alexametrics
24.8 C
Mojokerto
Friday, May 27, 2022

Pemasok Obat Aborsi Tak Dieksekusi

KABUPATEN, Jawa Pos Radar Mojokerto – Beruntung bagi Dianus Pionam, (DP). Meski sudah divonis 10 bulan penjara oleh hakim Pengadilan Negeri (PN) Kabupaten Mojokerto, namun pemasok obat ilegal penggugur kandungan ini masih bisa menghirup udara bebas. Ia hanya jadi tahanan kota.

Humas PN Mojokerto Dr Pandu Dewanto, SH, MH, mengatakan proses penahanan terhadap terdakwa menjadi kewenangan jaksa penuntut umum (JPU) Kejari Kabupaten Mojokerto sebagai eksekutor. ’’Sejak awal kan sudah ditahan, tahanan rumah, kapan mau dieksekusi ke lapas? Tergantung jaksanya sebagai eksekutor,’’ ungkapnya.

Jaksa sebagai eksekutor mempunyai hak untuk langsung dieksekusi atau tidak. ’’Apakah mau langsung eksekusi atau bagaimana, karena jaksa sebagai pemilik perkara,’’ tegasnya.

Disinggung soal upaya banding, Pandu menegaskan, belum tahu pasti soal itu. Sebab, biasanya dinyatakan pada detik-detik terakhir batas waktu upaya hukum. ’’Batas akhir menyatakan banding apa tidak, terdakwa atau JPU, hari Selasa (26/10) depan,’’ jelasnya.

Baca Juga :  Divonis Ringan, Tetap Melawan

Dikonfirmasi terpisah Kasi Pidum Kejaksaan Negeri Kabupaten Mojokerto Ivan Yoko Wibowo, menegaskan tidak ditahannya terdakwa Dianus Pionam ke Lembaga Pemasyarakatan Klas IIB Mojokerto, tak lain karena terdakwa diketahui tidak terima atas vonis hakim dalam sidang putusan Selasa (19/10). ’’Setelah putusan, terdakwa tidak terima dan langsung banding. Kalau terdakwa banding, kami juga banding,’’ ungkapnya.

Hemat Ivan, jika masih ada upaya hukum, namanya belum inkracht atau mempunyai kekuatan hukum tetap. Sehingga, jaksa memutuskan tak langsung melakukan penahanan terhadap terdakwa setelah hakim tingkat pertama menjatuhkan vonis. Atau, penahanan bakal menunggu inkracht dulu. ’’Ya, kan belum inkracht. Saya nunggu apakah benar dia (terdakwa) banding atau tidak, kan harus berupa akta banding,’’ tegasnya.

Baca Juga :  Tim Pemburu ''Masker'' Bergerak Siang-Malam

Sebelumnya, Hakim PN Mojokerto memvonis terdakwa terdakwa Dianus Pionam, dengan hukuman 10 bulan penjara. Vonis ini lebih ringan dua bulan dari tuntutan JPU Kejari Kabupaten. Terdakwa diyakini terbukti sebagaimana dakwaan alternatif kesatu JPU. Yakni, dengan sengaja memproduksi atau mengedarkan sediaan farmasi dan atau alat kesehatan yang tidak memiliki izin edar sebagaimana dimaksud dalam Pasal 106 ayat 1 UU RI Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan. Sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 197 juncto pasal 106 ayat 1.

Namun, vonis ini lebih ringan 2 bulan dari tuntutan jaksa. Yakni, 1 tahun penjara. Sesuai pasal, tuntutan ini juga tergolong ringan dari ancaman. Yakni maksimal 15 tahun penjara dan denda paling banyak Rp 1,5 miliar. (ori/fen)

KABUPATEN, Jawa Pos Radar Mojokerto – Beruntung bagi Dianus Pionam, (DP). Meski sudah divonis 10 bulan penjara oleh hakim Pengadilan Negeri (PN) Kabupaten Mojokerto, namun pemasok obat ilegal penggugur kandungan ini masih bisa menghirup udara bebas. Ia hanya jadi tahanan kota.

Humas PN Mojokerto Dr Pandu Dewanto, SH, MH, mengatakan proses penahanan terhadap terdakwa menjadi kewenangan jaksa penuntut umum (JPU) Kejari Kabupaten Mojokerto sebagai eksekutor. ’’Sejak awal kan sudah ditahan, tahanan rumah, kapan mau dieksekusi ke lapas? Tergantung jaksanya sebagai eksekutor,’’ ungkapnya.

Jaksa sebagai eksekutor mempunyai hak untuk langsung dieksekusi atau tidak. ’’Apakah mau langsung eksekusi atau bagaimana, karena jaksa sebagai pemilik perkara,’’ tegasnya.

Disinggung soal upaya banding, Pandu menegaskan, belum tahu pasti soal itu. Sebab, biasanya dinyatakan pada detik-detik terakhir batas waktu upaya hukum. ’’Batas akhir menyatakan banding apa tidak, terdakwa atau JPU, hari Selasa (26/10) depan,’’ jelasnya.

Baca Juga :  Penyedia Obat Aborsi Dituntut Ringan

Dikonfirmasi terpisah Kasi Pidum Kejaksaan Negeri Kabupaten Mojokerto Ivan Yoko Wibowo, menegaskan tidak ditahannya terdakwa Dianus Pionam ke Lembaga Pemasyarakatan Klas IIB Mojokerto, tak lain karena terdakwa diketahui tidak terima atas vonis hakim dalam sidang putusan Selasa (19/10). ’’Setelah putusan, terdakwa tidak terima dan langsung banding. Kalau terdakwa banding, kami juga banding,’’ ungkapnya.

Hemat Ivan, jika masih ada upaya hukum, namanya belum inkracht atau mempunyai kekuatan hukum tetap. Sehingga, jaksa memutuskan tak langsung melakukan penahanan terhadap terdakwa setelah hakim tingkat pertama menjatuhkan vonis. Atau, penahanan bakal menunggu inkracht dulu. ’’Ya, kan belum inkracht. Saya nunggu apakah benar dia (terdakwa) banding atau tidak, kan harus berupa akta banding,’’ tegasnya.

Baca Juga :  Dua Pengedar Sabu Dibekuk
- Advertisement -

Sebelumnya, Hakim PN Mojokerto memvonis terdakwa terdakwa Dianus Pionam, dengan hukuman 10 bulan penjara. Vonis ini lebih ringan dua bulan dari tuntutan JPU Kejari Kabupaten. Terdakwa diyakini terbukti sebagaimana dakwaan alternatif kesatu JPU. Yakni, dengan sengaja memproduksi atau mengedarkan sediaan farmasi dan atau alat kesehatan yang tidak memiliki izin edar sebagaimana dimaksud dalam Pasal 106 ayat 1 UU RI Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan. Sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 197 juncto pasal 106 ayat 1.

Namun, vonis ini lebih ringan 2 bulan dari tuntutan jaksa. Yakni, 1 tahun penjara. Sesuai pasal, tuntutan ini juga tergolong ringan dari ancaman. Yakni maksimal 15 tahun penjara dan denda paling banyak Rp 1,5 miliar. (ori/fen)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/