alexametrics
24.8 C
Mojokerto
Friday, May 27, 2022

Cerita Terkuaknya Kebocoran Uang Suap Perizinan Tower

SIDOARJO – Bocornya aliran suap peirizinan tower senilai Rp 1,9 miliar, akhirnya terkuak saat sidang lanjutan di Pengadilan Tindak pidana Korupsi (Tipikor), Surabaya, di Sidoarjo, Senin (18/11).

Penegasan itu setelah Jaksa Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) berhasil menghadirkan mantan Wabup Malang, M. Subhan. Dalam persidangan, M. Subhan berulang-ulang menyebut dirinya sebagai seorang makelar dalam pengurusan izin tower dari PT Protelindo.

Dan, hasilnya, ia menikmati sejumlah bagian. ’’Pertama, saya ambil Rp 50 juta,’’ ungkapnya. Kali pertama mendapat aliran dana itu terjadi 25 Juni 2015 silam.

Saat itu, Subhan yang telah mendapat aliran dana sebesar Rp 2,460 miliar dari Direktur CV Sumawijaya, Suhawi, kemudian mengalirkan dana ke Mustofa Kamal Pasa senilai Rp 750 juta.

Dana ini diberikan ke Kepala Badan Pelayanan Perizinan Terpadu dan Penanaman Modal (BPTPM) Kabupaten Bambang Wahyuadi, di lingkungan Masjid Meri, Kota Mojokerto.

Di area masjid itu, kata Subhan, sudah terdapat mobil double cabin yang ditumpangi Nano Santoso Hudiarto. ’’Saya tahunya, dari Pak Bambang. Dia itu orang yang namanya Nono,’’ tambahnya.

Baca Juga :  Satpol PP Warning Warung Remang-Remang

Uang yang dibungkus dalam plastik besar itu, langsung diserahkan ke Bambang lalu dimasukkan ke mobil Nono. Namun, sehari kemudian, Subhan mendapat kontak dari Bambang.

Kata dia, uang yang diserahkan ternyata tak sesuai dengan kesepakatan awal, yakni Rp 750 juta. ’’Ternyata diakui Rp 550 juta. Padahal, saya tak membuka isi tas sama sekali dari Bank,’’ ujarnya.

Hingga kasus ini ditangani KPK, ungkap Subhan, ia masih membawa sisa uang suap itu hingga Rp 800 juta. Namun, dana tersebut sudah berbentuk aset dan ia berjanji akan menyerahkan ke KPK dalam waktu dekat.

Kebocoran uang suap juga terjadi di Direktur CV Sumawijaya Citra Abadi, Suhawi. Ia juga terendus menikmati dana sebesar Rp 570 juta. Suhawi mengaku, dana itu sebagai bentuk fee resmi atas biaya pengurusan izin.

’’Sebagai perusahaan, kami mendapat keuntungan,’’ tandasnya. Namun, ia nampak gelagapan saat hakim terus mencecarnya dengan keuntungan yang sangat besar. Kata hakim, keuntungan itu tidak rasional karena proses yang dilakukan dengan cara kotor.

Baca Juga :  Personel Bhabinkamtibmas Akan Ditambah

Saksi terakhir yang dihadirkan di meja persidangan adalah Kasi Pengembangan di BPTPM Sugondo. Ia juga mengaku pernah diperintahkan mengurus IPR (Izin Pemanfaatan Ruang) dari PT Protelindo.

Anehnya, pria yang kini menjabat Sekcam Dlanggu tersebut sempat bercerita jika dirinya sempat bertemu Nono saat menjabat Kepala Bidang Perizinan Jasa Usaha. ’’Saya diminta Nono untuk membayar Rp 100 juta. Kalau tidak mau, saya akan di-nonjob,’’ jelasnya.

Dalam sidang lanjutan kemarin, Jaksa KPK Joko Hermawan, memastikan bakal menghadirkan saksi-saksi dalam proses suap tower senilai Rp 2,750 miliar yang mengalir ke Bupati Mojokerto MKP tersebut.

Salah satunya, Nono dan Bambang. Keduanya akan diperiksa pekan depan. Usai melakukan pemeriksaan tiga saksi, majelis hakim I Wayan Sosiawan kembali menundanya pekan depan dengan agenda saksi-saksi.

