alexametrics
31.1 C
Mojokerto
Wednesday, May 25, 2022

Korban AM Berpotensi Bertambah

KUTOREJO, Jawa Pos Radar Mojokerto – Dugaan kasus asusila yang dilakukan AM, 52, salah seorang pengasuh pesantren di Kecamatan Kutorejo, terus bergulir. Disinyalir, jumlah korban aksi tak senonoh ini bakal bertambah. Sebab, korban mengaku, dia bukan satu-satunya santriwati yang telah dilecehkan. 

Hal itu diungkapkan kuasa hukum korban, M Dhoufi. Ia menjelaskan, kliennya yang kini masih berusia 14 tahun itu mengaku bukan satu-satunya santriwati yang menerima perlakuan tak senonoh. ”Ada indikasi korban lain. Tapi sampai saat ini yang lain masih belum ada yang berani melapor,” ucapnya.

Hal ini diperkuat keterangan Bunga (nama samaran). Saat diperiksa, ia mengaku masih ada sejumlah santriwati yang senasib dengannya. Hanya saja, dia belum bisa bicara banyak. Lantaran, saat diperiksa petugas, korban masih mengalami trauma usai.

Kuat dugaan, sejumlah korban lainnya masih menutup diri dan malu untuk melapor ke kepolisian. ”Menurut korban, saat kita tanya ada lebih dari empat orang? Dia mengangguk.” Bebernya.

Baca Juga :  Tangkap 4 Orang, Polisi Sita 23 Ribu Pil Koplo

Para santriwati itu diduga telah dilecehkan berkali-kali oleh AM. Seperti yang dialami Bunga. Dia mendapatkan aksi tak senonoh itu di lingkungan pondoknya sejak tiga tahun lalu. Aksi tersebut dilancarkan ketika kondisi pondok tengah sepi. Namun, beberapa waktu lalu korban telah jengah dengan aksi tersebut. Hingga korban menolak ajakan AM dan memutuskan melaporkan aksi bejat ustadnya itu ke orang tuanya. ’’Untuk Bunga, diawali dengan pencabulan sebanyak tiga kali. Dan diakhiri dengan persetubuhan. Jadi Bunga disetubuhi sebanyak satu kali,’’ ungkapnya.

Dijelaskannya, usai orang tua korban melaporkan tindak asusila yang dilakukan AM Jumat (15/10) lalu, Bunga lantas menjalani visum. Hasilnya, menguatkan dugaan adanya aksi bejat yang dilancarkan AM. ”Hasilnya menunjukkan ada kejadian seperti itu (persetubuhan dan pencabulan) dan hasilnya itu sudah diserahkan ke penyidik,” paparnya.

Menurutnya, saat ini kondisi psikis korban tengah terguncang atas aksi bejat tersebut. Bunga masih belum bisa berinteraksi secara normal. Kini, korban menjalani pemulihan dengan keluarganya.

Baca Juga :  Anak di Bawah Umur Jadi Pengedar Antarkota

Potensi bertambahnya korban tindak asusila yang dilancarkan AM telah terendus petugas. Itu setelah kepolisian memanggil sejumlah saksi yang juga merupakan santriwati di pondok pesantren besutan AM. Yang tak lain merupakan teman Bunga. Diduga, korban aksi tak senonoh itu lebih dari lima orang. ”Waktu kami memanggil saksi, ternyata dia korban. Kita panggil saksi lainnya, ternyata dia korban juga. Sejauh ini korban sudah lebih dari lima orang dan kemungkinan masih terus bertambah lagi,” ujar sumber internarl kepolisian itu.

Sebelumnya, unit PPA Satreskrim Polres Mojokerto telah memeriksa sejumlah saksi dan pelaku pada Senin (18/10). Kasus tindak asusila tersebut kini tengah dalam tahap penyidikan polisi. Akibat kasus yang menimpa AM, ponpes dengan ratusan santri di Kecamatan Kutorejo itu harus diliburkan. Berdasarkan keterangan warga setempat, usai AM dilaporkan, sejumlah spanduk pondok yang dipasang di jalan hingga pondok dibredel keluarga terlapor. (vad/ron)

 

KUTOREJO, Jawa Pos Radar Mojokerto – Dugaan kasus asusila yang dilakukan AM, 52, salah seorang pengasuh pesantren di Kecamatan Kutorejo, terus bergulir. Disinyalir, jumlah korban aksi tak senonoh ini bakal bertambah. Sebab, korban mengaku, dia bukan satu-satunya santriwati yang telah dilecehkan. 

