alexametrics
30.8 C
Mojokerto
Wednesday, August 10, 2022

Keluarga Yakin Sulangsih Alami KDRT, Polresta Tunggu Hasil Otopsi Polda Jatim

JETIS, Jawa Pos Radar Mojokerto – Pihak keluarga mendiang Sulangsih, 43, meyakini ibu rumah tangga asal Desa Ngabar, Kecamatan Jetis itu mengalami kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Selama hasil otopsi nantinya membuktikan demikian, mereka menuntut supaya sang suami, SM, 45, dihukum sepantasnya.

Hingga saat ini, hasil otopsi jenazah Sulangsih belum diketahui pihak keluarga. Polisi mengaku masih menunggu kesimpulan resmi dari tim Dokter dan Kesehatan (Dokkes) dan Labfor Polda Jatim. ”Kalau hasil pemeriksaan ada, tapi belum bisa dipublikasikan. Hanya tertentu yang tahu,” kata internal kepolisian.

Menurutnya, hasil otopsi dapat diketahui paling lambat satu sampai dua minggu. Jika memang positif mengalami kekerasan, polisi bakal melakukan gelar perkara untuk menentukan tersangka. ”Hasil otopsi jadi dasar gelar perkara untuk penentuan pasal dan tersangka,” imbuhnya.

Di sisi lain, pihak keluarga menduga Sulangsih menjadi korban KDRT yang dilakukan oleh suaminya sendiri, SM. Selama menjalin hubungan rumah tangga dengan SM, Sulangsih diduga mengalami penganiayaan hingga akhirnya meninggal dunia pada Rabu (22/6) malam. Atas kematian itu, pihak keluarga membuat laporan ke polisi dan meminta kematian ibu lima anak itu diusut. ”Kami sangat yakin (Sulangsih mengalami KDRT),” ujar Jumain, paman Sulangsih, kemarin (26/6).

Baca Juga :  Penyelesaian Polemik Penjaringan Sekdes Mojokembang Masih Menggantung

Jumain merupakan orang pertama yang berkomunikasi dengan pihak kepolisian terkait ketidakberesan keluarga Sulangsih. Senin (12/6), dia dan FP, 17, putri Sulangsih bertemu dengan bhabinkamtibmas di Balai Desa Ngabar untuk membicarakan ancaman pembunuhan yang kerap dilontarkan SM kepala Sulangsih dan anak-anaknya. Dari sana pula, Jumain bercerita jika Sulangsih kerap mengalami penganiayaan. Saat itu, kondisi Sulangsih telah diboyong ke Nganjuk oleh salah satu anaknya untuk menjalani perawatan.

”Belum sempat buat laporan, karena ponakan saya (Sulangsih, Red) di Nganjuk dan sudah parah,” ungkapnya. Menurut dia, Sulangsih mengalami sakit-sakitan dan kondisinya kritis karena kekerasan yang dilakukan SM. Hal itu berdasarkan penuturan FP yang disebut kerap menyaksikan ibunya dianiaya. Kekerasan yang diduga sudah berlangsung selama berbulan-bulan itu tak pernah diceritakan ke keluarga lain atau tetangga karena keduanya mendapat ancaman pembunuhan dari SM.

Baca Juga :  Onde-Onde Oven Olivia Bakery, Lumernya Bikin Ketagihan

Sebelum diboyong ke Nganjuk dan meninggal saat perawatan di rumah sakit, SM pernah membawa Sulangsih untuk diperiksa oleh anak Jumain yang seorang mantri kesehatan. ”Pernah mengeluh sakit di pungung dan perut, sama anak saya disuruh dibawa ke laboratorium dan katanya iya. Tapi ternyata malah dibawa ke tabib,” jelas Jumain.

Pihaknya kini masih menunggu hasil otopsi dari kepolisian. Jika memang terbukti mengalami kekerasan, Jumain berharap SM diganjar dengan hukuman sepantasnya. ”Kalau nanti terbukti dan polisi menentukan ada kekerasan oleh pihak pelaku, ya harapannya dihukum seberat-beratnya sesuai dengan hukum yang berlaku,” tandasnya.