 

SIDOARJO – Bocornya aliran suap peirizinan tower senilai Rp 1,9 miliar, akhirnya terkuak saat sidang lanjutan di Pengadilan Tindak pidana Korupsi (Tipikor), Surabaya, di Sidoarjo, Senin (18/11).

Penegasan itu setelah Jaksa Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) berhasil menghadirkan mantan Wabup Malang, M. Subhan. Dalam persidangan, M. Subhan berulang-ulang menyebut dirinya sebagai seorang makelar dalam pengurusan izin tower dari PT Protelindo.

Dan, hasilnya, ia menikmati sejumlah bagian. ’’Pertama, saya ambil Rp 50 juta,’’ ungkapnya. Kali pertama mendapat aliran dana itu terjadi 25 Juni 2015 silam.

Saat itu, Subhan yang telah mendapat aliran dana sebesar Rp 2,460 miliar dari Direktur CV Sumawijaya, Suhawi, kemudian mengalirkan dana ke Mustofa Kamal Pasa senilai Rp 750 juta.

- Advertisement -

Dana ini diberikan ke Kepala Badan Pelayanan Perizinan Terpadu dan Penanaman Modal (BPTPM) Kabupaten Bambang Wahyuadi, di lingkungan Masjid Meri, Kota Mojokerto.

Di area masjid itu, kata Subhan, sudah terdapat mobil double cabin yang ditumpangi Nano Santoso Hudiarto. ’’Saya tahunya, dari Pak Bambang. Dia itu orang yang namanya Nono,’’ tambahnya.

Baca Juga :  Berangkat Pengajian, Tewas Tabrak Truk Parkir

Uang yang dibungkus dalam plastik besar itu, langsung diserahkan ke Bambang lalu dimasukkan ke mobil Nono. Namun, sehari kemudian, Subhan mendapat kontak dari Bambang.

Kata dia, uang yang diserahkan ternyata tak sesuai dengan kesepakatan awal, yakni Rp 750 juta. ’’Ternyata diakui Rp 550 juta. Padahal, saya tak membuka isi tas sama sekali dari Bank,’’ ujarnya.

Hingga kasus ini ditangani KPK, ungkap Subhan, ia masih membawa sisa uang suap itu hingga Rp 800 juta. Namun, dana tersebut sudah berbentuk aset dan ia berjanji akan menyerahkan ke KPK dalam waktu dekat.

Kebocoran uang suap juga terjadi di Direktur CV Sumawijaya Citra Abadi, Suhawi. Ia juga terendus menikmati dana sebesar Rp 570 juta. Suhawi mengaku, dana itu sebagai bentuk fee resmi atas biaya pengurusan izin.

’’Sebagai perusahaan, kami mendapat keuntungan,’’ tandasnya. Namun, ia nampak gelagapan saat hakim terus mencecarnya dengan keuntungan yang sangat besar. Kata hakim, keuntungan itu tidak rasional karena proses yang dilakukan dengan cara kotor.

Baca Juga :  Pura-Pura Membesuk, Nyelinap di Empat Rumah Sakit, Sambar Tas Pasien

Saksi terakhir yang dihadirkan di meja persidangan adalah Kasi Pengembangan di BPTPM Sugondo. Ia juga mengaku pernah diperintahkan mengurus IPR (Izin Pemanfaatan Ruang) dari PT Protelindo.

Anehnya, pria yang kini menjabat Sekcam Dlanggu tersebut sempat bercerita jika dirinya sempat bertemu Nono saat menjabat Kepala Bidang Perizinan Jasa Usaha. ’’Saya diminta Nono untuk membayar Rp 100 juta. Kalau tidak mau, saya akan di-nonjob,’’ jelasnya.

Dalam sidang lanjutan kemarin, Jaksa KPK Joko Hermawan, memastikan bakal menghadirkan saksi-saksi dalam proses suap tower senilai Rp 2,750 miliar yang mengalir ke Bupati Mojokerto MKP tersebut.

Salah satunya, Nono dan Bambang. Keduanya akan diperiksa pekan depan. Usai melakukan pemeriksaan tiga saksi, majelis hakim I Wayan Sosiawan kembali menundanya pekan depan dengan agenda saksi-saksi.

 

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/