alexametrics
30.8 C
Mojokerto
Monday, August 15, 2022

Polisi Temukan Lebam Bekas Luka Bekam, Suami Antar Jenazah lalu Menghilang

JETIS, Jawa Pos Radar Mojokerto – Polisi menemukan tanda lebam menyerupai bekas bekam di tubuh Sulangsih, 43. Luka itu identik dengan sundutan gelas panas yang disebut kerap dilakukan sang suami, SM, 45. Satreskrim Polres Mojokerto Kota masih menunggu hasil otopsi untuk memastikan penyebab kematian ibu ibu rumah tangga asal Desa Ngabar, Kecamatan Jetis tersebut.

Sulangsih diduga mengalami kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) hingga akhirnya meninggal. Pihak keluarga menduga, sang suami lah yang melakukannya. Sehingga, mereka meminta jasad korban dilakukan otopsi.

Proses otopsi berlangsung di RSUD dr Wahidin Sudiro Husodo, Kamis (23/6). Hari itu, sekitar pukul 21.00 jenazah Sulangsih selesai diperiksa dan langsung dibawa pulang untuk dikebumikan. Almarhumah dimakamkan di Makam Sentono Asri, Desa Ngabar, Kecamatan Jetis. ”Kami makamkan langsung,” kata Hadi, adik kandung Sulangsih ditemui di kediamannya, kemarin (24/6).

Huda tinggal bersebelahan dengan rumah Sulangsih. Menurutnya, SM sempat hadir pada malam pemakaman istrinya. Pria asal Mojoanyar yang baru menikah dengan Sulangsih tujuh bulan silam itu tampak ikut mengantarkan jenazah menuju pemakaman. ”Cuma ikut jalan, setelah itu pergi lagi. Tidak sampai di kuburan apalagi ikut memakamkan,” terangnya.

Hadi mengaku tidak tahu alasan SM tiba-tiba muncul dan kemudian pergi. Padahal, selama istrinya sakit dan diboyong ke Nganjuk, sosoknya tak pernah terlihat. Dia bahkan tidak pulang ke rumah yang ditinggali bersama Sulangsih dan tiga anaknya itu. ”Tanya kabar istrinya ke sini saja tidak pernah,” cetusnya.

Baca Juga :  Hindari Penyeberang Jalan, Tabrak Trotoar dan Tewas

Hadi mengaku, meskip tinggal berdempetan, dirinya tidak pernah mengetahui persoalan rumah tangga yang dialami kakaknya. Dirinya baru tahu jika adiknya diduga mengalami KDRT hingga meninggal setelah diboyong ke Nganjuk. ”Tidak ada yang tahu karena tertutup. Kalau bertengkar begitu pintunya langsung ditutup,” sebutnya.

Ketidaktahuan keluarga dan warga ditengarai lantaran SM melakukan pengancaman. Dia mengancam akan membunuh Suliangsih dan FM, 14, anak Suliangsih apabila menceritakan perbuatannya. ”Kalau cerita disiksa mau dibunuh,” sebut Musa, tetangga korban.

Musa mengaku sempat menjenguk Suliangsih saat dirawat di Nganjuk. Di sana, menurut dia, korban mengeluh sakit pada punggung. Saat itu, kesehatan korban terus menurun dan tubuhnya jauh lebih kurus. Dari sana pula, dia mengetahui beragam bentuk penyiksaan yang disebut dilakukan SM pada korban. Seperti disundut dengan gelas yang dipanasi hingga ditendang di bagian ulu hati. ”Kalau polisi menemukan bekas bekam, ya bisa jadi itu bekas gelas panas itu,” ujarnya.

