’ ungkapnya.

Baca Juga :  Kejahatan Online Marak, Polisi Take Down Akun Bodong

Pendampigan ini memang sebagai salah satu upaya trauma healing untuk menyelamatkan masa depan anak. Sebab bagaimana pun, anak yang berhadapan dengan hukum, menghadapi hakim, penyidik, jaksa, itu berpotensi tinggi akan menimbulkan trauma cukup berat karena itu merupakan kejadian pertama. ’’Itu untuk menyelamatkan psikologi anak, karena memang kewajiban kami anak-anak itu masa depannya masih panjang, pemulihan trauma supaya bisa dihilangkan untuk menatap ke depannya,’’ paparnya.

Pendampingan terkait lembaga bantuan hukum juga bakal dilakukan. Disebutnya, anak berhadapan dengan hukum, baik korban atau pun pelaku sejauh ini tergolong tinggi. Tercatat sepanjang Januari ini saja ada 15 kasus ditanganinya. Mulai kasus kekerasan, pelecehan seksual, hingga bullying. Angka ini belum lagi di tahun lalu capai 21 kasus. Enam masuk kasus kekerasan perempuan dan 15 kasus kekerasan anak. ’’Yang dominan selalu terkait pelecehan seksual dan pemerkosaan, termasuk di tahun lalu juga sama pelecehan seksual anak, bahkan ada kasus,’’ paparnya.

Baca Juga :  Dua Pelajar Dimassa saat Curi Laptop di SMK Nasional

Sebelumnya, tewasnya seorang santri salah satu pondok ternama di Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto menyeret lima pelaku anak. Berkas kelimanya yang berstatus tersangka akibat melakukan penganiayaan berujung tewasnya warga asal Lamongan ini kini memasuki tahap dua.

Pelimpahan yang dilakukan penyidik Satreskrim Polres Mojokerto ke Kejaksaan Negeri (Kejari) Kabupaten Mojokerto itu setelah sebelumnya berkas perkara tersebut dinyatakan lengkap atau P-21. ’’Hari ini (kemarin) pelimpahan tahap dua, ada lima orang tersangka yang diserahkan termasuk barang bukti,’’ ungkap Kepala Seksi Pidana Umum (Kasi Pidum) Kejari Kabupaten Mojokerto, Ivan Yoko Wibowo. (ori/fen)

KABUPATEN, Jawa Pos Radar Mojokerto – Pemda memberi pendampingan terhadap lima santri yang terlibat penganiayaan di pondok ternama di Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto. Selain untuk menyelamatkan amsa depan anak, juga sebagai upaya trauma healing dalam proses hukum yang tengah dijalani.

Kelima pelaku anak ini kesemuanya masih berusia di bawah umur. Tiga orang masing-masing berusia 16 tahun, dan satu orang berusia 15 tahun, berasal dari Gresik, Sidoarjo dan Surabaya. Sedangkan satu santri berusia 14 tahun asal Sumenep.

Kabid Perlindungan Anak (PA) Dinas Pengendalian Penduduk Keluarga Berencana dan Pemberdayaan Perempuan (DP2KBP2) Kabupaten Mojokerto, Ani Widiastuti, mengatakan, pendampingan ini tak lain sesuai tupoksi atas permintaan Kejaksaan Negeri (Kejari) Kabupaten atas penanganan perkara yang menyeret lima santri tersebut. Sesuai aturan korban maupun pelaku anak memang diberi hak untuk didampingi dalam setiap proses penyidikan hingga putusan pengadilan. ’’Setelah putusan pengadilan pun kita juga akan terus mendampingi kalau menimbulkan trauma berat kita akan mendampingi pemulihan korban sampai tuntas,’’ ungkapnya.

Baca Juga :  Cerita Terkuaknya Kebocoran Uang Suap Perizinan Tower

Pendampigan ini memang sebagai salah satu upaya trauma healing untuk menyelamatkan masa depan anak. Sebab bagaimana pun, anak yang berhadapan dengan hukum, menghadapi hakim, penyidik, jaksa, itu berpotensi tinggi akan menimbulkan trauma cukup berat karena itu merupakan kejadian pertama. ’’Itu untuk menyelamatkan psikologi anak, karena memang kewajiban kami anak-anak itu masa depannya masih panjang, pemulihan trauma supaya bisa dihilangkan untuk menatap ke depannya,’’ paparnya.

Pendampingan terkait lembaga bantuan hukum juga bakal dilakukan. Disebutnya, anak berhadapan dengan hukum, baik korban atau pun pelaku sejauh ini tergolong tinggi. Tercatat sepanjang Januari ini saja ada 15 kasus ditanganinya. Mulai kasus kekerasan, pelecehan seksual, hingga bullying. Angka ini belum lagi di tahun lalu capai 21 kasus. Enam masuk kasus kekerasan perempuan dan 15 kasus kekerasan anak. ’’Yang dominan selalu terkait pelecehan seksual dan pemerkosaan, termasuk di tahun lalu juga sama pelecehan seksual anak, bahkan ada kasus,’’ paparnya.

Baca Juga :  Truk Muatan Kelapa Tabrak Gapura, lalu Terguling

Sebelumnya, tewasnya seorang santri salah satu pondok ternama di Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto menyeret lima pelaku anak. Berkas kelimanya yang berstatus tersangka akibat melakukan penganiayaan berujung tewasnya warga asal Lamongan ini kini memasuki tahap dua.

- Advertisement -

Pelimpahan yang dilakukan penyidik Satreskrim Polres Mojokerto ke Kejaksaan Negeri (Kejari) Kabupaten Mojokerto itu setelah sebelumnya berkas perkara tersebut dinyatakan lengkap atau P-21. ’’Hari ini (kemarin) pelimpahan tahap dua, ada lima orang tersangka yang diserahkan termasuk barang bukti,’’ ungkap Kepala Seksi Pidana Umum (Kasi Pidum) Kejari Kabupaten Mojokerto, Ivan Yoko Wibowo. (ori/fen)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/