alexametrics
27.8 C
Mojokerto
Thursday, May 26, 2022

Tiga Rumah Dirusak

DAWARBLANDONG, Jawa Pos Radar Mojokerto – Mapolsek Dawarblandong, Kabupaten Mojokerto kembali diluruk massa pesilat, Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT), Senin (22/11) malam. Seribuan pesilat itu mempertanyakan kasus penganiayaan yang menimpa dua anggotanya, Senin (22/11) dinihari.

Kanitreskrim Polsek Dawarblandong Aiptu Agus Sadikin, mengatakan, penganiayaan itu menimpa dua pemuda asal Dusun Jombangan, Desa Sumberwuluh, Kecamatan Dawarblandong. Keduanya berpakaian salah satu kepompok perguruan silat dan sedang membeli tahu tek di simpang empat Desa Pulorejo.

Saat menunggu pesanan rampung, keduanya didatangi segerombolan orang tak dikenal berjumlah sepuluhan orang. Mereka datang dari arah timur menggunakan sepeda motor dan langsung mendekati kedua korban. ”Mungkin lihat kaos korban ada kaos PSHT langsung turun. Disuruh lepas di situ sambil dipukuli,” terang

Selain meggunakan tangan kosong, seorang pelaku juga memukul salah satu korban dengan batu. Para pelaku kabur ke arah utara menuju kawasan Balongpanggang. Mereka mengenakan topeng muka dan berpakaian hitam. Aksi itu sempat terekam CCTV warga. Dia menyebut, para pelaku dimungkinkan berasal dari luar wilayah hukumnya.

Kasus penganiayaan ini, membuat anggota yang lain geram. Senin malam (23/11), mereka mendatangi Mapolsek Dawarblandong.

Aksi massa ini, mengakibatkan tiga rumah warga rusak. Satu rumah di Desa Mojorejo, Kecamatan Jetis dilempari dengan batu hingga membuat kaca jendela pecah serta atap bangunan berbahan asbes dan seng rusak. Di Desa Sawo, Kecamatan Jetis, dua rumah dilaporkan rusak. Pintu berbahan asben rusak serta tempok rumah jebol. ”Ada tiga rumah yang dilempari batu. Itu rombongan yang mau pulang ke Jombang,” terang Kapolsek Jetis Kompol Soegeng Prajitno di lokasi.

Baca Juga :  Tersangka Pemerkosaan Bocah SD Bertambah

Selain itu, massa aksi yang membludak di jalan juga sempat terlibat cek-cok dengan warga di Desa Jolotundo, Kecamatan Jetis. Saat itu, dua pengendara motor terkena lemparan batu. ”Terkena lemparan batu dan njarem. Tapi, dia tidak menuntut,” imbuhnya.

Di lokasi sisi, massa aksi yang bergerak ke arah Sidoarjo dan Gresik juga tumpah ruah di Jalan Raya Jetis-Wringinanom. Di simpang empat Jetis, insiden kecelakaan sempat terjadi. Kawasaki Ninja nopol S 6954 BX yang dikendarai Ambon, diseruduk hingga terjun ke saluran air sedalam kira-kira dua meter. ”Saya jagang di pinggir jalan. Terus keseruduk massa yang lari mengejar orang yang masuk gang sini,” terang Ambon di lokasi.

Sebelum massa membubarkan diri sekitar pukul 22.00, ratusan orang berada di simpang empat Desa Pulorejo, Kecamatan Dawarblandong, sejak pukul 19.00. Mereka beraksi dengan menggeber-geber motor dan mengibarkan bendera besar. Mereka bermaksud menggeruduk Mapolsek Dawarblandong dengan tujuan menuntut penuntasan dua kasus penganiayaan yang menimpa anggotanya. ”Yang pertama kasus di Simongagrok tidak ada titik temu sampai saat ini. Yang kedua tadi malam (Senin dini hari, Red). Harus segera ditindaklanjuti,” ujar perwakilan massa yang melakukan orasi dan disambut sorakan.

