alexametrics
29.8 C
Mojokerto
Saturday, June 25, 2022

Siksa Istri sampai Mati, Disundut Gelas Panas, Tendang Bagian Ulu Hati

Labfor Polda Jatim Temukan Bekas Kekerasan

JETIS, Jawa Pos Radar Mojokerto – Kematian Sulangsih, 43, menyisakan duka dan tanda tanya besar. Ibu rumah tangga asal Desa Ngabar, Kecamatan Jetis, itu diduga meninggal usai berkali-kali disiksa suaminya sendiri, SM, 45. Korban disebut kerap disundut dengan gelas panas hingga ditendang di bagian ulu hati.

Rabu (22/6) malam, Sulangsih dinyatakan meninggal saat menjalani perawatan di sebuah rumah sakit di Nganjuk. Kematian ibu lima anak itu membuat sanak-saudaranya tak terima. Kemarin (23/6) pagi, jasad korban dibawa ke RSUD dr Wahidin Sudiro Husodo, Kota Mojokerto untuk diotopsi. Pihak keluarga meminta supaya kematian korban diusut polisi. Mereka yakin, penyiksaan yang dilakukan suami lah yang membuat korban meregang nyawa.

Kekerasan yang dialami itu membuat korban sakit. Sejak beberapa minggu terakhir, dia memang dirawat oleh Fiki, putri sulungnya yang tinggal di Nganjuk. Selain karena kesehatan yang memburuk, Sulangsih diboyong karena dikabarkan mengalami penyiksaan oleh SM. ”Sering dipukul, adik saya yang lebih tahu karena tinggal serumah,” kata Fajar, putra korban.

Sulangsih disebut sudah mengalami penyiksaan selama berbulan-bulan. Musa, warga Desa Ngabar menuturkan, korban sering dipukul dan ditendang di bagian perut dan ulu hati. Selain itu, SM juga diduga melakukan sejumlah penyiksaan ke korban. Seperti menyundutkan gelas kaca yang dipanasi ke bagian punggung hingga menempelkan wajah korban ke baling-baling kipas angin. ”Tulang rusuknya sampai patah, dulu katanya juga sampai tidak bisa jalan,” ungkapnya.

Baca Juga :  Bunuh Diri di Pusara Istri, Polisi Temukan Racun Tikus di Lokasi

Semenjak mengalami penyiksaan, lanjut Musa, kesehatan korban terus menurun. Dia yang dulunya sehat mulai tampak kurus. Menurut Musa, korban juga sempat dibawa berobat ke pengobatan alternatif oleh SM. Namun, di mana tempat berobat itu sama sekali tidak diketahui oleh tetangga maupun keluarga. ”Kalau cerita ke orang, katanya akan dibunuh,” imbuhnya.

Aksi kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang menimpa korban baru diketahui minggu lalu. Saat itu, kakak korban melapor ke bhabinkamtimbas setempat karena FP, 14, anak korban yang tinggal serumah sering diancam akan dibunuh oleh SM. Dalam pertemuan itu, disebut juga jika Sulangsih yang sudah diboyong ke Nganjuk kerap dianiaya.

Informasi yang dihimpun, Sulangsih merupakan janda lima anak. Di rumahnya di Desa Ngabar itu, dia tinggal bersama tiga anaknya. Dua anak tertua, Fiki dan Fajar sudah menikah dan memiliki rumah sendiri. Masing-masing di Desa Mojosarirejo, Kecamatan Kemlagi dan di Nganjuk. Sekitar tujuh bulan lalu, Sulangsih menikah dengan SM, seorang duda asal Mojoanyar, Kabupaten Mojokerto.

Baca Juga :  Lukisan Peserta Pameran "OYOT MIMANG" Berdatangan ke Kantor JPRM

Saat itu, SM sering datang ke warung milik korban untuk minum-minuman. Dari sanalah, keduanya kenal dan akhirnya memutuskan menikah. Namun, perilaku SM yang tempramen membuat korban dan anak-anaknya sering menjadi sasaran amukan. Menurut Fajar, SM sering marah-marah karena alasan sepele. ”Kayak disuruh beli rokok tidak mau begitu, langsung ngamuk,” ujarnya.

Kemarin, proses otopsi masih berlangsung hingga petang. Pemeriksaan ini melibatkan Tim Laboratorium Forensik Polda Jatim. Kasatreskrim Polres Mojokerto Kota AKP Rizki Santoso menyampaikan, proses otopsi untuk memastikan penyebab kematian korban. ”Pihak keluarga menduga kematian ini akibat KDRT yang dilakukan suami korban,” terangnya.

