alexametrics
27.8 C
Mojokerto
Thursday, May 26, 2022

Uang Jualan Sabu Masuk ATM Istri

KOTA, Jawa Pos Radar Mojokerto – Pasangan suami istri (pasutri) pengedar sabu-sabu dibekuk polisi. Slamet dan Nike tak berkutik saat petugas menyergap rumah mereka di Dusun/Desa Jabon, Kecamatan Mojoanyar, Kabupaten Mojokerto, pada Selasa (5/1) lalu. Mereka diamankan bersama barang bukti sabu seberat 23,08 gram. Sebelumnya, pasangan ini juga sempat nyabu bareng.

Tiga minggu terakhir, Satresnarkoba Polres Mojokerto Kota mengungkap 16 kasus peredaran narkotika. Bersama itu, petugas mengamankan 21 orang yang diduga terlibat aksi peredaran dan penyalahguaan sabu-sabu. Sementara itu, barang bukti yang diamankan berupa 55,14 gram sabu, uang tunai Rp 2 juta, tujuh timbangan elektonik, 24 handpohe (HP), serta satu butir ekstasi. ’’Sejak 3 Januari sampai dengan 22 Januari 2021 berhasil mengungkap 16 kasus dengan 21 tersangka. Terdiri dari 20 laki-laki dan satu orang perempuan,’’ ungkap Kapolres Mojokerto Kota AKBP Deddy Supriadi.

Menurutnya, di antara pelaku tersebut terdapat pasutri, yakni Slamet dan Nike. Dijelaskannya, penangkapan pasutri ini merupakan pengembangan terhadap tersangka berinisial Epen yang diamankan di kawasan Kota Mojokerto pada hari yang sama. Slamet dan Nike diamankan petugas di rumahnya bersama barang bukti sabu seberat 23,08 gram yang sudah dikemas dalam 12 plastik klip.

Baca Juga :  Hendak ke Pasar, Tabrak Mobil Putar Balik

Selain itu, petugas juga menyita satu timbangan elektrik, dua handphone (HP), dua alat hisap sabu (bong), uang tunai Rp 650 ribu, dan dua kartu ATM yang digunakan pelaku jual beli sabu. ’’Si istri ini mengatahui kalau suaminya selama bekerja sebagai sopir truk nyambi juga jual sabu. Untuk ATM yang memegang si istri. Bahkan sepekan sebelum ditangkap, kedunya bersama-sama mengonsumsi sabu,’’ tambahnya.

Slamet mengaku, sehari-harinya dia bekerja sebagai sopir truk lintas daerah. Dari pekerjaannya tersebut, lanjutnya, dia mengambil pasokan sabu dari seorang kawannya di Surabaya. ’’Dari teman kerja nyopir. Transaksinya kalau pas ketemu di jalan,’’ ungkap pria 42 tahun tersebut.

Selain mengonsumsi, Slamet dan Nike juga menjadi pengedar sabu-sabu. Jaringan lintas daerah ini sudah melakukan aksinya sejak empat bulan terakhir.  Selama aksinya itu, Slamet mengaku sudah melakukan transaksi sebanyak tiga kali. Barang-batang tersebut, menurutnya, diedarkan ke teman-temannya sesama sopir. ’’Sekali ketemu (bertransaksi, Red) paling 5 gram (sabu-sabu),’’ kata ayah tiga anak itu.

Baca Juga :  Kakak Adik Kompak Edarkan Sabu

Dalam pengakuannya, Slamet terpaksa melakukan aksinya lantaran terlilit utang. Hasil penjualan sabu-sabu ini dipakainya mencicil utang sebesar Rp 7 juta yang ditanggung keluarganya. ’’Dijual ke teman-teman sopir untuk bayar utang saya,’’ kata Slamet.

Seluruh pelaku yang diamankan petugas ini disangkakan dengan Pasal 114 Ayat 1 subsider Pasal 112 UU RI Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika dengan ancaman hukuman pidana paling singkat lima tahun dan paling lama 20 tahun penjara. ’’Tindaklanjutnya yakni melengkapi administrasi penyidikan serta melimpahkan tersangka dan barang bukti ke Kejaksaan Negeri Kota Mojokerto,’’ pungkas AKBP Deddy Supriadi. (adi)

KOTA, Jawa Pos Radar Mojokerto – Pasangan suami istri (pasutri) pengedar sabu-sabu dibekuk polisi. Slamet dan Nike tak berkutik saat petugas menyergap rumah mereka di Dusun/Desa Jabon, Kecamatan Mojoanyar, Kabupaten Mojokerto, pada Selasa (5/1) lalu. Mereka diamankan bersama barang bukti sabu seberat 23,08 gram. Sebelumnya, pasangan ini juga sempat nyabu bareng.