Kasus pertama yang sudah berlangsung selama tiga bulan belum menemui titik terang. Polisi mengaku, belum bisa menangkap pelaku karena minim saksi. Kapolres Mojokerto Kota AKBP Rofiq Ripto Himawan memastikan proses hukum terus berjalan dan pihaknya melakukan penanganan kasus secara objektif. Saat ini polisi masih melakukan penyelidikan berupa pengumpulan alat bukti. ”Siapapun yang melanggar aturan hukum maka harus mempertanggungjawabkan sesuai aturan hukum dan sanksi pidana,” tegasnya.

Baca Juga :  Vaksinasi Anak Capai 20,72 Persen

Rofiq mengaku, telah mengingatkan kepada para pengurus perguruan silat supaya aksi penyampaian aspirasi tersebut tidak meninggalkan masalah. Terhadap pengerusakan rumah yang diduga dilakukan massa, pihaknya mempersilakan warga yang merasa dirugikan untuk melapor.”Sudah saya ingatkan. Jangan sampai ada masalah. Kalau ada masalah ya harus berani mempertanggungjawabkan. Ini sedang kita komunikasikan,” ujar dia.

Pihaknya mengaku, dalam waktu dekat segera berkumpul dengan para pengurus perguruan silat untuk mencari solusi terkait aksi-aksi pengerudukan ini. Tak hanya menyelesaikan masalah pengerusakan, termasuk pula mencegah supaya aksi semacam ini tak lagi terjadi. ”Ini masalah hilir. Ini harus mencari solusi. Maka saya akan memanggil pimpinannya untuk diajak diskusi. Jangan sampai megajarkan silat tapi tidak mengajarkan akhlak,” tegasnya.

Sementara itu, pengurus perguruan silat Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) belum memberi penyataan resmi. Baik pengurus tingkat ranting maupun cabang PSHT Mojokerto masih irit bicara. Ketua PSHT Ranting Dawarblandong Anwar mengaku tak punya kewenangan memberi komentar lantaran kejadian tersebut saat ini ditangani pengurus cabang. Di lain sisi, Sekretaris PSHT Cabang Mojokerto Bowo juga belum bisa memberi penjelasan. ”Mohon maaf terkait kejadian itu saya tak bisa memberi informasi karena tidak berada di lokasi,” ujarnya singkat. (adi/ron)

 

DAWARBLANDONG, Jawa Pos Radar Mojokerto – Mapolsek Dawarblandong, Kabupaten Mojokerto kembali diluruk massa pesilat, Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT), Senin (22/11) malam. Seribuan pesilat itu mempertanyakan kasus penganiayaan yang menimpa dua anggotanya, Senin (22/11) dinihari.

Kanitreskrim Polsek Dawarblandong Aiptu Agus Sadikin, mengatakan, penganiayaan itu menimpa dua pemuda asal Dusun Jombangan, Desa Sumberwuluh, Kecamatan Dawarblandong. Keduanya berpakaian salah satu kepompok perguruan silat dan sedang membeli tahu tek di simpang empat Desa Pulorejo.

Saat menunggu pesanan rampung, keduanya didatangi segerombolan orang tak dikenal berjumlah sepuluhan orang. Mereka datang dari arah timur menggunakan sepeda motor dan langsung mendekati kedua korban. ”Mungkin lihat kaos korban ada kaos PSHT langsung turun. Disuruh lepas di situ sambil dipukuli,” terang

Selain meggunakan tangan kosong, seorang pelaku juga memukul salah satu korban dengan batu. Para pelaku kabur ke arah utara menuju kawasan Balongpanggang. Mereka mengenakan topeng muka dan berpakaian hitam. Aksi itu sempat terekam CCTV warga. Dia menyebut, para pelaku dimungkinkan berasal dari luar wilayah hukumnya.

Kasus penganiayaan ini, membuat anggota yang lain geram. Senin malam (23/11), mereka mendatangi Mapolsek Dawarblandong.

Aksi massa ini, mengakibatkan tiga rumah warga rusak. Satu rumah di Desa Mojorejo, Kecamatan Jetis dilempari dengan batu hingga membuat kaca jendela pecah serta atap bangunan berbahan asbes dan seng rusak. Di Desa Sawo, Kecamatan Jetis, dua rumah dilaporkan rusak. Pintu berbahan asben rusak serta tempok rumah jebol. ”Ada tiga rumah yang dilempari batu. Itu rombongan yang mau pulang ke Jombang,” terang Kapolsek Jetis Kompol Soegeng Prajitno di lokasi.