Kasatreskrim Polres Mojokerto Kota AKP Rizki Santoso menyampaikan, pihaknya masih menunggu hasil otopsi yang dilakukan Labfor Polda Jatim untuk memastikan penyebab kematian korban. Hasil otopsi itu, lanjut dia, paling cepat bisa diketahui dalam waktu satu bulan. Rizki menyebut, jika ditemukan tanda fisik seperti lebam bekas bekam. Namun, dirinya belum berani memastikan apakah luka itu bekas kekerasan atau tidak. ”Untuk visum tidak terlihat, ada tanda-tanda bekam tapi bukan kekerasan secara utuh,” terangnya.

Baca Juga :  Harapan pada Tasyakuran HBA Ke-62, Pemkot-Kejari Terus Bersinergi

Menurutnya, otopsi menjadi dasar untuk menentukan apakah korban meninggal akibat KDRT sebagaimana yang dilaporkan pihak keluarga atau penyebab lainnya. Penyidik juga bakal melakukan olah TKP untuk menguatkan alat bukti. ”Kami juga memeriksa saksi-saksi keluarga almarhum baik anak dan saudaranya,” jelas Rizki.

Terkait dengan keberadaan SM, pihaknya baru sebatas melakukan pemantauan dan lebih fokus pada korban. ”Kami akan lengkapi alat buktinya dulu, kalau memang sudah lengkap, akan kita lakukan upaya paksa (menangkap terduga pelaku),” tandasnya.

Sebelumnya, Suliangsih diduga meninggal usai berkali-kali disiksa suaminya sendiri, SM, 45. Korban disebut kerap disundut dengan gelas panas, ditendang di bagian ulu hati, hingga menempelkan wajah korban ke baling-baling kipas angin.

Rabu (22/6) malam, Sulangsih dinyatakan meninggal saat menjalani perawatan di sebuah rumah sakit di Nganjuk. Kematian ibu lima anak itu membuat sanak-saudaranya tak terima. Kamis (23/6) pagi, jasad korban dibawa ke RSUD dr Wahidin Sudiro Husodo, Kota Mojokerto untuk diotopsi. Pihak keluarga yakin penyiksaan yang dilakukan SM-lah yang membuat korban meregang nyawa. SM disebut tempramental dan melakukan kekerasan karena masalah sepele. (adi/ron)

JETIS, Jawa Pos Radar Mojokerto – Polisi menemukan tanda lebam menyerupai bekas bekam di tubuh Sulangsih, 43. Luka itu identik dengan sundutan gelas panas yang disebut kerap dilakukan sang suami, SM, 45. Satreskrim Polres Mojokerto Kota masih menunggu hasil otopsi untuk memastikan penyebab kematian ibu ibu rumah tangga asal Desa Ngabar, Kecamatan Jetis tersebut.

Sulangsih diduga mengalami kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) hingga akhirnya meninggal. Pihak keluarga menduga, sang suami lah yang melakukannya. Sehingga, mereka meminta jasad korban dilakukan otopsi.

Proses otopsi berlangsung di RSUD dr Wahidin Sudiro Husodo, Kamis (23/6). Hari itu, sekitar pukul 21.00 jenazah Sulangsih selesai diperiksa dan langsung dibawa pulang untuk dikebumikan. Almarhumah dimakamkan di Makam Sentono Asri, Desa Ngabar, Kecamatan Jetis. ”Kami makamkan langsung,” kata Hadi, adik kandung Sulangsih ditemui di kediamannya, kemarin (24/6).

Huda tinggal bersebelahan dengan rumah Sulangsih. Menurutnya, SM sempat hadir pada malam pemakaman istrinya. Pria asal Mojoanyar yang baru menikah dengan Sulangsih tujuh bulan silam itu tampak ikut mengantarkan jenazah menuju pemakaman. ”Cuma ikut jalan, setelah itu pergi lagi. Tidak sampai di kuburan apalagi ikut memakamkan,” terangnya.

Hadi mengaku tidak tahu alasan SM tiba-tiba muncul dan kemudian pergi. Padahal, selama istrinya sakit dan diboyong ke Nganjuk, sosoknya tak pernah terlihat. Dia bahkan tidak pulang ke rumah yang ditinggali bersama Sulangsih dan tiga anaknya itu. ”Tanya kabar istrinya ke sini saja tidak pernah,” cetusnya.

