alexametrics
30.8 C
Mojokerto
Thursday, July 7, 2022

Kejari Ancam Jemput Paksa Saksi Dugaan Korupsi BPRS Kota yang Mangkir

KOTA, Jawa Pos Radar Mojokerto – Kejaksaan Negeri (Kejari) Kota Mojokerto sudah melakukan pemeriksaan terhadap 20 lebih saksi dalam pengusutan kasus dugaan korupsi di tubuh PT Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS) kota. Penyidik juga mengancam bakal melakukan jemput paksa terhadap saksi yang mangkir dalam pemeriksaan tindak pidana dengan nilai total kerugian Rp 50 miliar tersebut.

Kepala Kejari Kota Mojokerto, Hadiman, penyidikan dugaan korupsi di bank daerah ini terus berlangsung. Sejumlah perkembangan juga diperoleh penyidik dalam pendalaman kasus yang tengah bergulir sejak Oktober 2021. ’’Penyidik terus bekerja maraton menyelesaikan kasus dugaan korupsi dengan kerugian total Rp 50 miliar ini,’’ ungkapnya, kemarin.

Total sudah ada 20 orang saksi internal maupun eksternal dipanggil untuk dimintai keterangan. Khususnya di tiga perkara yang sudah naik ke penyidikan dengan modus window dressing atau pemolesan laporan keuangan agar tampak seolah-olah menampilkan kinerja yang baik tersebut.

Baca Juga :  Dugaan Korupsi BPRS Kota Mojokerto Terindikasi Telah Terjadi Konspirasi

Dua perkara itu masing-masing pembiayaan dengan nilai kerugian Rp 6,2 miliar dan Rp 8,9 miliar. Selain itu, juga modus pembiayaan istishna (akad pesan bangun) dengan nilai kerugian sekitar Rp 5,8 miliar sesuai hasil audit internal PT BPRS Kota Mojokerto. ’’Ketiganya itu sudah mengerucut siapa-siapa yang jadi calon tersangka. Dalam waktu dekat lah kita tetapkan. Saat ini masih kita dalami, karena ada orang-orang yang terlibat belum semua diperiksa,’’ katanya.

Belum ditetapkannya tersangka dalam beberapa pembiayaan yang tengah fokus didalami ini, disebabkan banyak saksi internal BPRS yang mangkir saat dipanggil penyidik. Keberadaan mereka masih buram lantaran banyak yang berpindah-pindah domisili setelah keluar dari bank daerah ini. ’’Sudah kita telusuri melalui BPRS. Tapi belum dapat. Kalau memang saksi-saksi ini belum saja hadir, ya kita panggil paksa,’’ tuturnya.

Baca Juga :  Mobil Masuk Sungai Bakung, Hanya Berisi Satu Orang

Artinya, lanjut Hadiman, mangkirnya para saksi justru menghambat proses penyidikan. Apalagi, penyidik sudah menemukan sejumlah alat bukti yang kuat. Di antaranya keterangan saksi dan dokumen akad dalam pengajuan pinjaman di BPRS kota Mojokerto. Di dalamnya salah satunya dokumen perpanjangan. Termasuk keterangan ahli yang tinggal dilakukan pemeriksaan. ’’Minimal dua alat bukti juga sudah kita kantongi,’’ tegasnya. (ori/ron)

KOTA, Jawa Pos Radar Mojokerto – Kejaksaan Negeri (Kejari) Kota Mojokerto sudah melakukan pemeriksaan terhadap 20 lebih saksi dalam pengusutan kasus dugaan korupsi di tubuh PT Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS) kota. Penyidik juga mengancam bakal melakukan jemput paksa terhadap saksi yang mangkir dalam pemeriksaan tindak pidana dengan nilai total kerugian Rp 50 miliar tersebut.

Kepala Kejari Kota Mojokerto, Hadiman, penyidikan dugaan korupsi di bank daerah ini terus berlangsung. Sejumlah perkembangan juga diperoleh penyidik dalam pendalaman kasus yang tengah bergulir sejak Oktober 2021. ’’Penyidik terus bekerja maraton menyelesaikan kasus dugaan korupsi dengan kerugian total Rp 50 miliar ini,’’ ungkapnya, kemarin.

Total sudah ada 20 orang saksi internal maupun eksternal dipanggil untuk dimintai keterangan. Khususnya di tiga perkara yang sudah naik ke penyidikan dengan modus window dressing atau pemolesan laporan keuangan agar tampak seolah-olah menampilkan kinerja yang baik tersebut.

Baca Juga :  Kejari Usut Dugaan Korupsi di Tubuh BUMD, Dalami Keterlibatan Pejabat BPRS

Dua perkara itu masing-masing pembiayaan dengan nilai kerugian Rp 6,2 miliar dan Rp 8,9 miliar. Selain itu, juga modus pembiayaan istishna (akad pesan bangun) dengan nilai kerugian sekitar Rp 5,8 miliar sesuai hasil audit internal PT BPRS Kota Mojokerto. ’’Ketiganya itu sudah mengerucut siapa-siapa yang jadi calon tersangka. Dalam waktu dekat lah kita tetapkan. Saat ini masih kita dalami, karena ada orang-orang yang terlibat belum semua diperiksa,’’ katanya.

Belum ditetapkannya tersangka dalam beberapa pembiayaan yang tengah fokus didalami ini, disebabkan banyak saksi internal BPRS yang mangkir saat dipanggil penyidik. Keberadaan mereka masih buram lantaran banyak yang berpindah-pindah domisili setelah keluar dari bank daerah ini. ’’Sudah kita telusuri melalui BPRS. Tapi belum dapat. Kalau memang saksi-saksi ini belum saja hadir, ya kita panggil paksa,’’ tuturnya.

Baca Juga :  Toko Diesel Mengalami Kebakaran Hebat, Ini Gambar Apinya

Artinya, lanjut Hadiman, mangkirnya para saksi justru menghambat proses penyidikan. Apalagi, penyidik sudah menemukan sejumlah alat bukti yang kuat. Di antaranya keterangan saksi dan dokumen akad dalam pengajuan pinjaman di BPRS kota Mojokerto. Di dalamnya salah satunya dokumen perpanjangan. Termasuk keterangan ahli yang tinggal dilakukan pemeriksaan. ’’Minimal dua alat bukti juga sudah kita kantongi,’’ tegasnya. (ori/ron)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/