alexametrics
30.8 C
Mojokerto
Sunday, June 26, 2022

90 Persen Transaksi Narkoba Sistem Ranjau

COD Khusus Orang Terdekat, Polisi Endus lewat Circle Pengedar
KABUPATEN, Jawa Pos Radar Mojokerto – Cara bertransaksi narkoba dengan diletakkan di tempat tertentu secara random alias diranjau mendominasi kasus peredaran narkoba di wilayah hukum Polres Mojokerto. Bahkan, 90 persen dari puluhan kasus yang terungkap sepanjang Mei-Juni dilancarkan pelaku secara diranjau.

Disinyalir, sistem transaksi narkoba tanpa tatap muka dengan pembeli itu dinilai lebih aman bagi pengedar. Kasat Resnarkoba Polres Mojokerto AKP Bambang Tri Sutrisno menerangkan, puluhan kasus peredaran narkoba yang terungkap sejak bulan lalu mayoritas dilancarkan secara ranjau. Baik peredaran narkoba jenis sabu-sabu maupun pil koplo. ’’Bisa dikatakan 90 persen kasus narkoba ini transaksinya secara diranjau,’’ ujar Kasat Resnarkoba Polres Mojokerto AKP Bambang Tri Sutrisno, kemarin.

Baca Juga :  Khoiron Muhfudzi Berhasil Olah Ketela Jadi Produk Unggulan

Menurutnya, sistem transaksi tersebut jadi pilihan pengedar lantaran dinilai bisa meminimalisir pelaku dari endusan petugas. Ketimbang bertransaksi secara cash on delivery (COD) yang dilakukan di 10 persen kasus lainnya. Artinya, para pengedar narkoba relatif memilih bertransaksi secara diranjau karena dinilai lebih aman.

’’Bagi mereka, cara ini dibilang lebih aman karena tidak tatap muka langsung. Tapi bagaimana pun juga, kami persiapkan strategi untuk bisa membongkar cara tersebut,’’ tuturnya. Dia menyebut, bagi pengedar, sistem COD hanya berlaku bagi orang terdekat dan kepercayaan pelaku. Artinya, peredaran narkoba bakal terbatas. Tak pelak, saat menyuplai barang haram bagi pelanggan baru mereka bakal memberlakukan sistem ranjau.

Baca Juga :  Tepergok Tiduri Janda, Kasun Dituntut Mundur

’’Mekanismenya, para pengedar ini kerap berganti-ganti nomor telepon saat berkomunikasi dengan pelanggan baru. Di mana pembayarannya dilakukan via transfer ke rekening pelaku tersebut,’’ urainya. Sehingga, data identitas asli pengedar narkoba tidak diketahui pasti oleh para pelanggan barunya. Itu merupakan cara bagi para pengedar meminimalisir tercatutnya mereka saat pelanggan baru dibekuk polisi.

’’Jadi mereka ini berusaha mengedarkan narkoba dengan sistem putus. Supaya jaringan yang tertangkap tidak tahu detil terkait identitasnya. Namun para pengedar ini punya circle tersendiri yang bisa kami baca,’’ tandas mantan Kapolsek Prigen itu. (vad/fen)

COD Khusus Orang Terdekat, Polisi Endus lewat Circle Pengedar
KABUPATEN, Jawa Pos Radar Mojokerto – Cara bertransaksi narkoba dengan diletakkan di tempat tertentu secara random alias diranjau mendominasi kasus peredaran narkoba di wilayah hukum Polres Mojokerto. Bahkan, 90 persen dari puluhan kasus yang terungkap sepanjang Mei-Juni dilancarkan pelaku secara diranjau.

Disinyalir, sistem transaksi narkoba tanpa tatap muka dengan pembeli itu dinilai lebih aman bagi pengedar. Kasat Resnarkoba Polres Mojokerto AKP Bambang Tri Sutrisno menerangkan, puluhan kasus peredaran narkoba yang terungkap sejak bulan lalu mayoritas dilancarkan secara ranjau. Baik peredaran narkoba jenis sabu-sabu maupun pil koplo. ’’Bisa dikatakan 90 persen kasus narkoba ini transaksinya secara diranjau,’’ ujar Kasat Resnarkoba Polres Mojokerto AKP Bambang Tri Sutrisno, kemarin.

Baca Juga :  Khoiron Muhfudzi Berhasil Olah Ketela Jadi Produk Unggulan

Menurutnya, sistem transaksi tersebut jadi pilihan pengedar lantaran dinilai bisa meminimalisir pelaku dari endusan petugas. Ketimbang bertransaksi secara cash on delivery (COD) yang dilakukan di 10 persen kasus lainnya. Artinya, para pengedar narkoba relatif memilih bertransaksi secara diranjau karena dinilai lebih aman.

’’Bagi mereka, cara ini dibilang lebih aman karena tidak tatap muka langsung. Tapi bagaimana pun juga, kami persiapkan strategi untuk bisa membongkar cara tersebut,’’ tuturnya. Dia menyebut, bagi pengedar, sistem COD hanya berlaku bagi orang terdekat dan kepercayaan pelaku. Artinya, peredaran narkoba bakal terbatas. Tak pelak, saat menyuplai barang haram bagi pelanggan baru mereka bakal memberlakukan sistem ranjau.

Baca Juga :  Kasarnya Suamiku, Gara-Gara Aku Tak Seksi Lagi

’’Mekanismenya, para pengedar ini kerap berganti-ganti nomor telepon saat berkomunikasi dengan pelanggan baru. Di mana pembayarannya dilakukan via transfer ke rekening pelaku tersebut,’’ urainya. Sehingga, data identitas asli pengedar narkoba tidak diketahui pasti oleh para pelanggan barunya. Itu merupakan cara bagi para pengedar meminimalisir tercatutnya mereka saat pelanggan baru dibekuk polisi.

’’Jadi mereka ini berusaha mengedarkan narkoba dengan sistem putus. Supaya jaringan yang tertangkap tidak tahu detil terkait identitasnya. Namun para pengedar ini punya circle tersendiri yang bisa kami baca,’’ tandas mantan Kapolsek Prigen itu. (vad/fen)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/