Rabu, 01 Dec 2021
Radar Mojokerto
Home / Hukum & Kriminal
icon featured
Hukum & Kriminal

Kasus Pernikahan Dini Tinggi

Disebabkan Hamil Pra-Nikah Hingga Usia Belia

26 Oktober 2021, 13: 25: 59 WIB | editor : Fendy Hermansyah

Kasus Pernikahan Dini Tinggi

ilustrasi pernikahan dini (dok jawapos for jawaposradarmojokerto.id)

Share this      

MOJOKERTO RAYA, Jawa Pos Radar Mojokerto – Kasus pernikahan dini di Mojokerto tercatat sangat tinggi. Sepanjang 2021, sebanyak 421 pasangan mengajukan dispensasi nikah ke Pengadilan Agama (PA) Mojokerto. Umur yang tak mencukupi hingga hamil duluan menjadi penyebab utamanya.

Panitera Pengadilan Agama (PA) Mojokerto Ishadi menyebut, tahun ini PA mencatat pengajuan dispensasi kian tinggi. Ia menghitung, sejak Januari warga yang mengajukan dispensasi kawin sebanyak 421 pasangan.

Dari jumlah itu, sebanyak 400 pasangan sudah dikabulkan. Lalu, dua pasangan ditolak lantaran tak memenuhi persyaratan. Sedangkan enam pasangan dicabut dan satu pasangan usulannya tidak dapat diterima. ’’Ada yang persyaratannya memang tidak memenuhi atau kurang lengkap. Lalu, yang satu pasangan tidak diterima karena memang usia mempelai perempuan sangat di bawah umur sekali. Otomatis tidak bisa dikabulkan,” jelas Ishadi.

Baca juga: Korsleting, Rumah Makan Tinggal Rangka

Banyak faktor yang menyebabkan adanya tren nikah dini. ”Kaitan masalah dispensasi nikah yang masuk ke PA tahun ini sangat banyak. Warga belum banyak tahu tentang aturan baru usia pasangan menurut undang-undang sehingga terpaksa dikabulkan lewat dispensasi. Itu juga menjadi salah satu penyebabnya,” ungkapnya.

Ishadi menerangkan, berdasarkan Pasal 7 ayat 1 Undang-Undang Nomor 16/2019 tentang Perkawinan disebutkan, perkawinan hanya diizinkan apabila pria dan wanita sudah mencapai umur 19 tahun. ’’Jika usia calon pasutri kurang dari 19 tahun maka wajib mengajukan mengajukan dispensasi kawin ke pengadilan agama (PA),” tuturnya.

Selain faktor usia, Ishadi juga membeber, penyebab maraknya pengajuan dispensasi nikah akibat pasangan wanita sudah hamil duluan. Sehingga, pihak orang tua wanita meminta pertanggungjawaban lelaki yang menghamilinya. Ironisnya, mayoritas yang menghamili tersebut juga masih berusia di bawah 19 tahun atau teman sekolah. ’’Jika sudah hamil duluan ini yang akhirnya kami terpaksa memberikan dispensasi kawin,” ulasnya.

Kemudian, mantan Panitera PA Ponorogo ini melanjutkan, pengajuan dispensasi nikah selalu terjadi setiap bulan. Namun, pengajuan paling banyak terjadi September lalu. Bahkan, dia sempat menangani 12 pasangan yang mengajukan dispensasi nikah dalam sepekan di bulan tersebut. ”Saat itu memang juga sedang musimnya pernikahan, jadi ramai pengajuan. Tapi, dari pengajuan tersebut (421 pasangan) yang sudah diputus sebanyak 409 pasangan,” terang dia.

Menurut Ishadi, pernikahan dini sangatlah berisiko. Sebab, secara mental, pasutri yang belum siap berumah tangga. Karena mereka masih usia sekolah. Kemudian, faktor pekerjaan, pasutri yang masih belia juga belum mapan. ’’Secara kesehatan reproduksi juga tidak bagus jika usianya di bawah 19 tahun. Selain itu juga berbahaya bagi kelangsungan rumah tangganya nanti,” tukasnya. (oce/ron)

(mj/OCE/fen/JPR)

 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
Facebook Twitter Instagram YouTube
©2021 PT. JawaPos Group Multimedia