alexametrics
30.8 C
Mojokerto
Monday, August 15, 2022

Polisi Endus Dugaan Pelanggaran SOP

Terkait Tewasnya Dua Pekerja PT HAN saat Bersihkan Tangki
NGORO, Jawa Pos Radar Mojokerto – Kecelakaan kerja yang mewaskan dua pekerja di PT Hijau Alam Nusantara (HAN) di Dusun/Desa Manduromanggunggajah, Kecamatan Ngoro, tengah dalam penyelidikan kepolisian. Petugas mengendus adanya pelanggaran terkait standar operasional prosedur (SOP) di lingkup pabrik hingga menewaskan dua orang pekerja tersebut.

Pantauan Jawa Pos Radar Mojokerto, aktivitas pabrik pengolahan limbah tersebut seolah tertutup dan tampak tidak lumrah. Gerbang utamanya tertutup rapat dalam posisi terantai meski tampak beberapa orang tengah berbincang di dalam pabrik.

’’Sekarang sedang libur, nggak ada orang,’’ sebut salah seorang security pabrik di dalam gerbang saat dikonfirmasi kemarin. Meski mempekerjakan warga setempat, belakangan ini pabrik seolah tertutup dengan masyarakat. Sebab, gerbang utamanya lebih sering tertutup rapat dan minim aktivitas berarti. ’’Setiap harinya ya seperti itu, sepi. Selebihnya seperti apa kami kurang tahu karena lokasinya jauh dari perkampungan,’’ sebut Kepala Dusun Manduro Deny.

Sejumlah kejanggalan turut terendus pihak kepolisian. Terutama saat memintai keterangan pihak pabrik sesaat usai insiden maut terjadi Kamis (23/6) malam. Petugas yang melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) pun dibuat bertanya-tanya soal SOP yang berlaku di lingkup pabrik.

Baca Juga :  Ikfina Berinisiatif Temui KPK

Utamanya terkait alat pelindung diri (APD) bagi pekerja yang tengah membersihkan tangki truk fuso warna putih bernopol L 9396 UK. ’’Kami sempat tanyai pihak pabrik, katanya mereka (para korban) ini sudah pakai APD. Anehnya, kalau mereka sudah pakai APD kok bisa sampai meninggal?’’ ungkap Kanitreskrim Polsek Ngoro AKP Saiful Hadi.

Tak sampai di situ, operasional pabrik pengolahan limbah itu pun jadi tanda tanya. Sebab, pabrik yang mengolah limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) dan non B3 itu dikabarkan sudah sekitar setahun terakhir tidak beroperasi. Justru, insiden maut pada Kamis (23/6) malam itu mengejutkan banyak pihak. ’’Kabarnya seperti itu, dugaannya sudah lama tidak beroperasi. Saat kami pemantauan wilayah rutin pun kondisi di lokasi minim aktivitas,’’ ujar AKP Saiful Hadi.

Kondisi tersebut seiring dengan lokasi yang berada jauh dari pemukiman warga di sisi selatan desa. Pabrik yang berdiri lebih dari lima tahun terakhir itu disinyalir tengah bermasalah. ’’Sempat waktu itu ada pihak leasing yang mau nagih truk mereka. Kami tengahi agar itu tidak berdampak bagi keamanan warga setempat. Karena mereka sampai bawa pengacara,’’ ungkap AKP Saiful Hadi.

Baca Juga :  Seluruh Honorer Kejari Dicover BPJS-TK

Terpisah, Kepala Dinas Tenaga Kerja (Disnake) Kabupaten Mojokerto Bambang Purwanto menyampaikan hal senada. Menurutnya, pabrik pengolahan limbah tersebut sudah lama tidak beroperasi. ’’Terkait ini kami sudah berkoordinasi dengan pihak berwajib. Informasi yang kami terima memang pabrik ini (sudah lama) nggak beropasional. Kemarin (Kamis, 23/6) itu mereka hanya membersihkan peralatan,’’ terangnya.

Meski begitu, Bambang memastikan PT HAN masih tercatat dan terdaftar oleh Diasnaker Kabupaten Mojokerto. Namun, pihaknya masih belum bisa bicara detil lantaran kasus tewasnya dua pekerja ini tengah dalam proses pendalaman polisi. ’’Perusahaan sudah terdata. Namun kami belum bisa berkomentar banyak karena sedang dalam penyelidikan APH,’’ tandasnya. (vad/fen)

Terkait Tewasnya Dua Pekerja PT HAN saat Bersihkan Tangki
NGORO, Jawa Pos Radar Mojokerto – Kecelakaan kerja yang mewaskan dua pekerja di PT Hijau Alam Nusantara (HAN) di Dusun/Desa Manduromanggunggajah, Kecamatan Ngoro, tengah dalam penyelidikan kepolisian. Petugas mengendus adanya pelanggaran terkait standar operasional prosedur (SOP) di lingkup pabrik hingga menewaskan dua orang pekerja tersebut.

