25.8 C
Mojokerto
Sunday, December 4, 2022

Tersangka Narkoba Gugat Polisi

Ajukan Praperadilan, Anggap Penangkapan Tak Prosedural

SOOKO, Jawa Pos Radar Mojokerto – DS, 34, seorang tersangka peredaran narkoba asal Kecamatan Prajuritkulon, Kota Mojokerto menggugat Polres Mojokerto Kota ke Pengadilan Negeri (PN) Mojokerto. Ia menilai, penangkapan dirinya cacat hukum dan tidak prosedural.

Gugatan tersebut ditempuh DS melalui praperadilan dengan nomor perkara 2/Pid.Pra/2022/PN Mjk. Gugatan tersebut dilayangkan ke PN Mojokerto 12 September lalu. DS menuding ada ketidakberesan dalam proses penangkapannya yang dilakukan Satresnarkoba itu. Berikut, terendus adanya kejanggalan dalam penyitaan barang bukti uang tunai Rp 3,5 juta yang tidak jelas alang mujurnya.

”Terkait sita geledah dan penetapan tersangka yang tidak sesuai hukum,” ungkap Wartiningsih, kuasa hukum DS, usai menjalani sidang di PN Mojokerto kemarin. Ari, sapaan akrab Wartiningsing menuding, penggeledahan dan penangkapan DS oleh Satresnarkoba dilakukan tanpa melibatkan saksi. Baik RT maupun RW untuk menyaksikan seluruh proses pengamanan DS dan sejumlah barang bukti yang ada.

”Tujuan penggeledahan itu apa?. Karena kalau ada barang bukti yang hilang, sudah dicatat. Kalau ada berita acara penggeledahan, ada saksinya. Karena ini tidak ada saksi yang melihatkan bisa fatal,” terangnya.

Baca Juga :  Bus PO EKA Nyemplung Kebun Jagung, Satu Penumpang Terluka

Menurutnya, kejanggalan salah satu ungkap kasus yang dilakukan Satresnarkoba Polres Mojokerto Kota itu paling kentara soal jumlah barang bukti sabu-sabu. Pasalnya, barang haram yang dikantongi DS hanya 0,28 gram. Namun, disinyalir ada penggelembungan jumlah barang bukti yang tidak sesuai prosedur hingga narkoba yang diamankan dari DS sejumlah 1,44 gram.

”Fatalnya, menurut pengakuan tersangka, ketika membaca BAP-nya ada kalimat barang bukti pertama sekian gram. Kemudian ada kalimat lagi barang bukti kedua sekian gram, sampai total keseluruhan 1,44 gram. Padahal, barang bukti dari DS cuma 0,28 gram,” ujarnya.

Menurut Ari, keterangan yang disampaikan Kapolres Mojokerto Kota AKBP Wiwit Adisatria saat konferensi pers beberapa waktu lalu tidak sesuai fakta. ” Waktu itu kapolres dalam video konferensi pers menyebutkan 1,44 gram. Itu tidak sesuai. Jadi kami menuntut agar DS dibebaskan karena proses penangkapan tidak sesuai prosedur dan cacat di mata hukum,” tambahnya.

Baca Juga :  Investasi Alkes Bodong, Rp 1 Miliar Amblas

Sementara itu, panitera sidang Edy Rahmansyah menerangkan, agenda sidang kemarin merupakan pembacaan jawaban dari pihak termohon alias Satresnarkoba Polres Mojokerto Kota. Hasilnya, kepolisian menolak dilayangkannya praperadilan tersebut. ”Pihak termohon menyatakan penanganan dan penggeledahan yang dilakukan termohon terhadap pemohon adalah sah di mata hukum. Jadi kedua pihak ini saling bertentangan,” ungkapnya.

Disinggung soal dugaan penggelembungan jumlah barang bukti narkoba yang dialami DS, Edy enggan berkomentar banyak. Sebab, sejauh ini persidangan belum mencapai tahap pokok perkara. ”Itu masuk pokok perkara ya. Kami belum bisa sampaikan itu. Kami hanya bisa sampaikan sidang secara umum saja,” sebutnya.

Dikatakannya, setiap tahapan sidang bakal memperjelas persoalan kedua pihak. Salah satunya dalam agenda sidang pembuktian. Kedua pihak bakal memperkuat bukti atas tudingannya ke pihak lain. ”Besok (hari ini) agenda sidang pembuktiannya. Kedua pihak akan membawa sejumlah bukti-buktinya. Rencananya praperadilan ini setalah tujuh hari sidang sudah harus putusan,” tandas Edy. (vad/ron)

Artikel Terkait

Most Read

Pejabat Jadi Sapi Perah

Kangen Sungkem dan Pelukan Orang Tua

Artikel Terbaru

/