Kasatreskrim Polres Mojokerto Kota AKP Rizki Santoso menyampaikan, penyidik masih fokus pada pemeriksaan saksi-saksi dari keluarga Sulangsih terkait dengan laporan dugaan KDRT hingga mengakibatkan meninggal dunia. Hal ini disamping pihaknya masih menunggu hasil resmi otopsi yang dilakukan Polda Jatim. ”Kurang lebih hasil otopsi keluar satu bulan. Kalau lebih cepat akan kita sampaikan,” jelasnya. (adi/ron)

JETIS, Jawa Pos Radar Mojokerto – Pihak keluarga mendiang Sulangsih, 43, meyakini ibu rumah tangga asal Desa Ngabar, Kecamatan Jetis itu mengalami kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Selama hasil otopsi nantinya membuktikan demikian, mereka menuntut supaya sang suami, SM, 45, dihukum sepantasnya.

Hingga saat ini, hasil otopsi jenazah Sulangsih belum diketahui pihak keluarga. Polisi mengaku masih menunggu kesimpulan resmi dari tim Dokter dan Kesehatan (Dokkes) dan Labfor Polda Jatim. ”Kalau hasil pemeriksaan ada, tapi belum bisa dipublikasikan. Hanya tertentu yang tahu,” kata internal kepolisian.

Menurutnya, hasil otopsi dapat diketahui paling lambat satu sampai dua minggu. Jika memang positif mengalami kekerasan, polisi bakal melakukan gelar perkara untuk menentukan tersangka. ”Hasil otopsi jadi dasar gelar perkara untuk penentuan pasal dan tersangka,” imbuhnya.

Di sisi lain, pihak keluarga menduga Sulangsih menjadi korban KDRT yang dilakukan oleh suaminya sendiri, SM. Selama menjalin hubungan rumah tangga dengan SM, Sulangsih diduga mengalami penganiayaan hingga akhirnya meninggal dunia pada Rabu (22/6) malam. Atas kematian itu, pihak keluarga membuat laporan ke polisi dan meminta kematian ibu lima anak itu diusut. ”Kami sangat yakin (Sulangsih mengalami KDRT),” ujar Jumain, paman Sulangsih, kemarin (26/6).

Baca Juga :  Santri Aniaya Santri, Tersinggung Suara Berisik Bangunkan Salat Ashar

Jumain merupakan orang pertama yang berkomunikasi dengan pihak kepolisian terkait ketidakberesan keluarga Sulangsih. Senin (12/6), dia dan FP, 17, putri Sulangsih bertemu dengan bhabinkamtibmas di Balai Desa Ngabar untuk membicarakan ancaman pembunuhan yang kerap dilontarkan SM kepala Sulangsih dan anak-anaknya. Dari sana pula, Jumain bercerita jika Sulangsih kerap mengalami penganiayaan. Saat itu, kondisi Sulangsih telah diboyong ke Nganjuk oleh salah satu anaknya untuk menjalani perawatan.

”Belum sempat buat laporan, karena ponakan saya (Sulangsih, Red) di Nganjuk dan sudah parah,” ungkapnya. Menurut dia, Sulangsih mengalami sakit-sakitan dan kondisinya kritis karena kekerasan yang dilakukan SM. Hal itu berdasarkan penuturan FP yang disebut kerap menyaksikan ibunya dianiaya. Kekerasan yang diduga sudah berlangsung selama berbulan-bulan itu tak pernah diceritakan ke keluarga lain atau tetangga karena keduanya mendapat ancaman pembunuhan dari SM.

Baca Juga :  Lapas Kerepotan, 21 Napi Dilayar ke Madiun
- Advertisement -

Sebelum diboyong ke Nganjuk dan meninggal saat perawatan di rumah sakit, SM pernah membawa Sulangsih untuk diperiksa oleh anak Jumain yang seorang mantri kesehatan. ”Pernah mengeluh sakit di pungung dan perut, sama anak saya disuruh dibawa ke laboratorium dan katanya iya. Tapi ternyata malah dibawa ke tabib,” jelas Jumain.

Pihaknya kini masih menunggu hasil otopsi dari kepolisian. Jika memang terbukti mengalami kekerasan, Jumain berharap SM diganjar dengan hukuman sepantasnya. ”Kalau nanti terbukti dan polisi menentukan ada kekerasan oleh pihak pelaku, ya harapannya dihukum seberat-beratnya sesuai dengan hukum yang berlaku,” tandasnya.

Kasatreskrim Polres Mojokerto Kota AKP Rizki Santoso menyampaikan, penyidik masih fokus pada pemeriksaan saksi-saksi dari keluarga Sulangsih terkait dengan laporan dugaan KDRT hingga mengakibatkan meninggal dunia. Hal ini disamping pihaknya masih menunggu hasil resmi otopsi yang dilakukan Polda Jatim. ”Kurang lebih hasil otopsi keluar satu bulan. Kalau lebih cepat akan kita sampaikan,” jelasnya. (adi/ron)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/