Rizki menyebut, dari pemeriksaan fisik memang ditemukan sejumlah tanda menyerupai bekas kekerasan. Namun, untuk memastikan dugaan KDRT, pihaknya melakukan visum luar dan dalam. Polisi juga telah memeriksa sejumlah saksi terkait KDRT yang diduga berujung maut tersebut. ”Yang sudah kami periksa anak korban selaku saksi dan pelapor. Nanti dilengkapi dengan saksi lainnya.” tandasnya. Saat ini, pihaknya tengah melakukan pengejaran terhadap terduga pelaku SM yang dikabarkan melarikan diri. (adi/ron)

Labfor Polda Jatim Temukan Bekas Kekerasan

JETIS, Jawa Pos Radar Mojokerto – Kematian Sulangsih, 43, menyisakan duka dan tanda tanya besar. Ibu rumah tangga asal Desa Ngabar, Kecamatan Jetis, itu diduga meninggal usai berkali-kali disiksa suaminya sendiri, SM, 45. Korban disebut kerap disundut dengan gelas panas hingga ditendang di bagian ulu hati.

Rabu (22/6) malam, Sulangsih dinyatakan meninggal saat menjalani perawatan di sebuah rumah sakit di Nganjuk. Kematian ibu lima anak itu membuat sanak-saudaranya tak terima. Kemarin (23/6) pagi, jasad korban dibawa ke RSUD dr Wahidin Sudiro Husodo, Kota Mojokerto untuk diotopsi. Pihak keluarga meminta supaya kematian korban diusut polisi. Mereka yakin, penyiksaan yang dilakukan suami lah yang membuat korban meregang nyawa.

Kekerasan yang dialami itu membuat korban sakit. Sejak beberapa minggu terakhir, dia memang dirawat oleh Fiki, putri sulungnya yang tinggal di Nganjuk. Selain karena kesehatan yang memburuk, Sulangsih diboyong karena dikabarkan mengalami penyiksaan oleh SM. ”Sering dipukul, adik saya yang lebih tahu karena tinggal serumah,” kata Fajar, putra korban.

Sulangsih disebut sudah mengalami penyiksaan selama berbulan-bulan. Musa, warga Desa Ngabar menuturkan, korban sering dipukul dan ditendang di bagian perut dan ulu hati. Selain itu, SM juga diduga melakukan sejumlah penyiksaan ke korban. Seperti menyundutkan gelas kaca yang dipanasi ke bagian punggung hingga menempelkan wajah korban ke baling-baling kipas angin. ”Tulang rusuknya sampai patah, dulu katanya juga sampai tidak bisa jalan,” ungkapnya.

Baca Juga :  Hotel dan Kos-Kosan Jadi Atensi

Semenjak mengalami penyiksaan, lanjut Musa, kesehatan korban terus menurun. Dia yang dulunya sehat mulai tampak kurus. Menurut Musa, korban juga sempat dibawa berobat ke pengobatan alternatif oleh SM. Namun, di mana tempat berobat itu sama sekali tidak diketahui oleh tetangga maupun keluarga. ”Kalau cerita ke orang, katanya akan dibunuh,” imbuhnya.

- Advertisement -

Aksi kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang menimpa korban baru diketahui minggu lalu. Saat itu, kakak korban melapor ke bhabinkamtimbas setempat karena FP, 14, anak korban yang tinggal serumah sering diancam akan dibunuh oleh SM. Dalam pertemuan itu, disebut juga jika Sulangsih yang sudah diboyong ke Nganjuk kerap dianiaya.

Informasi yang dihimpun, Sulangsih merupakan janda lima anak. Di rumahnya di Desa Ngabar itu, dia tinggal bersama tiga anaknya. Dua anak tertua, Fiki dan Fajar sudah menikah dan memiliki rumah sendiri. Masing-masing di Desa Mojosarirejo, Kecamatan Kemlagi dan di Nganjuk. Sekitar tujuh bulan lalu, Sulangsih menikah dengan SM, seorang duda asal Mojoanyar, Kabupaten Mojokerto.

Baca Juga :  Polisi Endus Pengoplosan Migor Curah

Saat itu, SM sering datang ke warung milik korban untuk minum-minuman. Dari sanalah, keduanya kenal dan akhirnya memutuskan menikah. Namun, perilaku SM yang tempramen membuat korban dan anak-anaknya sering menjadi sasaran amukan. Menurut Fajar, SM sering marah-marah karena alasan sepele. ”Kayak disuruh beli rokok tidak mau begitu, langsung ngamuk,” ujarnya.

Kemarin, proses otopsi masih berlangsung hingga petang. Pemeriksaan ini melibatkan Tim Laboratorium Forensik Polda Jatim. Kasatreskrim Polres Mojokerto Kota AKP Rizki Santoso menyampaikan, proses otopsi untuk memastikan penyebab kematian korban. ”Pihak keluarga menduga kematian ini akibat KDRT yang dilakukan suami korban,” terangnya.

Rizki menyebut, dari pemeriksaan fisik memang ditemukan sejumlah tanda menyerupai bekas kekerasan. Namun, untuk memastikan dugaan KDRT, pihaknya melakukan visum luar dan dalam. Polisi juga telah memeriksa sejumlah saksi terkait KDRT yang diduga berujung maut tersebut. ”Yang sudah kami periksa anak korban selaku saksi dan pelapor. Nanti dilengkapi dengan saksi lainnya.” tandasnya. Saat ini, pihaknya tengah melakukan pengejaran terhadap terduga pelaku SM yang dikabarkan melarikan diri. (adi/ron)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/