Hal itu diungkapkan kuasa hukum korban, M Dhoufi. Ia menjelaskan, kliennya yang kini masih berusia 14 tahun itu mengaku bukan satu-satunya santriwati yang menerima perlakuan tak senonoh. ”Ada indikasi korban lain. Tapi sampai saat ini yang lain masih belum ada yang berani melapor,” ucapnya.

Hal ini diperkuat keterangan Bunga (nama samaran). Saat diperiksa, ia mengaku masih ada sejumlah santriwati yang senasib dengannya. Hanya saja, dia belum bisa bicara banyak. Lantaran, saat diperiksa petugas, korban masih mengalami trauma usai.

Kuat dugaan, sejumlah korban lainnya masih menutup diri dan malu untuk melapor ke kepolisian. ”Menurut korban, saat kita tanya ada lebih dari empat orang? Dia mengangguk.” Bebernya.

Baca Juga :  Tangkap 4 Orang, Polisi Sita 23 Ribu Pil Koplo

Para santriwati itu diduga telah dilecehkan berkali-kali oleh AM. Seperti yang dialami Bunga. Dia mendapatkan aksi tak senonoh itu di lingkungan pondoknya sejak tiga tahun lalu. Aksi tersebut dilancarkan ketika kondisi pondok tengah sepi. Namun, beberapa waktu lalu korban telah jengah dengan aksi tersebut. Hingga korban menolak ajakan AM dan memutuskan melaporkan aksi bejat ustadnya itu ke orang tuanya. ’’Untuk Bunga, diawali dengan pencabulan sebanyak tiga kali. Dan diakhiri dengan persetubuhan. Jadi Bunga disetubuhi sebanyak satu kali,’’ ungkapnya.

Dijelaskannya, usai orang tua korban melaporkan tindak asusila yang dilakukan AM Jumat (15/10) lalu, Bunga lantas menjalani visum. Hasilnya, menguatkan dugaan adanya aksi bejat yang dilancarkan AM. ”Hasilnya menunjukkan ada kejadian seperti itu (persetubuhan dan pencabulan) dan hasilnya itu sudah diserahkan ke penyidik,” paparnya.

- Advertisement -

Menurutnya, saat ini kondisi psikis korban tengah terguncang atas aksi bejat tersebut. Bunga masih belum bisa berinteraksi secara normal. Kini, korban menjalani pemulihan dengan keluarganya.

Baca Juga :  Tumpangi Honda CBR, Jambret Sambar Handphone Polwan

Potensi bertambahnya korban tindak asusila yang dilancarkan AM telah terendus petugas. Itu setelah kepolisian memanggil sejumlah saksi yang juga merupakan santriwati di pondok pesantren besutan AM. Yang tak lain merupakan teman Bunga. Diduga, korban aksi tak senonoh itu lebih dari lima orang. ”Waktu kami memanggil saksi, ternyata dia korban. Kita panggil saksi lainnya, ternyata dia korban juga. Sejauh ini korban sudah lebih dari lima orang dan kemungkinan masih terus bertambah lagi,” ujar sumber internarl kepolisian itu.

Sebelumnya, unit PPA Satreskrim Polres Mojokerto telah memeriksa sejumlah saksi dan pelaku pada Senin (18/10). Kasus tindak asusila tersebut kini tengah dalam tahap penyidikan polisi. Akibat kasus yang menimpa AM, ponpes dengan ratusan santri di Kecamatan Kutorejo itu harus diliburkan. Berdasarkan keterangan warga setempat, usai AM dilaporkan, sejumlah spanduk pondok yang dipasang di jalan hingga pondok dibredel keluarga terlapor. (vad/ron)

 

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/