Rabu, 27 Oct 2021
Radar Mojokerto
Home / Hukum & Kriminal
icon featured
Hukum & Kriminal

Tersangka Kasus Importir Obat Aborsi Dikeluarkan dari Sel Tahanan

27 April 2021, 08: 00: 59 WIB | editor : Mochamad Chariris

Tersangka Kasus Importir Obat Aborsi Dikeluarkan dari Sel Tahanan

Polres Mojokerto saat menggelar konferensi pers kasus aborsi di mapolres Maret lalu. (Radar Mojokerto)

Share this      

MOJOSARI, Jawa Pos Radar Mojokerto – Polres Mojokerto ”melepas” tersangka penjualan obat aborsi, Dianus Phiona, 55, warga Pantai Mutiara Blok AD/2 Kelurahan Pluit, Kecamatan Penjaringan, Jakarta Utara.

Ini setelah istri tersangka rela menjadi penjamin selama suaminya masih dalam proses hukum. Dianus dibebaskan bersyarat atas pertimbangan menderita riwayat penyakit akut.

Kasatreskrim Polres Mojokerto AKP Andaru Rahutomo mengatakan, Dianus Phiona bukan dibebaskan, namun menjalani penangguhan penahanan. ”Karena yang bersangkutan ini sudah tua dan punya riwayat penyakit penyerta,” ungkapnya.

Baca juga: Ketua LSM Tertangkap Konsumsi Sabu

Penyakit penyerta (komorbid) tersebut di antaranya menderita diabetes dan darah tinggi. Sehingga dianggap kepolisian berisiko tinggi terpapar Covid-19. Andaru menuturkan, penangguhan ini juga dilatarbelakangi karena tersangka menyandang sebagai kepala keluarga dan tulang punggung keluarga.

”Kami proses sesuai prosedur yang berlaku. Kami juga memintai sejumlah dokumen. Di antaranya harus melampirkan surat keterangan dokter dan riwayat medisnya,” bebernya. Meski demikian, Dianus Phiona dikenakan wajib lapor. Sekaligus untuk memastikan tersangka menunjukkan kooperatif selama proses hukum berjalan.

Mapolres memberlakukan wajib lapor secara langsung dan daring (video call). ”Tetap wajib lapor guna keperluan penyidikan. Atau bahkan tahap dua nanti, karena dia wajib hadir,” papar mantan Kasatreskrim Polres Malang itu.

Dia menegaskan, sejauh ini tersangka masih kooperatif dengan melakukan wajib lapor tersebut. Andaru menerangkan, berkas kasus pria asal Jakarta Utara itu sudah dilimpahkan ke Kejakasaan Negeri (Kejari) Mojokerto, pekan lalu.

”Ini tinggal nunggu P-21. Kalau sudah lengkap, akan kami lakukan mekanisme tahap dua dengan penyerahan tersangka ke kejaksaan,” imbuh dia. Meski tersangka tak ditahan namun proses hukum terus berjalan.

”Yang perlu diluruskan di sini adalah karena ketika tidak ditahan itu berarti tidak diproses. Tidak semua seperti itu. Semisal, ada kasus tipu gelap, terus damai, dan sudah cabut laporan karena sudah damai. Tidak diproses lagi karena sudah ada perdamaian. Kalau ini kasusnya beda. Dia tidak ditahan karena alasan tadi,”  tegasnya.

Kapolres Mojokerto AKBP Donny Alexander membantah kabar pembebasan importir obat aborsi cytotec via online itu. Polisi dengan dua melati di pundak ini menegaskan, penangguhan penahanan karena sejumlah pertimbangan. Di antaranya, akibat riwayat penyakit yang diderita tersangka.

”Kalau dibebaskan itu tidak benar, karena itu penangguhan penahanan. Karena pelaku umurnya sudah tua dan punya penyakit diabetes akut. Observasinya sudah ada, daripada bermasalah,” tegasnya. Sebelumnya tersangka menjalani penahanan di sel mapolres selama 20 hari.

Tersangka ditangkap dalam pengembangan kasus aborsi yang dilakukan Nungki Merinda Sari, 25, warga Desa Bendo, Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri berdomisili di Dusun Tamansari Desa/Kecamatan Pungging.

Nungki melakukan aborsi memakai obat yang dibelinya via online. Yakni, melalui  group Facebook ”Jual Beli Obat”. Dari kasus ini, polisi berhasil membongkar sindikat penjualan obat aborsi lintas wilayah. Total ada sembilan orang yang ditetapkan sebagai tersangka.

Yakni, Zulfi Auliya, 33, warga Kota Tanggerang; Mochammad Ardian, 20; Supardi, 53, Ernawati; dan Rohman alias Arok, 39, warga Jakarta. Kemudian, Suparno, 49 tahun asal Brebes Jawa Tengah, Jong Fuk Liong alias Jhon warga Jakarta Utara, dan Dianus Phiona.

Seluruh tersangka termasuk Dianus Phiona, dijerat pasal 197 juncto pasal 106 ayat (1) juncto pasal 194 juncto pasal 75 UU RI Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan, subsider pasal 77 huruf (a) ayat (1) juncto pasal 45 huruf (a) UU RI Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan atas UU RI Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak subsider pasal 56 KUHP. Ancaman hukumannya maksimal 15 tahun penjara. (vad)

(mj/ris/ris/JPR)

 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
Facebook Twitter Instagram YouTube
©2021 PT. JawaPos Group Multimedia