Baca Juga :  Pangsa Pasar Seantero Nusantara
- Advertisement -

Selain itu, massa aksi yang membludak di jalan juga sempat terlibat cek-cok dengan warga di Desa Jolotundo, Kecamatan Jetis. Saat itu, dua pengendara motor terkena lemparan batu. ”Terkena lemparan batu dan njarem. Tapi, dia tidak menuntut,” imbuhnya.

Di lokasi sisi, massa aksi yang bergerak ke arah Sidoarjo dan Gresik juga tumpah ruah di Jalan Raya Jetis-Wringinanom. Di simpang empat Jetis, insiden kecelakaan sempat terjadi. Kawasaki Ninja nopol S 6954 BX yang dikendarai Ambon, diseruduk hingga terjun ke saluran air sedalam kira-kira dua meter. ”Saya jagang di pinggir jalan. Terus keseruduk massa yang lari mengejar orang yang masuk gang sini,” terang Ambon di lokasi.

Sebelum massa membubarkan diri sekitar pukul 22.00, ratusan orang berada di simpang empat Desa Pulorejo, Kecamatan Dawarblandong, sejak pukul 19.00. Mereka beraksi dengan menggeber-geber motor dan mengibarkan bendera besar. Mereka bermaksud menggeruduk Mapolsek Dawarblandong dengan tujuan menuntut penuntasan dua kasus penganiayaan yang menimpa anggotanya. ”Yang pertama kasus di Simongagrok tidak ada titik temu sampai saat ini. Yang kedua tadi malam (Senin dini hari, Red). Harus segera ditindaklanjuti,” ujar perwakilan massa yang melakukan orasi dan disambut sorakan.

Kasus pertama yang sudah berlangsung selama tiga bulan belum menemui titik terang. Polisi mengaku, belum bisa menangkap pelaku karena minim saksi. Kapolres Mojokerto Kota AKBP Rofiq Ripto Himawan memastikan proses hukum terus berjalan dan pihaknya melakukan penanganan kasus secara objektif. Saat ini polisi masih melakukan penyelidikan berupa pengumpulan alat bukti. ”Siapapun yang melanggar aturan hukum maka harus mempertanggungjawabkan sesuai aturan hukum dan sanksi pidana,” tegasnya.

Baca Juga :  Tersinggung Minta Diceraikan, Suami Sabet Istri dengan Sebilah Sabit

Rofiq mengaku, telah mengingatkan kepada para pengurus perguruan silat supaya aksi penyampaian aspirasi tersebut tidak meninggalkan masalah. Terhadap pengerusakan rumah yang diduga dilakukan massa, pihaknya mempersilakan warga yang merasa dirugikan untuk melapor.”Sudah saya ingatkan. Jangan sampai ada masalah. Kalau ada masalah ya harus berani mempertanggungjawabkan. Ini sedang kita komunikasikan,” ujar dia.

Pihaknya mengaku, dalam waktu dekat segera berkumpul dengan para pengurus perguruan silat untuk mencari solusi terkait aksi-aksi pengerudukan ini. Tak hanya menyelesaikan masalah pengerusakan, termasuk pula mencegah supaya aksi semacam ini tak lagi terjadi. ”Ini masalah hilir. Ini harus mencari solusi. Maka saya akan memanggil pimpinannya untuk diajak diskusi. Jangan sampai megajarkan silat tapi tidak mengajarkan akhlak,” tegasnya.

Sementara itu, pengurus perguruan silat Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) belum memberi penyataan resmi. Baik pengurus tingkat ranting maupun cabang PSHT Mojokerto masih irit bicara. Ketua PSHT Ranting Dawarblandong Anwar mengaku tak punya kewenangan memberi komentar lantaran kejadian tersebut saat ini ditangani pengurus cabang. Di lain sisi, Sekretaris PSHT Cabang Mojokerto Bowo juga belum bisa memberi penjelasan. ”Mohon maaf terkait kejadian itu saya tak bisa memberi informasi karena tidak berada di lokasi,” ujarnya singkat. (adi/ron)

 

Artikel Terkait

Most Read

Doa dari Zona Merah

Bertahan karena Costumize

Artikel Terbaru


/