25.8 C
Mojokerto
Thursday, February 2, 2023

Kursi Sekdes Dibanderol Rp 300 Juta, Dugaan Jual Beli Jabatan Perangkat

PACET, Jawa Pos Radar Mojokerto – Dugaan jual beli jabatan perangkat desa di Kabupaten Mojokerto kembali mencuat. Kali ini terjadi saat proses seleksi sekretaris desa (sekdes) di Desa Mojokembang, Kecamatan Pacet. Jabatan tersebut disinyalir dibanderol seharga Rp 150–300 juta.

Terdapat sejumlah kejanggalan dalam proses seleksi calon sekdes tersebut. Sehingga memicu sejumlah pihak yang tidak bisa menerima kebijakan yang diputuskan tim seleksi. ”Ternyata di tengah prosesnya tidak sesuai dengan peraturan yang ada di atasnya. Yaitu, Perbup Mojokerto No 41 Tahun 2012 tentang Hari dan Jam Kerja Bagi Instansi/Unit Kerja di Lingkungan Pemkab Mojokerto,” ujar salah satu orang tua peserta seleksi, HI.

Ada sejumlah hal yang disoroti. Utamanya, terkait proses seleksi yang berlangsung selama 20 hari kerja dalam tata tertib rancangan panitia. Yang dilaksanakan terhitung sejak Senin hingga Sabtu. ”Itu jelas sudah tidak sesuai. Dalam perbub, hari kerja di lingkungan pemkab itu Senin-Jumat,” sebutnya. Menurutnya, pendaftaran bakal calon sekdes yang berlangsung sejak 25 Mei – 18 Juni lalu itu bisa dibatalkan.

”Batal demi hukum. Seharusnya kan 25 Mei – 23 Juni, jadi ada selisih lima hari kerja,” terangnya. Dikatakannya, ada percepatan dalam proses seleksi sekdes yang merugikan banyak pihak. Sebab, percepatan juga terjadi antara tahap pembekalan calon sekdes dan ujian. ”Tata tertib diberikan saat pembekalan 21 Juni itu. Ternyata, ujiannya tanggal 23 Juni. Jadi hanya jeda satu hari, waktu untuk belajar para calon ini mepet. Aneh. Karena proses pendaftaran dipercepat lima hari, itu juga merugikan mereka yang ingin mendaftar jadi calon sekdes,” imbuhnya.

Baca Juga :  Cek Izin Rumah Kos, Petugas Dapati Dua Pasang Kekasih Dalam Satu Kamar

Selanjutnya adalah hasil ujian enam calon sekdes. Sesuai nomor urut, mereka adalah Ananda Faridatul Nurainiyah; Fitriah Rahmawati; Ahmad Khotib; Lailatul Khoiriyah; Amilia Eki Ramdanti; dan Afif Maulana Malik. Dari keenamnya, hanya Amalia dan Afif yang hasil ujiannya dinyatakan lulus. Dari situ tampak kejanggalan lainnya. Keduanya punya total skor tinggi dari enam mata uji. Yakni, 90 untuk Amlia dan Afif mendapat angka 87. Sementara keempat peserta lainnya memperoleh total skor tidak lebih dari 44.

”Jadi hasilnya timpang sekali. Kabarnya, waktu koreksi itu (ada peluang) salah kunci jawaban sampai nilainya seperti itu,” urainya. Bahkan, usai total skor rampung dihitung, beredar kabar adanya dugaan jual beli jabatan Sekdes Mojokembang yang sudah lowong setahun terakhir itu. Nilainya pun fantastis. Yakni mencapai Rp 150 – 300 juta. ”Ada rumor yang berkembang di bawah (desa) kalau ada oknum yang dugaannya jual beli jabatan sekdes antara Rp 150 – 300 juta,” ungkapnya.

Baca Juga :  Kepala SMPN 2 Kemlagi Sri Indayani, S.Pd, M.Pd, Jadi Ibu dan Bunda di Sekolah

Tak pelak, ia berharap agar proses seleksi perangkat desa itu diulang sedari tahap awal. Serta membatalkan hasil dan merombak tata tertib proses seleksi. ”Agar dilakukan ujian ulang secara keseluruhan, bukan dua calon saja. Itu untuk menghilangkan semua dugaan yang ada. Kalau tidak sesuai aturan kan ini bisa dibatalkan semua. Jangan sampai ini dibiarkan karena bisa mencoreng nama baik Kabupaten Mojokerto,” tandasnya.

Sementara itu, Camat Pacet Agus Subiyanto mengaku, pihaknya tidak tahu menahu soal adanya dugaan jual beli jabatan sekdes dalam proses seleksi di Desa Mojokembang. Terlebih, peran pemerintah kecamatan dalam proses seleksi ini sebatas membuat soal ujian. ”Itu kan rumor di sana (Desa Mojokembang), saya nggak tahu. Saya nggak ada kaitannya dengan itu. Karena kami cuma buat soal (ujian) saja,” sebutnya. (vad/ron)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/