Pantauan Jawa Pos Radar Mojokerto, aktivitas pabrik pengolahan limbah tersebut seolah tertutup dan tampak tidak lumrah. Gerbang utamanya tertutup rapat dalam posisi terantai meski tampak beberapa orang tengah berbincang di dalam pabrik.

’’Sekarang sedang libur, nggak ada orang,’’ sebut salah seorang security pabrik di dalam gerbang saat dikonfirmasi kemarin. Meski mempekerjakan warga setempat, belakangan ini pabrik seolah tertutup dengan masyarakat. Sebab, gerbang utamanya lebih sering tertutup rapat dan minim aktivitas berarti. ’’Setiap harinya ya seperti itu, sepi. Selebihnya seperti apa kami kurang tahu karena lokasinya jauh dari perkampungan,’’ sebut Kepala Dusun Manduro Deny.

Sejumlah kejanggalan turut terendus pihak kepolisian. Terutama saat memintai keterangan pihak pabrik sesaat usai insiden maut terjadi Kamis (23/6) malam. Petugas yang melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) pun dibuat bertanya-tanya soal SOP yang berlaku di lingkup pabrik.

Baca Juga :  Hendak BAB, Terjatuh, Warga Ditemukan Tewas

Utamanya terkait alat pelindung diri (APD) bagi pekerja yang tengah membersihkan tangki truk fuso warna putih bernopol L 9396 UK. ’’Kami sempat tanyai pihak pabrik, katanya mereka (para korban) ini sudah pakai APD. Anehnya, kalau mereka sudah pakai APD kok bisa sampai meninggal?’’ ungkap Kanitreskrim Polsek Ngoro AKP Saiful Hadi.

Tak sampai di situ, operasional pabrik pengolahan limbah itu pun jadi tanda tanya. Sebab, pabrik yang mengolah limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) dan non B3 itu dikabarkan sudah sekitar setahun terakhir tidak beroperasi. Justru, insiden maut pada Kamis (23/6) malam itu mengejutkan banyak pihak. ’’Kabarnya seperti itu, dugaannya sudah lama tidak beroperasi. Saat kami pemantauan wilayah rutin pun kondisi di lokasi minim aktivitas,’’ ujar AKP Saiful Hadi.

- Advertisement -

Kondisi tersebut seiring dengan lokasi yang berada jauh dari pemukiman warga di sisi selatan desa. Pabrik yang berdiri lebih dari lima tahun terakhir itu disinyalir tengah bermasalah. ’’Sempat waktu itu ada pihak leasing yang mau nagih truk mereka. Kami tengahi agar itu tidak berdampak bagi keamanan warga setempat. Karena mereka sampai bawa pengacara,’’ ungkap AKP Saiful Hadi.

Baca Juga :  Sebelum Tewas, Suratman Servis Motor lalu Dikeroyok

Terpisah, Kepala Dinas Tenaga Kerja (Disnake) Kabupaten Mojokerto Bambang Purwanto menyampaikan hal senada. Menurutnya, pabrik pengolahan limbah tersebut sudah lama tidak beroperasi. ’’Terkait ini kami sudah berkoordinasi dengan pihak berwajib. Informasi yang kami terima memang pabrik ini (sudah lama) nggak beropasional. Kemarin (Kamis, 23/6) itu mereka hanya membersihkan peralatan,’’ terangnya.

Meski begitu, Bambang memastikan PT HAN masih tercatat dan terdaftar oleh Diasnaker Kabupaten Mojokerto. Namun, pihaknya masih belum bisa bicara detil lantaran kasus tewasnya dua pekerja ini tengah dalam proses pendalaman polisi. ’’Perusahaan sudah terdata. Namun kami belum bisa berkomentar banyak karena sedang dalam penyelidikan APH,’’ tandasnya. (vad/fen)

Artikel Terkait

Most Read

Jubir Satgas Kota Positif Covid-19

Istri Mengaku Tak Keberatan

Mampu Kandaskan Tim Unggulan

Buka Peluang PTM Penuh

Artikel Terbaru

/