alexametrics
25.8 C
Mojokerto
Thursday, May 26, 2022

Calo Vila Nyambi Mucikari, Janda Muda Ditarif Rp 900 Ribu

PACET, Jawa Pos Radar Mojokerto – Kawasan Desa Padusan, Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto, sebagai lokasi primadona wisatawan diam-diam dimanfaatkan sebagai tempat prostitusi terselebung. Selasa (28/1) Satreskrim Polres Mojokerto membongkar praktik perdagangan orang di kawasan vila di sekitaran pintu masuk lokasi Wanawisata Air Panas Padusan.

Dalam kasus ini, polisi meringkus seorang mucikari, Aditya Afandi alias Dika, 18, warga setempat. Dia yang tiap harinya menjadi calo vila di kawasaan tersebut tak jarang menawarkan janda muda kepada wisatwan atau pria hidung belang sebagai pelanggan praktik prostitusi. ’’Sudah enam bulan nawarin ginian (perempuan ke pria hidung belang, Red),’’ ungkap Dika, kepada petugas kemarin.

Dirinya mengaku sudah mempunyai dua koleksi perempuan yang kerap ditawarkan kepada tamu vila. Untuk sekali kencan dia membanderol dengan harga Rp 900 ribu per short time. Tarif sebesar itu lantas dibagi. Perinciannya, Rp 500 ribu untuk si perempuan, Rp 250 biaya sewa vila, dan Rp 150 ribu untuk Dika sebagai hasil mencari pelanggan. ’’Tapi tidak pasti. Sekali terima kadang saya dapat Rp 150-Rp 200 ribu per orang,’’ ujarnya.

Dalam prostitusi ini, dirinya hanya berperan menawarkan kepada para tamu yang menginap di vilanya. Sementara, perempuan yang kerap ditawarkan atau diperdagangkan rata-rata berstatus janda. ’’Katanya butuh uang untuk kerja sampingan,’’ terangnya.

Baca Juga :  Pemenang Lelang Sabun Dipalak Pejabat Dispendik

Kapolres Mojokerto AKBP Feby D.P. Hutagalung mengungkapkan, praktik prostitusi ini terungkap setelah polisi mendapati informasi masyarakat. Warga di sekitar lokasi mengaku resah terhadap menjamurnya praktik prostitusi terselubung di kawasan wisata Air Panas Padusan tersebut.

Bermodal informasi ini, petugas kemudian melakukan penyelidikan. Tak berselang lama, mereka berhasil membongkar bisnis esek-esek yang dilakukan oleh penjaga sekaligus calo vila. ’’Dika ini statusnya mucikari yang kerap menawarkan perempuan kepada pria hidung belang untuk dibuat kencan di vila,’’ ungkapnya.

Dika diringkus di sebuah vila di Desa Padusan pada Sabtu malam (18/1) pukul 22.00 WIB. Kapolres menegaskan, sistem dalam prostitusi ini memang tidak dilakukan secara online. Pelaku mucikari biasa menawarkan perempuan yang bisa dikencani lebih kepada calon atau tamu vila yang hendak bermalam.

Nah, lanjut kapolres, jika tawaran tersebut diminati, mucikari ini akan saling tukar nomor handphone dengan pelanggan untuk mengirim foto perempuan yang hendak ’’dijual’’. ’’Setelah terjadi kesepakatan, uang diserahkan ke mucikari, kemudian baru disediakan sarana vila. Sementara perempuannya sudah stand by di lokasi (vila),’’ paparnya.

Baca Juga :  Mayat Pria Mengapung di Kali Marmoyo

Artinya, lanjut kapolres, dalam praktik prostitusi ini, hubungannya perorangan antara mucikari dengan tamu vila yang hendak bermalam. Penawarannya, kata Feby, langsung dari mulut ke mulut dengan bertukar nomor handphone, kemudian menghubungi pelangganya secara langsung. ’’Tidak menutup kemungkinan banyak juga praktik prostitusi serupa di lokasi. Nanti akan kami dalami lagi,’’ tandasnya.

Dia mengungkapkan, dari hasil penyelidikan, untuk sekali kencan dengan seorang janda muda itu, pelanggan harus membayar tarif yang telah ditentukan, yakni Rp 900 ribu. Dari tarif itu, tersangka mendapatkan upah Rp 150 ribu. Sedangkan sisanya Rp 250 ribu untuk sewa vila, dan Rp 500 ribu jatah perempuan yang dikencani. ’’Durasi kencan ini dibatasi selama dua jam,’’ tegasnya.

Selain mengamankan tersangka, petugas juga menyita sejumlah barang bukti. Di antaranya, selimut, seprai dari kamar vila, uang Rp 900 ribu, dan satu HP.  Akibat perbuataannya, tersangka Dika, tegas Feby, dijerat pasal 296 dan 506 KUHP tentang Penyedia PSK.

Barang siapa yang mata pencahariannya atau kebiasaannya, yaitu dengan sengaja mengadakan atau memudahkan perbuatan cabul dengan orang lain diancam dengan pidana penjara paling lama satu tahun empat bulan. 