Tiga minggu terakhir, Satresnarkoba Polres Mojokerto Kota mengungkap 16 kasus peredaran narkotika. Bersama itu, petugas mengamankan 21 orang yang diduga terlibat aksi peredaran dan penyalahguaan sabu-sabu. Sementara itu, barang bukti yang diamankan berupa 55,14 gram sabu, uang tunai Rp 2 juta, tujuh timbangan elektonik, 24 handpohe (HP), serta satu butir ekstasi. ’’Sejak 3 Januari sampai dengan 22 Januari 2021 berhasil mengungkap 16 kasus dengan 21 tersangka. Terdiri dari 20 laki-laki dan satu orang perempuan,’’ ungkap Kapolres Mojokerto Kota AKBP Deddy Supriadi.

Menurutnya, di antara pelaku tersebut terdapat pasutri, yakni Slamet dan Nike. Dijelaskannya, penangkapan pasutri ini merupakan pengembangan terhadap tersangka berinisial Epen yang diamankan di kawasan Kota Mojokerto pada hari yang sama. Slamet dan Nike diamankan petugas di rumahnya bersama barang bukti sabu seberat 23,08 gram yang sudah dikemas dalam 12 plastik klip.

Baca Juga :  Polisi Buru Jaringan Sumardi

Selain itu, petugas juga menyita satu timbangan elektrik, dua handphone (HP), dua alat hisap sabu (bong), uang tunai Rp 650 ribu, dan dua kartu ATM yang digunakan pelaku jual beli sabu. ’’Si istri ini mengatahui kalau suaminya selama bekerja sebagai sopir truk nyambi juga jual sabu. Untuk ATM yang memegang si istri. Bahkan sepekan sebelum ditangkap, kedunya bersama-sama mengonsumsi sabu,’’ tambahnya.

Slamet mengaku, sehari-harinya dia bekerja sebagai sopir truk lintas daerah. Dari pekerjaannya tersebut, lanjutnya, dia mengambil pasokan sabu dari seorang kawannya di Surabaya. ’’Dari teman kerja nyopir. Transaksinya kalau pas ketemu di jalan,’’ ungkap pria 42 tahun tersebut.

Selain mengonsumsi, Slamet dan Nike juga menjadi pengedar sabu-sabu. Jaringan lintas daerah ini sudah melakukan aksinya sejak empat bulan terakhir.  Selama aksinya itu, Slamet mengaku sudah melakukan transaksi sebanyak tiga kali. Barang-batang tersebut, menurutnya, diedarkan ke teman-temannya sesama sopir. ’’Sekali ketemu (bertransaksi, Red) paling 5 gram (sabu-sabu),’’ kata ayah tiga anak itu.

Baca Juga :  Polisi Bakal Panggil Pemohon
- Advertisement -

Dalam pengakuannya, Slamet terpaksa melakukan aksinya lantaran terlilit utang. Hasil penjualan sabu-sabu ini dipakainya mencicil utang sebesar Rp 7 juta yang ditanggung keluarganya. ’’Dijual ke teman-teman sopir untuk bayar utang saya,’’ kata Slamet.

Seluruh pelaku yang diamankan petugas ini disangkakan dengan Pasal 114 Ayat 1 subsider Pasal 112 UU RI Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika dengan ancaman hukuman pidana paling singkat lima tahun dan paling lama 20 tahun penjara. ’’Tindaklanjutnya yakni melengkapi administrasi penyidikan serta melimpahkan tersangka dan barang bukti ke Kejaksaan Negeri Kota Mojokerto,’’ pungkas AKBP Deddy Supriadi. (adi)

Artikel Terkait

Most Read

DPRD Tunggu Surat Gubernur

Dialihkan ke Gondang

Operasional Bus Tetap Normal

Artikel Terbaru


/