Baca Juga :  KPK Panggil Mantan Mendagri Gamawan Fauzi terkait Kasus KTP-el

Hadi mengaku, meskip tinggal berdempetan, dirinya tidak pernah mengetahui persoalan rumah tangga yang dialami kakaknya. Dirinya baru tahu jika adiknya diduga mengalami KDRT hingga meninggal setelah diboyong ke Nganjuk. ”Tidak ada yang tahu karena tertutup. Kalau bertengkar begitu pintunya langsung ditutup,” sebutnya.

- Advertisement -

Ketidaktahuan keluarga dan warga ditengarai lantaran SM melakukan pengancaman. Dia mengancam akan membunuh Suliangsih dan FM, 14, anak Suliangsih apabila menceritakan perbuatannya. ”Kalau cerita disiksa mau dibunuh,” sebut Musa, tetangga korban.

Musa mengaku sempat menjenguk Suliangsih saat dirawat di Nganjuk. Di sana, menurut dia, korban mengeluh sakit pada punggung. Saat itu, kesehatan korban terus menurun dan tubuhnya jauh lebih kurus. Dari sana pula, dia mengetahui beragam bentuk penyiksaan yang disebut dilakukan SM pada korban. Seperti disundut dengan gelas yang dipanasi hingga ditendang di bagian ulu hati. ”Kalau polisi menemukan bekas bekam, ya bisa jadi itu bekas gelas panas itu,” ujarnya.

Kasatreskrim Polres Mojokerto Kota AKP Rizki Santoso menyampaikan, pihaknya masih menunggu hasil otopsi yang dilakukan Labfor Polda Jatim untuk memastikan penyebab kematian korban. Hasil otopsi itu, lanjut dia, paling cepat bisa diketahui dalam waktu satu bulan. Rizki menyebut, jika ditemukan tanda fisik seperti lebam bekas bekam. Namun, dirinya belum berani memastikan apakah luka itu bekas kekerasan atau tidak. ”Untuk visum tidak terlihat, ada tanda-tanda bekam tapi bukan kekerasan secara utuh,” terangnya.

Baca Juga :  Cuci Piring, Jatuh Terpeleset, Ibu RT Tercebur Sumur

Menurutnya, otopsi menjadi dasar untuk menentukan apakah korban meninggal akibat KDRT sebagaimana yang dilaporkan pihak keluarga atau penyebab lainnya. Penyidik juga bakal melakukan olah TKP untuk menguatkan alat bukti. ”Kami juga memeriksa saksi-saksi keluarga almarhum baik anak dan saudaranya,” jelas Rizki.

Terkait dengan keberadaan SM, pihaknya baru sebatas melakukan pemantauan dan lebih fokus pada korban. ”Kami akan lengkapi alat buktinya dulu, kalau memang sudah lengkap, akan kita lakukan upaya paksa (menangkap terduga pelaku),” tandasnya.

Sebelumnya, Suliangsih diduga meninggal usai berkali-kali disiksa suaminya sendiri, SM, 45. Korban disebut kerap disundut dengan gelas panas, ditendang di bagian ulu hati, hingga menempelkan wajah korban ke baling-baling kipas angin.

Rabu (22/6) malam, Sulangsih dinyatakan meninggal saat menjalani perawatan di sebuah rumah sakit di Nganjuk. Kematian ibu lima anak itu membuat sanak-saudaranya tak terima. Kamis (23/6) pagi, jasad korban dibawa ke RSUD dr Wahidin Sudiro Husodo, Kota Mojokerto untuk diotopsi. Pihak keluarga yakin penyiksaan yang dilakukan SM-lah yang membuat korban meregang nyawa. SM disebut tempramental dan melakukan kekerasan karena masalah sepele. (adi/ron)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/