PACET, Jawa Pos Radar Mojokerto – Kawasan Desa Padusan, Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto, sebagai lokasi primadona wisatawan diam-diam dimanfaatkan sebagai tempat prostitusi terselebung. Selasa (28/1) Satreskrim Polres Mojokerto membongkar praktik perdagangan orang di kawasan vila di sekitaran pintu masuk lokasi Wanawisata Air Panas Padusan.

Dalam kasus ini, polisi meringkus seorang mucikari, Aditya Afandi alias Dika, 18, warga setempat. Dia yang tiap harinya menjadi calo vila di kawasaan tersebut tak jarang menawarkan janda muda kepada wisatwan atau pria hidung belang sebagai pelanggan praktik prostitusi. ’’Sudah enam bulan nawarin ginian (perempuan ke pria hidung belang, Red),’’ ungkap Dika, kepada petugas kemarin.

Dirinya mengaku sudah mempunyai dua koleksi perempuan yang kerap ditawarkan kepada tamu vila. Untuk sekali kencan dia membanderol dengan harga Rp 900 ribu per short time. Tarif sebesar itu lantas dibagi. Perinciannya, Rp 500 ribu untuk si perempuan, Rp 250 biaya sewa vila, dan Rp 150 ribu untuk Dika sebagai hasil mencari pelanggan. ’’Tapi tidak pasti. Sekali terima kadang saya dapat Rp 150-Rp 200 ribu per orang,’’ ujarnya.

Dalam prostitusi ini, dirinya hanya berperan menawarkan kepada para tamu yang menginap di vilanya. Sementara, perempuan yang kerap ditawarkan atau diperdagangkan rata-rata berstatus janda. ’’Katanya butuh uang untuk kerja sampingan,’’ terangnya.

Baca Juga :  Vaksinasi Booster Sasar Napi di Lapas

Kapolres Mojokerto AKBP Feby D.P. Hutagalung mengungkapkan, praktik prostitusi ini terungkap setelah polisi mendapati informasi masyarakat. Warga di sekitar lokasi mengaku resah terhadap menjamurnya praktik prostitusi terselubung di kawasan wisata Air Panas Padusan tersebut.

Bermodal informasi ini, petugas kemudian melakukan penyelidikan. Tak berselang lama, mereka berhasil membongkar bisnis esek-esek yang dilakukan oleh penjaga sekaligus calo vila. ’’Dika ini statusnya mucikari yang kerap menawarkan perempuan kepada pria hidung belang untuk dibuat kencan di vila,’’ ungkapnya.

- Advertisement -

Dika diringkus di sebuah vila di Desa Padusan pada Sabtu malam (18/1) pukul 22.00 WIB. Kapolres menegaskan, sistem dalam prostitusi ini memang tidak dilakukan secara online. Pelaku mucikari biasa menawarkan perempuan yang bisa dikencani lebih kepada calon atau tamu vila yang hendak bermalam.

Nah, lanjut kapolres, jika tawaran tersebut diminati, mucikari ini akan saling tukar nomor handphone dengan pelanggan untuk mengirim foto perempuan yang hendak ’’dijual’’. ’’Setelah terjadi kesepakatan, uang diserahkan ke mucikari, kemudian baru disediakan sarana vila. Sementara perempuannya sudah stand by di lokasi (vila),’’ paparnya.

Baca Juga :  Mayat Pria Mengapung di Kali Marmoyo

Artinya, lanjut kapolres, dalam praktik prostitusi ini, hubungannya perorangan antara mucikari dengan tamu vila yang hendak bermalam. Penawarannya, kata Feby, langsung dari mulut ke mulut dengan bertukar nomor handphone, kemudian menghubungi pelangganya secara langsung. ’’Tidak menutup kemungkinan banyak juga praktik prostitusi serupa di lokasi. Nanti akan kami dalami lagi,’’ tandasnya.

Dia mengungkapkan, dari hasil penyelidikan, untuk sekali kencan dengan seorang janda muda itu, pelanggan harus membayar tarif yang telah ditentukan, yakni Rp 900 ribu. Dari tarif itu, tersangka mendapatkan upah Rp 150 ribu. Sedangkan sisanya Rp 250 ribu untuk sewa vila, dan Rp 500 ribu jatah perempuan yang dikencani. ’’Durasi kencan ini dibatasi selama dua jam,’’ tegasnya.

Selain mengamankan tersangka, petugas juga menyita sejumlah barang bukti. Di antaranya, selimut, seprai dari kamar vila, uang Rp 900 ribu, dan satu HP.  Akibat perbuataannya, tersangka Dika, tegas Feby, dijerat pasal 296 dan 506 KUHP tentang Penyedia PSK.

Barang siapa yang mata pencahariannya atau kebiasaannya, yaitu dengan sengaja mengadakan atau memudahkan perbuatan cabul dengan orang lain diancam dengan pidana penjara paling lama satu tahun empat bulan. 

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/